"Benar! Sebelum ledakan Big Bang tuh ada lagi, loh," ucap Vanya dengan nada bersemangat, menahan gejolak emosinya. Debat ini terjadi tanpa rencana, hanya karena mereka semua berkumpul makan siang setelah bel istirahat bergema di seluruh sudut sekolah.
"Coba jelasin," kata salah satu temannya penasaran.
Vanya menghela napas pelan. "Aku baca di buku. Sebelum Big Bang itu, tiap galaksi cuma gelap gulita. Kayak... belum ada apa-apa, tapi juga bukan berarti kosong. Yang ngusulin teori itu ilmuwan besar, katanya nanti alam semesta bisa berevolusi lagi, terus meledak lagi. Ledakan lain, semesta baru."
"Kamu tahu teori Big Bounce, nggak, Van?"
Vanya mengangguk. "Pernah dengar, tapi nggak ngerti."
"Itu kayak siklus berulang, gitu loh. Alam semesta terus lahir dan mati. Awal, akhir... awal, akhir, muter terus."
"Jelaskan dong," pinta teman lainnya.
"Contoh gampangnya: kalian makan nasi, terus buang air besar. Nah, nanti kotoran kalian tuh diangkut truk e—apa sih namanya? Truk pengangkut e*k, ya?" katanya sambil nyengir.
Vanya dan yang lain meledak tertawa.
"Nah, itu! Terus kotoran kalian dijadiin pupuk padi, padinya jadi beras, kalian makan lagi. Ulang terus, nggak berhenti."
"Rumit," celetuk seseorang.
Vanya terkekeh. "Jadi kita makan kotoran dong, ya?"
"Secara teknis, iya..."
"Hah?!" Tiba-tiba Vanya berteriak keras—sampai nyaris menabrak tembok di belakangnya. Tangannya refleks memegangi perutnya yang terasa nyeri lagi. Earphone yang ia pakai terlepas dan jatuh ke lantai.
"Van, kamu kenapa?!" seru teman-temannya panik.
Dua tangan hangat menggenggam pundaknya dengan cepat. "Kamu kenapa?" suara itu tegas—Rio. Wajahnya tegang, pupil matanya membesar.
Vanya menarik napas dalam, lalu mendengkus pelan. "Jemuran ku lupa diangkat."
Beberapa temannya mendecak, ada yang menatap ke langit, ada yang menahan tawa.
Vanya tertawa keras, berusaha menutupi getaran di suaranya. Lalu, pelan-pelan, ia mendekat ke Rio, menarik kerah bajunya sedikit, dan berbisik lirih, "Pak Bram tadi telepon. Katanya... ayah sama bunda kecelakaan. Sekarang mereka sekarat di rumah sakit."
Dengan segera, Rio menarik Vanya keluar. Ia bahkan berani melawan guru piket hanya agar mereka bisa melewati gerbang sekolah itu. Tak berhenti di situ, Rio juga sempat beradu argumen dengan para satpam yang mencoba menahan mereka.
Mereka akhirnya pulang menggunakan mobil yang dipesan lewat aplikasi. Sepanjang perjalanan, Rio terus merangkul Vanya yang mulai tersedu tanpa suara. Begitu dalam ketakutan dan kekhawatiran yang sedang ia tahan.
Rio sempat terlempar pada masa lalunya — saat kedua orang tuanya mati dibunuh oleh pemberontak dari planet tetangga. Rasa sakit itu kembali menusuk. Kini, melihat Vanya menangis begitu hancur, Rio tetap berdiri di sisinya. Menjadi benteng, agar gadis itu tidak runtuh sendirian.
"Van, aku beli makan dulu, ya. Kamu tadi cuma makan sedikit," ucap Rio pelan ketika mereka tiba di rumah sakit.
Vanya hanya mengangguk tanpa suara. Ia tetap duduk di kursi besi bersama Pak Bram — lelaki yang semalam muncul dengan jubah hitam — menatap pintu logam dingin di depan mereka, pintu yang kini memisahkan Vanya dari dua orang yang selama ini menjadi alasan ia tumbuh, belajar, dan bertahan.
Begitu Rio pergi, Vanya menoleh kepada pria yang sengaja ia panggil dengan Pak Bram. Udara di dalam lorong rumah sakit di dean ruang operasi itu begitu berat, seperti menekan dadanya. Suara-suara yang ia dengar—lemah, terputus-putus—membuatnya menggigil. Ternyata hidupnya selama ini penuh drama dan kebohongan. Novel-novel yang dulu ia baca bukan sekadar fiksi—semuanya nyata, dan kini ia menjadi salah satu tokohnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Ciencia Ficción( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
