Semakin hari, dunia terasa seperti papan permainan raksasa. Ada tangan tak kasatmata yang menggerakkan manusia maju dan mundur, makan dan minum, melangkah keluar atau bersembunyi di balik pintu rumah.
Seseorang—atau sesuatu—seolah mempermainkan arah hidup, menentukan siapa yang menang, siapa yang harus tersungkur.
Vanya dulu hanyalah gadis biasa, yang percaya bahwa teori-teori tentang dunia paralel hanyalah bahan bacaan fiksi dan esai yang berakhir di meja belajar. Namun kini, ia terjebak di dalamnya—menjadi bagian dari cerita yang dulu ia anggap khayalan semata.
Dari sekian banyak tulisan tentang teori itu, hanya satu hal yang selalu bergetar di kepalanya: bayangan bisa hidup, berwujud daging, bernafas di antara kita—memiliki tubuh yang sama, tapi berjalan di nasib yang berbeda.
Langkah Vanya menembus jalan kecil yang bahkan tidak diingatnya pernah ada. Udara di sekelilingnya dingin dan berbau logam, seperti sisa hujan yang menempel di besi tua.
Padahal baru saja ia ingin tidur—tapi seseorang datang, menyerahkan sebuah jubah hitam.
Jubah itu... aneh. Ketika ia menatap pantulan dirinya di cermin, yang ia lihat hanya ruang kosong. Tidak ada tubuhnya di sana. Tidak ada wajah, tidak ada bayangan.
Hanya gelap yang memantul kembali menatapnya.
Angin berputar seperti pusaran napas raksasa ketika seseorang menekan tombol merah di gelang besi berwarna perak di pergelangannya. Dalam sekejap, udara di sekitar mereka bergetar—berdesing, mengirimkan bau logam tajam yang menusuk ke hidung. Suara itu seperti bisikan mesin yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
Di depan Vanya, ruang udara terbelah, membentuk lingkaran berputar. Cahaya putih menetes di tepinya, lalu menyatu menjadi pusaran sempurna—sebuah portal waktu yang berdenyut seperti jantung.
Portal itu bisa membawanya ke masa depan. Dan, jika takdir masih berbaik hati, portal yang sama akan menjadi jalan pulangnya.
"Salin semua data informasi yang mereka dapat dari kita. Jangan lupa rekam seluruh ruangan yang ada di sana. Selama kamu di dalam, pakai jubah ini supaya kamu nggak kelihatan sama mereka. Tapi suara mu akan tetap ada, jadi jaga langkah kamu dan suara mu. Semoga berhasil, Van!"
Vanya menarik napas dalam. Udara di sekitarnya terasa berat dan dingin, seperti mengandung ribuan rahasia yang tak ingin tersentuh. Perlahan, ia melangkah masuk ke dalam pusaran itu.
Cahaya menelan tubuhnya. Matanya buram, pandangannya terurai menjadi garis-garis tak beraturan. Dunia seperti melarut, kemudian membentuk ulang dirinya di tempat lain.
Saat ia menapakkan kaki kembali ke tanah, portal itu lenyap di balik hembusan angin.
Di hadapannya berdiri sebuah bangunan yang anehnya terasa akrab. Mirip sekali dengan rumah si kakek penjual sayur. Namun ada yang berbeda. Papan kecil tergantung di atas pintu, berayun pelan diterpa angin. Tulisan di atasnya, samar tapi jelas terbaca:
"Pusat Informasi Pumi."
Vanya melangkah perlahan di antara hiruk-pikuk ruangan yang terasa seperti jantung dunia bawah tanah. Cahaya biru dari layar-layar raksasa menari di dinding, menyoroti wajah-wajah yang sibuk di balik meja logam penuh kabel dan dokumen digital. Suara mesin berdengung, seirama dengan napas orang-orang yang bekerja tanpa henti.
Ia menunduk, menyusup di antara bayangan, menyalin data dari satu terminal ke terminal lain. Setiap file yang ia ambil terasa seperti sepotong kebenaran yang dilarang untuk disentuh manusia biasa.
Jumlah persenjataan. Persentase korban di Bumi. Tingkat pemberontakan antar galaksi. Semua tersimpan dalam chip kecil di tangannya — hasil kerja dua jam yang menegangkan dan membuat telapak tangannya basah oleh keringat.
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Science Fiction( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
