Suara alarm menggema di seluruh markas. Lampu merah berkedip cepat, membuat bayangan pasukan berlarian di koridor logam bergetar seperti nadi yang panik.
Ada penyerangan di pusat informasi — mendadak, tanpa peringatan. Rio dan unitnya langsung tiba di lokasi, udara penuh dengan bau logam terbakar dan percikan listrik dari layar monitor yang meledak.
"Gimana?" tanya salah satu pasukan, napasnya tersengal.
Rio menggeleng pelan. "Nihil. Tidak ada jejak."
"Ini pasti pasukan Bumi. Siapa lagi?" sergah yang lain, matanya liar mencari tanda-tanda.
Rio menatap ke arah pusat yang masih berasap. "Posisi pusat informasi ada di tengah markas. Mungkin mereka tahu jalurnya karena ada yang bocorkan dari dalam. Kemarin aku lihat ada pekerja baru di area itu."
"Mata-mata Bumi!" Nada suara pasukan itu naik, disertai kemarahan yang menekan.
"Bukan," potong Rio cepat. "Kalau pun iya, pasti sudah terdeteksi gelombang keamanan. Dia cuma pekerja biasa." Pasukan itu mengangkat tangannya, menampilkan tato biru berpendar di pergelangan — tanda pengenal yang hanya bisa dimiliki oleh warga Pumi asli. "tapi aku tetap curiga."
"Kita harus cari orang yang membocorkan lokasi ini!" desak salah satu pasukan.
Rio menghela napas. "Susah. Tidak ada jejak sama sekali. Semua sistem sudah dibersihkan."
"Komandan gimana?" tanya yang lain, cemas.
"Marah," jawab Rio singkat. "Dia mau semua orang cari pelakunya sampai dapat. Tapi sampai sekarang, tidak ada yang menemukan apa pun."
Keheningan singkat menyelimuti mereka, hanya disisakan suara percikan listrik dari panel yang gosong.
Akhirnya Rio berkata tegas, "Lebih baik kalian pulang dulu. Istirahat. Aku yang akan lapor ke komandan."
"Tapi, Rio—"
"Nanti aku yang tanggung jawab," potongnya. "Kalian pulang."
Satu per satu pasukan menghilang lewat teleportasi masing-masing, meninggalkan Rio sendirian di tengah ruang yang porak-poranda. Ia menatap langit-langit markas, menarik napas panjang, lalu melangkah ke pusat utama.
×××
Di depan ruang komando, dua penjaga menunduk hormat saat Rio melangkah masuk. Ruangan itu dingin, dengan layar holografik menampilkan peta bintang dan lintasan orbit galaksi.
"Lapor, Komandan!" Rio berdiri tegap. "Pelaku kabur tanpa jejak. Kemungkinan besar, tidak ada yang bisa melanjutkan pencarian."
Komandan menatapnya tajam. "Novemberio, kau pasukan terbaik saya. Mulai malam ini, kau tetap di pusat utama. Jika tidak, kita kehilangan pelindung terkuat."
Rio menunduk, tapi sudut bibirnya terangkat pelan. Inilah yang aku mau, pikirnya. Menjadi yang terbaik. Diakui, disegani...
Meski bukan pemimpin pasukan, Rio tahu satu hal: Komandan lebih mempercayainya daripada orang yang seharusnya memimpin. Dan bagi Rio — itu sudah cukup.
"Saya akan melakukan yang terbaik, Komandan," katanya dengan nada mantap.
×××
Vanya menangis di tengah malam sambil meminum susu kemasan dari kotak. Entah apa yang membuatnya menangis — mungkin lelah, mungkin rindu — tapi yang pasti, satu potong kue kecil berlapis cokelat dan krim di pangkuannya tampak begitu menggoda. Siapa pun yang melihatnya mungkin akan lupa pada tangis Vanya, karena kue itu terlihat lebih menggugah daripada kesedihannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Ciencia Ficción( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
