The Broadcast

1.4K 415 43
                                        

Di hari yang sama Chief menugaskan Garda mencari Transcaptor. Dua tim dikerahkan, tim yang dipimpin Gilang menyisir lokasi via darat sementara Kalea membawa tim via udara.

Namun, belum satu jam mengudara Kalea sudah mendapat kabar dari Marsekal Suganda. Tercatat beberapa jet pribadi tanpa izin meninggalkan bandara Halim. Semua bermuatan mesin tak dikenal yang diduga pesanan Rajasa Corp beberapa hari lalu. Kalea membiarkan Dirgantara 1 dalam mode pilot otomatis sementara ia bicara dengan hologram beliau.

"Bagaimana dengan muatan itu, Pak?" tanya Kalea dari kokpit. "Ada kemungkinan semua palsu?"

"Sudah dipastikan asli. Beberapa pakar dari DEKARSA datang kemari untuk memastikan. Saat ini barang sedang ditangani."

Chief membalas dari markas. "Bapak perlu bantuan kami?"

"Biar pihak kami yang mengurus. Saya harap berita ini tidak tersebar."

"Apa ada petunjuk soal keberadaan Transcaptor?"

Di saat bersamaan dengan pertanyaan Chief, Kalea menerima pesan dari nomor tak dikenal di smartwatch. Pesannya singkat tapi membuat degup jantungnya seakan berhenti sesaat.

Transcaptor dibatalkan. Pulanglah.

Biasanya pesan-pesan seperti ini berasal dari Zara. Namun, sistem smartwatch Kalea bahkan tidak mampu mendekripsi pengirim yang ini.

Kalea mengerjap mendengar Chief memanggilnya beberapa kali. Dia baru sadar sambungan dengan Marsekal Suganda sudah putus.

"Ya, Chief, ada apa?"

"Kembalilah ke Markas. Akan kukabari jika ada perkembangan."

"Chief, apa mungkin Transcaptor dilucuti dan semua bagiannya dikirim kembali ke asalnya?"

Chief diam sejenak. "Kenapa bertanya begitu?"

"Um, iseng saja."

"Untuk sekarang aku tak tau pasti. Bisa saja ini hanya pengalihan. Nanti kukabari. Jangan lupa makan siang, Guys."

Kalea bersandar ke jok, membaca pesan tadi sekali lagi. Menurutnya semua ini berkaitan. Dia memutar otak mencari apa yang mungkin sedang terjadi. Lalu ia mencoba membalas pesan tadi tapi saat ia cek kembali, pesannya sudah tidak ada.

Kalea menghela napas. "Fa, apa lagi yang kau lakukan?"

Setelah tak kunjung menemukan jawaban di kepalanya, dia membuka pintu kokpit memasuki kabin. Hanya ada Sabina dan Jemy mengisi kursi-kursi yang berbaris di dinding kabin. Jemy duduk memangku Katana miliknya yang masih dibungkus sarung hitam. Sementara Sabina menatap Kalea sejak tadi.

"Hai." Kalea duduk di sebelahnya. "Ada apa, Bina?"

"Itu benar."

"Apanya?"

"Transcaptor sudah terpecah belah. Rafa yang memerintahkan pengembaliannya." Sabina diam sejenak menatap lantai besi. "Dan dia akan butuh bantuan."

"Bagaimana kau tau?"

"Entahlah. Ketika kau sedang bertelepon tadi... aku mendadak tau."

Kalea mengangguk pelan. "Oke."

"Apa itu buruk bahwa aku tau? Kita ribuan kaki di atas permukaan. Seharusnya aku tak bisa mendengar pikiran atau perasaan siapapun kecuali kalian berdua."

"Bina, tak apa. Tak ada yang buruk soal itu."

"Kau yakin tak ada yang salah denganku?"

"Mungkin kau menjadi lebih peka." Kalea mengusap punggung Sabina. "Gilang bilang kemampuan modifen bisa berkembang seiring waktu. Seperti naik level."

GARDA 2 - The SeriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang