|| teori apa itu? ||

890 46 11
                                        

"Iya dong pak, ceritakan tentang dunia pararel saja."

"Materi baru mau bapak sampaikan, semua harus belajar!"

"Yah!" Semua murid di kelas langsung lemas, seolah disuntik imun yang membuat tubuh menggigil tanpa sebab. Semangat perlahan surut, wajah-wajah menunduk seperti bunga yang kehabisan matahari. Suasana beku, waktu berjalan malas, dan udara kapur melayang di antara keluhan yang tertahan.

"Tapi pak, apa bapak percaya kalau matematika itu sebenarnya hanya sebuah hitungan yang bisa berubah tergantung di alam semesta mana angka tersebut dihitung. Apa bapak tahu siapa itu Max Tegmark?"

Semua mata memandang — cahaya tatapan mereka seperti lampu sorot yang menelanjangiku di panggung penonton. Aku membeku di atas kursi kayu panas itu, tak tahu harus bernafas atau diam saja. Di kelas ini, aku dikenal sebagai murid pendiam — tapi diam pun kadang menjerit dalam kepala.

Meski pendiam, aku juga punya suara. Dan suara itu memberontak setiap kali jam terakhir tiba. Belajar di ujung hari adalah kutukan kecil yang membuat darahku mendidih pelan-pelan; sumpah serapah berkecamuk dalam hati, berbaris seperti angka-angka tak terpecahkan di papan tulis yang mulai pudar.

"Max Tegmark itu ilmuwan, lantas ada apa, Van?" tanya guruku, nada suaranya seperti kapur yang baru digoreskan di papan—tajam tapi lembut, penuh rasa ingin tahu.

Aku agak canggung sih kalau situasinya sudah seperti ini. Suasana kelas tiba-tiba jadi senyap, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan seperti menghitung detik menuju rasa malu berikutnya. Teman-temanku yang duduk di belakang, di samping kiri-kanan, bahkan yang di depan pun mulai memberi isyarat halus — kedipan mata, anggukan kecil, atau senyum licik — semacam semangat tak tertulis agar aku terus bicara. Harapannya sederhana: kalau aku bisa membuat guru terus berdiskusi, maka pelajaran hari ini bisa diselamatkan dari kejenuhan.

"Betul, pak. Hm... maksud saya di sini adalah, jika rumus saja hanya sebuah garis finish menuju kepastian, apa bedanya dengan banyak rumus yang bisa ditemui melalui logika, pak?"

Guru itu tersenyum tipis, seperti sedang mengingat masa mudanya yang juga keras kepala pada dunia angka. "Tergantung, kamu, kalian, itu bisa tidak berpikir luas, dan bisa tidak kalian itu menemukan banyak cara untuk menyelesaikan persoalannya. Kalau kalian mampu, ya... kalian bisa menemukan rumus baru untuk penyelesaian soal sesuai tingkat kesulitan masing-masing. Kalau tidak bisa juga, yah, kembali lagi pada teori umum yang sudah menjadi rumus umum bagi pelajar seperti kalian-kalian ini. Kok kamu bisa berpikir teori dari mas Max Tegmark, Van?"

Kelas terdiam lagi. Aku menatap papan tulis — di sana rumus-rumus tampak seperti galaksi yang berputar, angka-angka yang mungkin saja hidup di alam semesta lain, di mana dua tambah dua tidak harus selalu empat.

Bukan cuma aku yang tertawa, teman-teman sekelasku pun ikut tergelak. Lucu rasanya mendengar guru kami menyebut nama Max Tegmark dengan sapaan "mas". Seolah ilmuwan kosmologi itu hanya tetangga depan rumah yang kerap dipinjamkan sendok gula. Ingin rasanya menggeleng, tapi tatapan guru kami itu masih saja menancap padaku, tajam tapi jenaka. Aku jadi bingung — harus menjawab apa lagi?

Di sisi lain, aku sudah cukup puas dengan kesepakatan tak tertulis ini: kesepakatan basa-basi agar waktu pelajaran perlahan terbuang, menit demi menit larut dalam obrolan yang seolah penting tapi sebenarnya hanya tipu daya kami agar terhindar dari rumus dan tugas.

"Memang bapak kenal dekat dengan si mas Tegmark itu, pak?" ucap temanku yang duduk di pojok dekat jendela, persis di depan meja guru.

"Lumayan," balas guru kami itu, sambil terkekeh. "Sudah-sudah! Ayo belajar!"

"Pak! Itu si Vanya masih mau bertanya, tetapi tidak terdengar, pak!"

Aku langsung menoleh pada sumber suara. Seorang pria dengan senyum jail sedang menatapku — Jeffri. Ia memang tak pernah kehilangan kesempatan untuk menggoda, bahkan di tengah kebosanan yang menggantung di udara kelas seperti kabut kapur. Aku mendelik padanya, sementara dia hanya terkekeh pelan, puas dengan keusilannya.

PARALLEL UNIVERSES Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang