Kalea turun ke lantai dasar dengan tangan rileks namun siap menarik pistol ke belakang jika perlu.
Langkahnya hampir tak bersuara menyusuri garis-garis cahaya yang menyinari sepanjang lorong. Matanya dengan cepat mempelajari setiap ruangan yang ia lewati. Tak ada siapapun dan dia tak merasakan energi aneh. Hingga kemudian ia sampai di ujung lorong dan membuka pintu ruang santai. Masuk perlahan tanpa ekpresi mencurigakan.
Nampak Gilang dan Ravena duduk di meja makan, mengobrol bermandi cahaya sore. Keduanya seketika menoleh, menyapa Kalea saat ia mendekat. Kalea menyadari mereka tak mengenakan smartwatch, pasti belum tau kabar dari Chief.
"Tak apa aku jadi orang ketiga?" canda Kalea.
"Abaikan saja dia," balas Gilang.
Kalea berlagak membuat teh di meja dapur, sementara tangannya diam-diam mengambil pisau roti, mengantonginya.
Sembari mengaduk tehnya, Kalea merasakan energi lain di dekatnya. Seperti ada angin pelan bergerak menyetrum tubuhnya. Dia biasa merasakan itu di dekat Sabina akhir-akhir ini, tapi Sabina tidak di sini. Dia pun berbalik, membawa cangkirnya ke meja.
Kalea tetap tenang meski tau salah satu dari mereka adalah modifen. Mirage. Dia menepuk pundak Gilang, mengejutkannya.
"Kau ingat saat kita pertama bertemu?"
Gilang mengerutkan kening, tapi mengangguk. "Ya, di sini, sebelum gudang ini dijadikan Markas oleh Chief." Dia menjelaskan juga ke Ravena. "Dulu gudang ini tempat menyimpan jet atau kendaraan tak terdaftar untuk misi para Garda."
"Menarik sekali," balas Ravena.
Kalea mengangguk, tersenyum, kemudian tanpa basa-basi menyiram teh panas di cangkirnya ke Ravena.
Seketika terjadi kegaduhan. Gilang melonjak berdiri, melotot maksimal, sementara Ravena menjerit memegangi wajahnya yang memerah. Dengan tetap tenang Kalea menerjang Ravena ke dinding, menahan lehernya tanpa mendengar protes yang ia lontarkan.
"Ka, ada apa?!" sentak Gilang.
"Bagaimana kau masuk kemari?!" tanya Kalea, menghantam kepala Ravena ke dinding.
"Ka!" Gilang masih bingung.
"Aku tak mengerti!" balas Ravena. "Lepaskan aku!"
"Siapa saja yang tau lokasi Markas? Di mana Ravena sungguhan?"
"Apa sih? Menyingkir dariku, Ka!"
Kalea mengangguk, tetap menahan Ravena ke dinding. Kemudian ia tanpa ragu ia menarik pisau dari sakunya lalu menusukkannya ke sisi leher Ravena. Seketika Gilang menerjang, menarik tangan Kalea, tapi pisau menancap.
Di saat itu tangan Gilang melemas seiring Ravena jatuh ke lantai, tak bergerak dengan mata setengah terbuka. Kemudian ia tak percaya matanya sendiri. Rambut Ravena berganti dari coklat terang menjadi hitam, diikuti wajahnya menirus serta bagian wajah lainnya berubah menjadi wajah lain.
Belum selesai memproses, yang ia lihat tergeletak di lantai bukanlah Ravena lagi, tapi wanita bermata keemasan itu. Dia tergeletak kaku menghadap lantai, tak berdarah sedikitpun meski pisau menancap di lehernya. Kemudian Gilang dan Kalea mundur sedikit saat tubuh di lantai perlahan rapuh menjadi abu, seperti retak sedikit demi sedikit hingga habis menyisakan abu di lantai.
Kalea menoleh ke Gilang yang syok, masih menahan lengan Kalea. "Kau tak apa?"
Gilang melepaskannya lalu menjauh, mengusap wajahnya sambil mengomel pelan. Lalu ia berjongkok di lantai sejenak, menenangkan napasnya yang tidak karuan. Kalea mendadak merasa tindakannya tadi terlalu ekstrem dan mengusap canggung pundak Gilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA 2 - The Series
Action(BOOK 3 & 4) Kasus demi kasus menuntun Garda pada musuh tak terduga. Sekali lagi Edsel bermain dengan bahaya setelah menculik empat modifen terkuat dari Tarhunt. Bahaya kali ini mungkin saja membahayakan alam semesta juga. Ditambah, Rafa mulai memi...
