Kubah perisai melemah. Lembaran bercahaya itu terkelupas, berjatuhan ke rumput, membuat apapun bisa masuk ke kawasan institut.
Bukannya bergegas, Kanselir malah membuka lemari besi di mejanya. "Duluan, Kalea, ada yang perlu kulakukan."
Dia bergegas bersama Crystal. Di lorong dan kelas-kelas terjadi kepanikan. Modfien muda berlarian, teriakan bersahutan. Modifen senior mengarahkan mereka ke tempat aman. Sebagian bergabung dengan para pengajar menuju sumber kekacauan. Siap dengan kemampuan masing-masing.
Mereka terlatih untuk kondisi ini.
Crystal menjerit setiap mendengar tembakan di luar. Kalea pun melindunginya di balik punggung. Dia melihat akar tebal merambat masuk jendela-jendela kelas, bergerak di antara kaki-kaki meja lalu memagari pintu.
Seorang murid mengendalikan akar itu. Kalea memasukkan Crystal ke sana, berlindung bersama yang lainnya.
"Kak, mereka punya benda itu! Aku melihatnya. Kami tak akan bisa melawan!"
"Oh. Distrupsi. Bagus." Kalea pun menyampaikannya ke comms.
Wush! Benda berasap masuk dari jendela. Kalea melemparnya kembali keluar. Ledakan terjadi di luar, menggetarkan dinding dan jendela hingga rontok. Terlihat seorang modifen telekinesis, ia menahan rontokan kaca dari murid-murid.
"Hai." Kalea meraihnya. "Bom asap akan terus berdatangan. Bisa tangkis semuanya?"
"Tentu."
Kalea menemukan seorang ilusionis. Dengan sentuhannya, pintu ruang arsip menjadi serupa dinding lainnya. Semua Modifinus ada di sana. Kalea pun menghampirinya, memintanya membuat ilusi pintu ruang arsip di lima tempat lain.
Dia raih modifen senior. "Bisa bentuk tim dan jaga pintu-pintu ilusi itu? Buat seakan menjaga ruang arsip." Meski bingung, anak itu mengangguk.
Kalea bergegas sembunyi di balik dinding saat derap sepatu bot mendekat. Sangat tau pasukan siapa itu.
Hap! Dia tangkap leher senapan lalu menghantam leher pria itu dengan siku. Keras, terdengar patahan. Lalu ia tendang senapan lain, menjedukkan orangnya ke jendela sampai kaca pecah.
Dia merunduk, peluru berjarum melewati kerudungnya. Dia melesat di lantai menyelengkat dua penjaga. Berdiri, meninju penjaga di depan lalu menendang ke belakang. Kalea angkat rak pajangan setinggi dada, melemparnya, kedua penjaga pun pingsan tertimpa.
Terlihat belasan modifen di lorong, mengejang oleh setrum dari jarum putih di badan mereka. Kalea hendak menolong, tapi Kaselir berlari dari ruangannya, memanggil. Dia menunjukkan pistol putih kecil berujung jarum.
"Apa itu?"
Kanselir memicing. "Kau mempercayaiku?"
"Um... tidak."
Tanpa izin ia menarik tangan Kalea, menusukkan microchip berujung jarum ke pergelangan tangannya. Kalea menjerit sekali, menatap ngeri lempengan kecil itu tenggelam di kulitnya. Menyisakan sedikit bercak perak, hampir tanpa luka.
Kanselir bicara secepat rapp. "Ini Mesoprobe, alat pelacak buatan... um, seseorang. Kau bisa berteleportasi mengikuti Vaultor dan mengetahui rencana mereka. Tembak Vaultor dengan microchip di pistol ini, itu lebih mudah daripada menusukkannya. Usahakan ia tak menyadarinya."
"Tak bisakah jelaskan itu sebelum menusukku?"
"Maaf. Biar cepat."
"Jadi aku bisa berteleportasi mengikutinya?"
"Teorinya sih gitu. Pergilah, akan kuurus yang di sini."
Kalea bergegas, melompati pembatas tangga. Mendarat berlutut di lantai satu, bergabung dengan kekacauan. Pasukan menerobos bersama senjata distrupsi.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA 2 - The Series
Acción(BOOK 3 & 4) Kasus demi kasus menuntun Garda pada musuh tak terduga. Sekali lagi Edsel bermain dengan bahaya setelah menculik empat modifen terkuat dari Tarhunt. Bahaya kali ini mungkin saja membahayakan alam semesta juga. Ditambah, Rafa mulai memi...
