Kedua tangan Rio sibuk menyiapkan pagi dengan caranya sendiri. Ia mengangkat teko, lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi bubuk kopi hitam. Uap tipis menari di udara, menempel di wajahnya yang masih diselimuti kantuk. Ia aduk perlahan, meniup permukaan kopi itu, lalu meneguknya dengan hati-hati. Pahit yang menyalakan kesadaran.
Setelah cangkir itu kosong, pandangan Rio mengembara ke ruang tamu. Ia membayangkan wajah kedua orangtua Buminya—terperangah melihat "Jeffri" kini rajin bangun pagi. Senyum tipis muncul di bibirnya. Ia lalu menulis secarik catatan kecil, menaruhnya di atas meja makan: "Aku berangkat dulu ke sekolah." Ia sengaja menulisnya agar tak perlu membangunkan mereka.
Keluar dari rumah, Rio berhenti di teras. Ia duduk di anak tangga, meraih sepasang sepatu yang tergeletak di sisi pintu. Tangannya sigap mengikat tali sepatu, gerakannya rapi dan cepat—seolah kebiasaan itu sudah melekat sejak lama.
Begitu berdiri, langkahnya tertuju pada rumah di seberang jalan. Rumah milik Vanya. Lampu terasnya masih menyala redup, seperti sepasang mata yang belum rela terpejam. Rio menatapnya sejenak, ada sesuatu yang ia tahan di dada, sebelum akhirnya kembali berjalan menjauh dari sana.
Pukul lima pagi. Udara masih berembun, dan napasnya beruap tipis.
Tujuannya bukan sekadar sekolah—ada misi baru dari pusat. Ia harus mempelajari seberapa banyak manusia yang terjaga di jam segelap ini. Dan ternyata, bumi tak pernah benar-benar tidur. Di kejauhan, deru mesin dan lampu kendaraan berjejal; jalanan sudah mulai padat, seolah seluruh dunia tengah berlomba mengejar waktu.
Tiap rumah, ruko, dan toko mulai menggeliat menyambut pagi. Deru kehidupan perlahan tumbuh dari balik tirai embun yang masih menggantung di udara. Orang-orang bergegas, menyiapkan diri menyambut jam produktif yang sebentar lagi mengetuk.
Rio sempat tertegun ketika melihat seorang kakek lewat di depannya, mendorong gerobak kayu yang sarat dengan sayuran dan buah-buahan segar. "Sepagi ini mereka sudah bekerja?" gumamnya heran. Di Pumi, kehidupan baru benar-benar dimulai pukul delapan — kecuali bagi pasukan militer atau tenaga sipil. Semuanya diatur oleh hukum; waktu di sana bukan milik pribadi, melainkan bagian dari disiplin bersama.
Ketika jarum jam menunjuk pukul enam tepat, Rio mendapati dirinya telah berdiri di depan gerbang sekolah. Matanya berkedip pelan, menatap gedung itu seolah tengah membaca masa depan yang belum ia pahami. Ia melangkah masuk, melewati lorong-lorong yang masih lengang. Udara pagi berhembus lembut, membawa aroma serbuk kapur dan lantai yang baru dipel.
Kelasnya berada di ujung, jauh dari hiruk pikuk. Hanya tiga murid yang sudah datang — wajah-wajah rajin yang menatap dunia dengan semangat yang belum lelah. Dua puluh menit lagi, bel pertama akan menggema, memecah keheningan sekolah yang masih mengantuk.
Rio menatap sekeliling, lalu menyalakan sinyal sinusoid di pergelangan nadi tangannya — sebuah pesan diam yang dikirim menuju pusat penghiburan. Di organisasi mereka, setiap pusat memiliki peran masing-masing: ada yang bertugas memantau, ada yang menghibur, ada yang menjaga moral prajurit agar tidak runtuh. Sinyal itu seperti pelukan dari jauh, pengingat bahwa ia tidak sendiri di planet asing ini — bahwa setiap langkah misinya masih memiliki tujuan, sekecil apa pun.
"Aku mau Bruschetta." Sinyal terkirim. Portal pun terbuka—dan hanya Rio yang dapat melihatnya. Kenapa bisa? Itu semua berkat teknologi. Kecuali portal menuju galaksi lain, yang memerlukan muatan atom sangat besar. Semua anggota misi menggunakan kacamata khusus berbentuk lensa untuk mengaksesnya.
Bruschetta tiba-tiba muncul di atas meja. Rio baru saja hendak mengambilnya, tapi seorang gadis datang dan langsung memakan sebagian tanpa ragu. "Enak banget! Kapan beli? Di mana? Kelihatannya mahal. Kamu nggak nyolong uang ibu kamu, kan, Jef?"
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Science Fiction( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
