( TAMAT )
LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat).
Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu hari sebelum pasukan pemuda Pumi turun ke Bumi. Salah satunya adalah Novemberio, yang lebih sering disapa Rio—seorang pemuda dengan wajah yang akan membuat siapa pun merasa bercermin pada dirinya sendiri. Hari itu, ia dikirim menemui seseorang dari planet biru itu.
Dan orang itu adalah Jeffri.
Ketika keduanya akhirnya berhadapan, seolah ruang di antara mereka terbelah menjadi dua semesta yang saling menatap. Rio terdiam sesaat, matanya menyorot benda di tangan kanan Jeffri—sebuah buku dengan sampul usang tapi masih menyimpan wibawa ilmiah: Parallel Worlds: The Science of Alternative Universes and Our Future in the Cosmos, terbit tahun dua ribu empat.
Jeffri sendiri tampak linglung. Ia membolak-balik halaman buku itu, seolah mencari jawaban di antara kertas yang mulai menguning. Di halaman enam puluh enam, huruf besar menonjol di tengah teks: "Diri kita hidup di galaksi lain. Kita tidak hidup sendirian."
Kata-kata itu menyalakan sesuatu di dada Rio—semacam kepastian yang aneh, sekaligus peringatan bahwa pertemuan ini bukan kebetulan.
Jeffri mendongak, dan matanya membulat. Di hadapannya, Rio berdiri dengan senapan terangkat, larasnya lurus ke arah jantungnya.
"Wow! Wow!" seru Jeffri, mundur satu langkah dengan tangan terangkat. "Mungkin benar, ya, kamu itu... saya di galaksi lain." Ia menelan ludah, mencoba tersenyum. "Tapi tolong, damai dulu. Duduklah, mungkin kamu bisa jelaskan maksud kedatanganmu?"
Tatapan Jeffri turun ke senapan itu, lalu ia menggeleng pelan dengan nada geli. "Acara penyambutan yang... kurang sopan, ya."
"Peduli saya?" suara Rio terdengar datar, dingin, tapi ada sedikit getar di ujung katanya—seolah amarah yang sengaja disembunyikan di balik wibawa prajurit. Laras senjatanya masih tegak lurus ke dada Jeffri, dan dalam pantulan logam itu, ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri.
"Bener ya, ada kesamaan bahasa juga?" Jeffri bersuara pelan, menelan gugup di sela-sela tawa paksa. "Wow... luar biasa sih ini."
Tapi keterkejutan Jeffri berubah jadi naluri bertahan hidup ketika jari Rio bergerak sedikit ke belakang, menekan pelatuk senapan itu hanya seujung kuku.
Dengan reflek cepat, Jeffri menendang bagian bawah senapan itu—suara logam jatuh menghantam tanah bergaung di udara dingin.
"Yah... saya ekskul karate di sekolah," ucap Jeffri, masih sempat menyeringai meski napasnya tersengal.
"Brengsek!!"
"Duh..." Jeffri menatap lawan yang wajahnya sama persis dengan dirinya, "kasarnya... entah siapa nama lo, tapi tolong tenang dulu, ya?" Ia mengangkat kedua tangannya, berusaha menenangkan situasi yang dari luar tampak seperti bayangan sedang bertengkar dengan cerminnya sendiri.
Rio menatap tajam, urat di rahangnya menegang. Ingin rasanya dia menghantam pria di depannya—salinannya—hanya agar dunia kembali masuk akal. Tapi setiap kali dia bergerak, Jeffri dengan mudah mengelak, menahan, bahkan memutar serangan balik dengan teknik bela diri yang efisien.