Langit malam gelap dipenuhi titik-titik kecil yang hampir mirip seperti bentuk kotak terpampang jelas diatas langit. Perasaaan khawatir, takut, dan cemas di adu menjadi satu di dalam sebuah tudung hati.
Berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir untuk dia merasakan oksigen bumiㅡhari terakhir menikmati rumput halus yang tersebar di dataran taman.
Meskipun langit malam begitu indah, seorang gadis yang masih harus menyuntikkan obat ke dalam tubuhnya itu masih beraut murung karena merasa hidupnya sudah tidak lagi berguna.
Meskipun obat baru telah di ditemukan, Vanya tetap enggan bertemu dengan Archer setelah dia mengatakan kata terimakasih di dalam laboratorium sains.
Ketika kedua langkah kakinya membuat bunyi gema disekitar jalanan lorong menuju kamar, pria itu muncul berdiri di depan pintu kamar nya.
"Abis dari luar, ya?"
Vanya mengangguk. "Udah malam, jangan ke sini"
"Aku khawatir, takutnya kamu kenapa-kenapa"
"Obatnya buat aku sembuh, jadi gak perlu khawatir"
Mengingat pernyataan Archer tempo lalu, membuat Vanya mengingat sebuah tragedi yang tidak bisa disebut sebagai sebuah tragedi karena sudah disetujui oleh kedua pihak yang mau melakukannya. Rasa bersalah semakin menjadi-jadi, apakah tempo lalu merupakan sebuah jawaban untuk pernyataan yang Archer berikan padanya?
"Yaudah, silahkan tidur. Malam, Van"
Vanya mengangguk lalu menatap kosong kepada dua langkah kaki milik Archer yang lama-lama menjauh dengan bunyi gema menyeluruh di setiap sudut lorong. "Archer!"
Archer berhenti melangkah, berbalik badan untuk melihat Vanya, tapi tiba-tiba ada dua tangan yang melingkar diperutnya. Archer tersenyum. "Kenapa?"
"Soal tempo lalu, kenapaㅡ" Vanya menangis.
"Tempo laluㅡmaaf ya, tiba-tiba aku melakukannya tanpa dipikir dulu. Entahlah, aku juga bingung kenapa aku bisa ngelakuin itu. Maaf, Van"
Archer menunduk ketika merasakan Vanya menggelengkan kepalanya. "Aku juga merespon kamu, tapi semua itu bukan jawaban" Lalu Vanya melepas pelukannya. "Untuk tempo lalu, memang seharusnya kita gak melakukannya, tapi yang aku sesali adalah kamu"
Archer berbalik badan. "Malam, Van" Archer menepuk pelan pucuk kepala milik Vanya dengan senyuman, lalu pergi meninggalkan gadis itu sendirian di lorong gelap.
Vanya berbalik badan lalu melangkahkan kedua kakinya menuju kamarnya. Sampai di dalam sana, Vanya menangis sekeras mungkin. Alat peredup suara pun ia aktifkan agar dia bisa menangis sepuasnya.
Rasa ingin menjauh, tapi rasa ingin lebih dekat menyatu menjadi satu. Kebingungan, hingga hati menjanggal penuh di dalam sanaㅡkebingungan dan ancaman bahaya pada otak datang secara bersamaan. Fisik pun ikut melemah hingga kedua lutut lemas rasanya.
Lebih baik menjadi diri sendiri agar kita bisa terhubung dengan pikiran yang logis, bagai bintang tanpa bulan yang tidak dapat menjadi satu kesatuan istimewa di dalam pandangan para umat manusia.
Disisi lain Archer berdiam diri di depan sebuah manusia buatan yang berwajah sama dengan gadis yang ia puja-puja. Rasanya berbeda dengan Vanya yang sebenarnya, manusia buatan ini tidak memiliki memori dan sifat yang Vanya miliki, dia hanya bergerak sesuai arahan Archer dan kepala departemen sains saat pertempuran tiba nanti.
Meskipun begitu, apakah manusia buatan itu mampu dijadikan pelampiasan seorang pria yang telah memberikan sepenuh hidupnya pada seorang wanita yang sekarang telah menolak kehadirannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Science Fiction( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
