"Kemungkinan besok Rio pindah ke markasnya, Van."
"Hah? Kenapa?"
"Itu kemungkinan yang terjadi, cuma feeling."
"Besok aku ke rumahnya, boleh?"
Archer terdiam sejenak. Ada sesuatu yang menusuk halus di dadanya setiap kali gadis itu menyebut nama Rio. Ia tak tahu kenapa—antara kesal, cemburu, atau sekadar takut kehilangan arah. Namun, seperti biasa, senyum lembut menutupi gejolak itu. "Boleh," ujarnya akhirnya.
xxxxx
Keesokan harinya, langit tampak redup, seolah ikut menyembunyikan rahasia dunia yang mulai runtuh. Vanya berdiri di depan rumah Jeffri, mengetuk pintu berulang kali.
"Jeffri!" teriaknya, tapi tak ada jawaban.
Archer berdiri di belakangnya, kedua tangan terlipat di dada. Ada sesuatu dalam tatapannya—campuran tenang dan rasa ingin tahu yang berbahaya. Entah mengapa, ia merasa ingin tahu apa yang akan mereka temukan di dalam sana.
Vanya mencoba memutar gagang pintu. Tak terkunci. Ia menatap Archer sejenak, lalu mendorongnya perlahan. Begitu pintu terbuka, hawa dingin menyergap, dan pandangan mereka disambut oleh kekacauan—furnitur terbalik, kaca pecah, dan dinding yang tampak seperti baru saja dihantam amarah.
Tanpa pikir panjang, Vanya berlari ke lantai atas. Pintu kamar Jeffri pun tak dikunci. Dan di baliknya... hanya kehancuran. Di tengah kamar yang berantakan, terbujur seorang wanita tanpa busana, tubuhnya membeku dalam posisi yang menyedihkan.
Vanya menjerit kecil, tubuhnya kaku menatap pemandangan itu. Tapi sebelum pikirannya sempat mencerna, Archer sudah menariknya menjauh.
"Pumi itu kejam, tapi disiplin," katanya datar, suaranya menembus keheningan seperti bilah pisau. "Di sana gak ada aturan—malahan dijadikan kebiasaan. Kalau kamu lihat perempuan tanpa pakaian, berarti dia udah dipakai. Satu lagi—"
Archer berhenti melangkah sejenak, menatap wajah Vanya yang mulai pucat. "Kalau kamu takut, jangan dibayangin terus."
Vanya mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia menatap sekitar, dan baru menyadari—daerah ini seperti kota mati. Jalanan sepi, jendela-jendela tertutup rapat, dan udara dipenuhi debu yang menari bersama sunyi.
"Banyak yang udah gak tinggal di sini," bisiknya lirih. "Ada yang meninggal, ada yang kabur ke luar kota, ada yang pindah ke luar negeri..."
Archer menatap langit kelabu, lalu menambahkan, "Dan ada juga yang berhasil diselamatkan, ditampung di area pemukiman markas besar Bumi."
Ia menatap Vanya penuh arti. "Kita juga harus pergi. Kalau kita di sini terus, pasukan Pumi bakal datang. Kamu tahu sendiri—mereka udah anggap daerah ini berhasil dikosongkan. Berhasil dihabisi beserta isinya."
Vanya menunduk. Ada getar kecil di suaranya saat berkata, "Aku mau ambil barang-barangku dulu di rumah."
Archer mengangguk, lalu menemani. Rumah Vanya masih berdiri, tapi udara di dalamnya penuh kenangan yang berat. Gadis itu berjalan pelan, menyentuh benda-benda yang dulu terasa hidup.
Barang yang ia ambil tak banyak: selembar foto keluarga, beberapa baju favorit, boneka pemberian Jeffri, dan satu foto bersama Jeffri di depan wahana kora-kora.
Ketika semuanya selesai, Archer mengambil tas sedang milik Vanya. Boneka kecil itu digenggam erat oleh gadisnya, seolah menjadi satu-satunya hal yang masih bisa ia percaya.
"Nanti, di sana, ada ayah sama bunda kan, ya?" tanya Vanya lirih, nyaris seperti anak kecil yang mencari kepastian di tengah kabut.
"Ada," jawab Archer, tersenyum lembut. Senyum yang tidak hanya menenangkan, tapi juga menipu dirinya sendiri—karena di balik itu, ia tahu tak ada jaminan bahwa dunia baru akan seindah harapan yang diucapkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Science Fiction( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
