( TAMAT )
LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat).
Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
GN-z11Pumi ㅡ Bumi 13,4 miliar tahun cahaya dari Bumi. Kesamaan, namun terdapat perbedaan.
Welcome, Mata-mata pemuda z11 • • •
Aku, Rio.
Suara pengumuman itu menggema di ruang komando seperti denting lonceng yang memanggil orang-orang untuk berbaris. Bibir perangkat penerjemahku berkedip-kedip, lalu memuntahkan satu kalimat yang membuat jantungku serentak berdetak lebih cepat.
"Terakhir, galaksi Bima sakti yang terkenal dengan kehidupan nya yang beragam juga kemajuan nya yang unik. Persiapkan diri dan kirim mata-mata pemuda menuju galaksi Bima sakti!"
Baru saja aku sadar, aku sedang dikirim—ditunjuk oleh pusat militer—untuk menjadi mata-mata di sebuah dunia yang namanya baru saja kutahu: Bumi. Dari sekian banyak planet yang pernah kusebut dengan nama, Bumi mereka tampak serupa dengan Pumi kami. Hanya beda satu huruf di depan, namun cukup membuat dua dunia itu tidak harus saling asing.
Selain perbedaan satu huruf dan persamaan tiga kata, Galaksi Bima Sakti telah lama menjadi bahan perbincangan di Pumi kami—sebuah topik hangat dalam teori-teori para ilmuwan ternama yang tak pernah bosan menelisik kemiripannya dengan dunia lain.
"Pumi dan Bumi—tepatnya di galaksi Bima Sakti—memiliki ciri-ciri yang hampir keseluruhannya sama dengan GN. Kita bisa menemukan wajah kita di sana, namun kita tak bisa menganggap mereka sebagai kakak atau adik kembar kita. Berpikirlah secara rasional, sebab kesamaan pun menyimpan perbedaan. Engkau mungkin pemarah di dunia ini, namun di dunia itu, engkau bisa saja lemah lembut."
Ucapan itu dulu hanya kuterima sebagai teori—hingga akhirnya aku melihatnya sendiri. Aku menyetujui kata-kata ilmuwan itu tanpa ragu. Di Bumi, setiap bangunan, arah jalan, bahkan beberapa orang yang kutemui terasa akrab, seolah aku pernah bertemu mereka dalam mimpi panjang di antara bintang-bintang. Kadang mereka bersikap serupa, kadang benar-benar berbeda.
Menakjubkan. Planet di ujung jarak ruang yang jauh itu bukan sekadar bayangan dari dunia kami—ia seperti cermin yang memantulkan versi lain dari kenyataan, sempurna dalam caranya yang asing namun akrab.
Sebagai pasukan tempur pemuda, tugas pembuka yang kami terima selalu melucuti kenyamanan: membunuh seseorang yang wajahnya serupa dengan kami. Misi keduanya lebih sunyi tapi sama beratnya—berpura-pura menjadi orang itu, menempati hidupnya, menelan rutinnya, bermain peran sampai benak kita benar-benar terasa berkerak oleh kebiasaan yang bukan milik kita. Hidup bersama mereka, bersama orang tua di rumah, teman, lingkungan — seolah-olah tak pernah ada pesawat perang atau bom yang memecah malam.
Di Pumi, aku pernah menjadi barisan pemuda yang berjasa — hancurkan penjajahan makhluk asing, berdiri di puing-puing kemenangan. Di Bumi, aku hanya murid baru; namaku dicurigai, langkahku diawasi. Bahasa mereka? Luwes. Ada bahasa gaul yang berceletuk seperti pegas, bahasa internasional yang resmi, dan bahasa sehari-hari yang sopan di telinga. Sempurna—seperti sandaran palsu yang cepat membuatmu percaya pada kenyataan sementara.