|| Hari terakhir untuk cerita akhir ||

101 9 2
                                        

Dipertengahan malam ditemani cahaya bulan, seseorang yang menggenggam bunga Dalili palsu berlarian ke sana kemari tanpa takut gema paus bersuaraㅡrambutnya diikat dua, ia juga menggunakan dress seukuran badannya yang berwarna merah, garis kebiru-biruan.

Berdiri di ujung daratan tidak membuat ke dua kaki mereka gemetar, melainkan mereka tetap tenang menikmati suasana malam.

"Danica, lihat! Pausnya datang"

Danica berteriak, tangannya terus bertepuk dikala seekor paus meloncat ke atas, bahkan loncatan itu lebih tinggi dari daratan yang mereka injaki.

"Kwelen! Kwelen!"

Archer kembali menyunggingkan senyuman, kembali menepuk kepala kecil gadis itu yang sudah berdiri disampingnya setelah sebelumnya asik berlarian kesana-kemari seakan asik dengan dunia nya sendiri bersama kunang-kunang.

Paus kembali turun menyambut rumah yang sebenarnya. Dentuman air ke atas terlihat seperti air terjun, kedua manik mata coklat kecil itu kembali berkilau.

"Lagi! Lagi!"

"Udah malam, kita kembali ke rumah, ya?"

Kepala kecilnya menggeleng, menolak apa yang ArcherㅡAyahnyaㅡkatakan padanya. "Mau lihat lagi!"

Archer menggendong Danica, lalu menunjuk lautan yang tersebar luas dibawah sana. "Lihat, paus nya udah masuk ke dalam rumah. Danica gak mau pulang juga, kayak paus itu?"

"Mauuu!"

"Besok, ayah ajak kamu ke sini lagi, ya?"

"Iya!" Seakan semangat berbicara untuk hari esok, kepala gadis kecil itu langsung terjatuh diatas bahu ayahnya. Energi di dalam tubuhnya habis, matanya mengantuk, tangannya melingkar dileher ayahnya.

Kedua kaki panjangnya itu melangkah jalan menuju rumah. Sepinya malam membuat kunang-kunang bersinar terang bersama bulan. Satu kunang-kunang datang, menginjaki punggung Danica. Archer menyingkirkan kunang-kunang itu pergi, lalu menoleh menatap putri kecilnya.

Sesudah memasuki rumah, menaruh Danica ke tempat tidur, Archer keluarㅡduduk di depan rumah bersama sang Ayah.

"Bahaya bawa Danica lihat paus malam-malam. Semua paus disini Karnivora, loh"

Archer tertawa kecil. "Mereka tau siapa yang berdiri disisi Danica, ayah"

Obrolan malam menyelimuti mereka, tiap kata mulai menusuk hatiㅡtergantung malam yang akan semakin larut nantinya.

"Hari ini ulang tahun Vanya, kamu udah ke makam dia?"

"Udah, tadi pagi. Kenapa, yah?"

"Rio datang. Sebelum kamu pulang, dia udah pergi. Kayaknya dia memang gak rela Vanya pergi"

Archer diam, menatap langit malam diserbu bintang. Lalu pria tua itu melanjutkan. "Waktu dia datang, niat ayah mau tawari dia makan malam, tapi ayah malah dengar dia ngomong sendiri di makam"

"Apa?"

"Katanya, gak ada yang di sukai lagi di dunia ini semenjak Vanya pergi"

"Aku paham, yah. Naomi udah meninggal waktu Rio pergi. Ketika ketemu Vanya, pasti Rio mulai mengobati lukanya. Tapi ya...mau gimana lagi. Apalagi wajah mereka sama"

"Kalau kamu?"

"Aku?" Tanya Archer sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Iya, kalau kamu memang udah benar-benar ikhlas sama kepergian Vanya mu itu?"

Archer mengangguk. "Iya, ikhlas. Lagian kalau aku masih diposisi yang sama, mungkin aku gak akan pernah fokus mendidik dan membesarkan Danica"

"Jaga anak itu sebaik cara mu sendiri. Kelak kalau ayah udah pergi, kamu masih punya Daniㅡ"

PARALLEL UNIVERSES Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang