Rio duduk di kursi kerjanya, menatap hologram rencana pertempuran yang melayang di hadapannya. Namun pikirannya jelas tidak fokus. Ada sesuatu yang janggal—terlalu janggal untuk diabaikan.
"Temannya Vanya..." gumam Rio pelan. "Aku mimpi dia itu sebenarnya agent mata-mata."
Salah satu rekannya langsung menimpali, santai seolah itu bukan hal besar.
"Bukannya sudah jelas dia mati kena tembakanmu, Yo?"
Rio menggertakkan gigi. "Iya, aku tahu. Tapi perasaanku bilang dia masih hidup."
Temannya yang lain mengangkat alis. "Memang apa yang bikin kamu yakin? Gak ada bukti."
Rio memutar kursinya, menatap mereka tajam. "Aku merasa orang itu—entah siapa—ada di pertarungan kecil waktu kita lagi bahas strategi pemberontakan terakhir. Gerakannya... aku kenal."
Satu pasukan lain tiba-tiba ikut bicara, suaranya ragu namun sungguh-sungguh. "Gak tahu kenapa, aku juga ngerasain hal yang sama. Kayak habis tarung beneran. Badan gue sakit semua paginya."
Ruangan langsung hening sesaat.
Rio menatap meja, jari-jarinya mengetuk permukaannya cepat—kebiasaan lamanya saat ia mulai cemas. "Jangan-jangan... itu karena portal ruang dan waktu?"
Seorang rekannya langsung membesar-besarkan reaksi. "Bisa jadi!"
"Tapi kalau gitu mereka yang nemu duluan dong?" seru yang lain.
"Mana bisa! Portal kita yang pertama! Mereka cuma nyontek!" balas yang satunya lagi.
"Cuma ukurannya aja yang selevel atom dan hampir gak bisa dipakai," sindir rekannya.
Rio melempar gelasnya ke meja, membuat semua orang terkejut dan langsung diam.
"Diam kalian!" bentak Rio tajam. "Ini bukan waktunya ribut soal siapa penemu pertama! Kita harus fokus. Rencana. Strategi. Peperangan sudah dekat, dan satu kesalahan kecil bisa bikin kita tamat."
Semua orang menunduk. Tidak ada yang berani membalas. Mereka ingat siapa yang sedang mereka hadapi.
Rio—komandan tertinggi yang dipilih langsung oleh Presiden Agent Pumi. Komandan yang paling muda, paling cerdas, sekaligus paling ditakuti.
Rio menghela napas panjang, menenangkan dirinya. Tapi pikirannya tetap kembali pada satu sosok... Satu bayangan... Satu kemungkinan yang membuat punggungnya merinding:
Kalau dia masih hidup...
kalau dia ada di dekat sini...
dan kalau itu benar orang yang sama...
Rio meremas sandaran kursinya.
"Jangan sampai aku salah baca," gumamnya dalam hati. "Kalau benar dia... maka perang ini bakal jauh lebih rumit daripada yang kita kira."
××××
"Hati-hati."
Archer tertawa kecil. Entahlah, ada rasa gemas melihat Vanya begitu fokus membantunya berjalan—padahal lukanya masih basah.
"Kamu sih maksa ke taman, jadinya tambah sakit kan?"
"Enggak."
"Tunggu sini ya, kursi rodanya ada di depan."
"Aku ikut lah."
"Jangan. Tunggu sini aja."
Vanya berlari kecil ke pintu pusat medis untuk mengambil kursi roda. Saat kembali, dia membantu Archer duduk hati-hati lalu mulai mendorongnya menuju taman.
"Van, nanti sampai taman kamu makan ya."
"Kok aku doang? Kamu juga."
"Aku belum boleh makan."
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Fiksi Ilmiah( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
