|| sikap Archer yang aneh ||

99 16 2
                                        

Vanya merekam setiap detik kekacauan itu—deru pemberontakan, rumah-rumah yang ambruk seperti ditarik dari akarnya, dan bayang-bayang pasukan yang bergerak tanpa belas kasih. Tangannya sedikit bergetar, tapi ia tetap menyorotkan lensanya, memastikan semua bukti terekam jelas.

Begitu selesai, Archer membuka portal dengan satu sentuhan pada perangkatnya. Cahaya biru menyapu tubuh mereka, dan dalam sekejap keduanya telah kembali ke markas besar.

Rekaman itu langsung diputar di hadapan presiden mereka. Beliau menonton tanpa kedip, mengangguk pelan, sebelum segera menyusun rencana berikutnya.

Tugas selesai, Vanya dan Archer keluar menuju bangunan megah yang berdiri tepat di tengah taman. Tempat itu menjadi pelarian mereka—menyantap makanan hangat, bercanda, menenangkan diri, dan mencoba melupakan sejenak dunia yang sedang runtuh.

Sampai akhirnya, mereka berlarian di taman seperti dua anak kecil yang mencuri waktu dari keributan semesta. Aturannya sederhana: siapa yang tertangkap, harus mengejar balik pemenangnya.

Archer lebih dulu menangkap Vanya—gadis itu langsung menjerit kesal, memukul udara kosong sambil tertawa. Vanya mencoba membalas, berusaha menangkap Archer, tapi pria itu terlalu cepat, seperti angin yang menolak disentuh.

Melihat Vanya mulai terengah dan menumpukan kedua tangan di lutut, Archer tersentuh. Ia memperlambat langkahnya, berhenti, dan menatapnya sambil tersenyum kecil.

Kemudian Archer justru berlari mendekati Vanya, bukan menjauhinya. Napasnya ringan, langkahnya lincah, dan begitu hanya tinggal beberapa langkah lagi ia mengulurkan tangannya.

"Kesempatan buat menang, nih," katanya—memberi Vanya sebuah peluang, atau mungkin... sesuatu lebih dari itu.

Vanya terkekeh, lalu menggenggam tangan Archer yang terjulur padanya. Namun beberapa detik kemudian, tubuhnya limbung—dan ia ambruk tak sadarkan diri.

"Vanya!" seru Archer panik.

Begitu memastikan gadis itu benar-benar tidak sadar, Archer segera mengangkatnya dan berlari menuju pusat medis.

"Dia terlalu menguras banyak tenaga," ujar dokter setelah pemeriksaan. "Wanita ini mengalami sindrom kelelahan kronis. Aktivitas berat sangat tidak dianjurkan. Dia harus banyak istirahat dan melakukan relaksasi."

Archer mengangguk paham. "Terima kasih, Dok."

Saat dokter dan tiga perawat keluar, Archer baru menyadari sesuatu. Pandangannya tertuju pada luka bakar di tangan kiri Vanya—luka yang tersembunyi selama ini oleh jaketnya. Jika dokter tidak terkejut saat memeriksanya, Archer tak akan pernah tahu.

Pantas saja Vanya terus mengenakan jaketnya sejak tadi.

Waktu berjalan. Setelah lebih dari satu jam, perangkat komunikasi Archer berbunyi—sebuah perintah masuk, mendesak.

Ia harus segera pergi memeriksa kondisi masa depan. Pusat penyerangan baru saja menyimpulkan bahwa seluruh pasukan Pumi akan memulai perang dalam waktu yang sangat dekat.

Archer menatap Vanya sekali lagi. Ada sesuatu yang menegang di wajahnya—antara cemas, marah, dan takut kehilangan.

Lalu ia berbalik, melangkah pergi.

Archer pergi menjalankan misinya—meninggalkan ruangan medis yang perlahan kembali sunyi.

Sementara itu, Vanya terbangun. Pandangannya samar, tubuhnya berat seolah baru tenggelam dari kedalaman laut. Ruangan itu kosong; tidak ada satu pun orang di sana. Hanya suara mesin pemantau dan hembusan pendingin ruangan yang menemani.

Sunyi.

Vanya benci sunyi. Lebih dari itu, ia benci ditinggalkan. Sensasi kosong itu merayap dari dadanya, menyelip ke tengkuk, membuat napasnya terasa pendek. Ia mencoba duduk, namun tubuhnya terlalu lemah—bahkan untuk sekadar mengangkat kepala.

PARALLEL UNIVERSES Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang