|| Perasaan yang terombang-ambing ||

99 19 0
                                        

"Kita pasti menang lah! Kan kita punya agent mata-mata ter-ngeselin sejagat Bumi raya ini!" Archer tertawa terbahak-bahak. Jemarinya yang nakal kembali menyentil kening Vanya yang mulai memerah, seolah belum puas menertawakan wajah cemberut gadis itu.

"Sakit!"

Alih-alih berhenti, Archer malah makin menjadi-jadi. Vanya pun maju, mencoba menghindar, tapi justru kepalanya membentur dada pria itu—cukup keras hingga membuat Archer mendadak terdiam.

Tawa kecil lolos dari bibir Vanya ketika ia mendongak dan kepalanya menabrak dagu Archer. "Rasain! Emang enak!"

Refleks, Archer mendorongnya sedikit karena kaget—bukan dengan niat kasar, tapi cukup membuat tubuh Vanya kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, suasana riuh itu berubah hening ketika gadis itu hampir jatuh, kalau saja tidak ada lengan Archer yang sigap menahan pinggangnya.

Waktu seolah berhenti di antara mereka; napas bertemu napas, mata saling menatap dalam jarak yang nyaris mustahil untuk tak disadari. Vanya yang biasanya cerewet kini diam seribu bahasa, sementara Archer dengan cepat mencari cara untuk memecah ketegangan.

"Van, mau lihat bintang, tidak?" katanya, suaranya lebih lembut kali ini.

"Mau!"

"Kita ke bintangnya langsung, mau?"

"Apa lagi itu! Mau banget!"

"Tapi ada resikonya, loh."

"Apa?"

"Pulang-pulang taunya kita udah gosong!" Archer kembali tergelak, membuat keheningan tadi seketika mencair seperti buih yang pecah di udara.

"Gak usah nawarin!" Vanya berdecak kesal, lalu melangkah pergi, meninggalkan Archer dengan tawa yang masih menggantung di udara malam.

×××

Kini, Rio duduk bersama pasukannya di markas. Usai pemberontakan yang baru saja terjadi, pikirannya tak kunjung tenang—terus berputar di satu nama yang sama: Vanya.

Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Kepalanya berdentum seperti genderang perang yang tak kunjung berhenti. Lima jam lamanya ia menahan gelisah yang menusuk di antara kesunyian markas; lima jam pula ia hampir menjerumuskan dirinya pada kebodohan di tengah misi penting.

"Kamu kenapa, Yo?" tanya salah satu rekannya.

Rio menoleh lesu. "Kita belum boleh pulang?"

"Belum selesai perang! Ngapain pulang?"

"Bukan, maksudku, ke rumah Bumi kita."

"Rumah Bumi kita kan di sini."

"Bukan! Rumahnya si Jeffri!"

"Oh, belum. Mau ngapain?"

"Biasalah, cowok kalau lagi jatuh cinta memang gitu," timpal yang lain sambil menahan tawa.

"Diem lo!" bentak Rio cepat.

"Ingat, dia Vanya! Bukan Naomi!"

"Aku juga lebih memilih Naomi ketimbang orang itu," balas Rio sengit.

Geram pada dirinya sendiri, Rio meraih gelas kopi dan melemparkannya hingga pecah di lantai. Ia berdiri dengan wajah yang sulit dibaca, membuat teman-temannya hanya bisa saling pandang, separuh jengkel, separuh iba.

"Duluan," katanya pendek, lalu pergi tanpa menoleh. Langkahnya berat, tapi tegas—seolah setiap hentakan menuntut jawaban atas keraguan yang mulai tumbuh dalam dirinya: siapa sebenarnya dia, dan kenapa hatinya seperti dikhianati sesuatu yang belum pasti.

PARALLEL UNIVERSES Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang