|| GNP sampai ke PI ||

194 30 9
                                        

Semuanya tampak baik-baik saja. Mereka menjalani hari dengan tenang, tak sekalipun menyinggung siapa mereka sesungguhnya. Bahkan Rio kini bersekolah—berjalan di antara koridor yang dipenuhi tawa remaja, duduk di bangku yang berderit setiap kali ia mengubah posisi, dan menatap papan tulis seolah dunia ini miliknya juga.

Padahal, sejatinya Rio tak pernah mencicipi bangku sekolah. Ia hanyalah prajurit dari dunia asing, yang belajar membaca bintang sebelum huruf, dan menafsir peta perang sebelum puisi.

Beruntung, Rio menyukai petualangan dan buku-buku yang menemaninya di setiap perjalanan sunyi. Dari sanalah ia belajar menjadi manusia—menyerap pengetahuan bukan dari guru, melainkan dari halaman-halaman yang tak menuntut asal-usulnya.

Sekolah militer adalah rumah pertamanya. Di sanalah ia belajar disiplin dan ketegaran; bagaimana menahan lapar, bagaimana tidak rindu, dan bagaimana menatap kematian tanpa menunduk. Kini, di sekolah ini—di Bumi—ia belajar hal yang lebih rumit: bagaimana menjadi seorang anak biasa.

Kali pertama ini, Rio belajar banyak hal dari Vanya. Ia duduk di bangkunya dengan tubuh tegak dan mata yang menyala—seakan setiap kata dari guru adalah kode rahasia dari semesta yang harus segera ia pecahkan. Semangat belajarnya menular, membuat kelas seolah hidup di bawah sinar antusiasmenya.

Vanya yang semula hanya memperhatikan sekilas, kini menatapnya lebih lama. Ada sesuatu yang berbeda pada lelaki itu—tatapannya lebih tajam, geraknya lebih tenang, bahkan caranya memegang pena seolah baru pertama kali mengenal benda itu. "Mungkin Jeffri memang mau berubah kali, ya?" batin Vanya, mencoba menepis gelisah yang tak tahu arah.

"Kalau yang ini? Gimana cara ngerjainnya, Na—eh, Van?" Rio menunjuk soal nomor lima, tentang disposable income yang memenuhi lembar latihan mereka.

Vanya mengernyit ringan, mencondongkan tubuhnya untuk menjelaskan. Tapi Rio sudah kehilangan fokus—matanya menatap kosong ke arah jendela, di mana sinyal samar dari pusat mulai berkedip di sudut pandangannya. Sebuah panggilan tugas. Misi pemantauan harus dilanjutkan, bahkan ketika ia baru saja mulai memahami arti "belajar" di dunia ini.

"Pertama kamu cari GNP-nya dulu. Tapi karena GNP-nya udah ada, kamu lanjut saja hitung ke NNP-nya," jelas Vanya sambil mengetuk-ngetuk pena di atas buku Rio, nada suaranya ringan tapi tegas seperti guru yang sabar. Ujung penanya menari di atas angka-angka yang sudah mulai berantakan oleh goresan pensil. "Tahu rumusnya?"

Rio menggeleng pelan. Tatapannya lurus ke arah kertas, tapi pikirannya separuh melayang ke sinyal samar dari pusat yang masih terasa bergetar di dasar tengkuknya.

Vanya menarik napas, lalu mendekat. Ia menggeser buku itu sedikit, jarak di antara mereka menipis. Aroma sabun bunga dari rambut gadis itu sempat tercium samar. "Begini," ujarnya, suaranya menurun setengah nada. "Rumus NNP itu GNP dikurang penyusutan. Nah, sekarang, GNP sama penyusutan-nya kamu cari sendiri, Jef."

Rio menatap tulisan di kertas itu dengan dahi berkerut. "GNP tuh gross domestic product, 'kan?" tanyanya ragu. Ia menatap soal itu lama, mencari kepanjangan singkatan di antara barisan angka. Tapi semua soal ditulis dalam bentuk penuh—seolah dunia ini sengaja ingin menguji kesabarannya yang pendek.

Vanya tertawa kecil, lembut tapi cukup membuat suasana terasa lebih hangat. "Bukan, gross national product," katanya, memperbaiki sambil menatap mata Rio. "Yang 'domestic' itu GDP."

Rio terdiam sejenak. Ia ingin menanyakan lebih lanjut, tapi justru terpaku pada pantulan cahaya di bola mata Vanya—hangat, hidup, dan terasa sangat bumi. Sesuatu yang di Pumi tak pernah ia temukan.

"Penyusutan-nya gak ada, adanya penyusutan barang modal," seru Rio, masih menatap lekat pada buku di hadapannya, seolah setiap kata di soal itu bisa berubah bentuk kapan saja.

PARALLEL UNIVERSES Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang