Malam itu — malam sebelum Jeffri meninggalkan Bumi untuk selamanya.
Vanya mendengus kesal. Kepalanya mendongak, menatap langit malam yang kosong. Tak ada satu pun bintang, seolah semua enggan menemani bulan malam ini. "Cowok berandalan! Ibu kamu khawatir, tahu! Sudah sepuluh kali beliau datang ke rumahku," ujarnya lewat telepon, suaranya gemetar menahan emosi. Ada perasaan tersirat akan ketakutan dan tidak siap akan kehilangan yang membuat kepalanya terasa berat, membuat hati berdegup begitu cepat.
"Aku ketemu alien," jawab Jeffri, masih sempat bergurau.
Vanya terdiam. Matanya panas, dadanya sesak. Ia tak sanggup lagi menggenggam ponselnya dengan kuat; tangannya bergetar. Ia takut — bukan karena gurauan Jeffri, tapi karena ia tahu apa yang akan terjadi nanti pada pria itu. Ia tahu, dan tak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkannya.
Seseorang di sampingnya — sosok yang sejak tadi berdiri diam — tiba-tiba menutup kedua mata Vanya dengan telapak tangannya. Jari-jarinya panjang, dingin, dan asing. "Jangan lihat," bisiknya pelan, tepat ketika sesuatu di kejauhan mulai bergerak. Aksi yang akan merenggut Jeffri sudah dimulai — dilakukan oleh pria lain yang berwajah sama, namun bukan dari dunia ini.
Air mata jatuh dari mata Vanya, membasahi pipinya. Hanya itu yang bisa ia lakukan: menangis, sambil berusaha mengulur waktu. Ia tahu dirinya tak punya hak mencampuri urusan masa depan; sekali ia melangkah terlalu jauh, segalanya bisa hancur. Tapi ia tetap memaksa sosok di sampingnya itu untuk membantu. Ia ingin satu hal saja — satu momen terakhir — agar masih ada tawa di antara mereka berdua.
Dan tentang pria asing itu — Orang-orang memanggilnya Makemas. Pemuda bermata kemenangan alam semesta. Ia adalah salah satu mata-mata yang telah lama singgah di Bumi, menunggu saatnya tiba. Setelah mendengar kabar bahwa hanya Bumi yang tersisa — dunia terakhir yang belum dijatuhi pemberontakan — ia datang. Bersama kelompok dari berbagai penjuru galaksi, ia menyusun rencana kelam yang akan mengubah segalanya.
×××
"Kalau sekolah ditutup, kita jadi pengangguran dong?" tanya Vanya sambil mengunyah biskuit.
"Gak ngapa-ngapain juga gak masalah. Di rumah terus sambil makan dan nonton film juga menyenangkan," jawab Rio santai.
"Ayah ibu kamu ke mana, Jef?"
"Kerja. Di luar kota."
"Kota mana?"
"Aku nggak tanya."
"Dasar. Harusnya kamu tanya mereka," ujar Vanya, tertawa kecil sambil memukul ringan pergelangan tangan Rio.
"Mereka berangkatnya pagi-pagi buta. Aku bahkan belum sadar penuh waktu dibangunkan. Jadi gak kepikiran buat nanya mereka pergi ke mana."
"Nanti coba hubungi mereka," kata Vanya.
"Untuk apa? Kan aku udah tahu mereka lagi kerja di luar kota."
"Ya, tapi kalau kamu tahu posisi mereka, setidaknya kalau ada apa-apa kamu bisa cepat bantu."
Rio tersenyum tipis. "Aku yakin mereka baik-baik saja."
"Kamu harus tanya, Jef. Mereka orang tuamu."
Belum sempat Rio menjawab, suara bom meledak dari kejauhan — keras, mengguncang jendela dan membuat lantai bergetar. Vanya menjerit, menutup kedua telinganya. Tubuhnya refleks berdiri, langkahnya gemetar saat teriakan dan kepanikan mulai terdengar dari luar rumah.
Rio langsung memeluknya erat, menahan tubuh gadis itu agar tetap tenang. "Van, tenang... semuanya akan baik-baik saja," bisiknya pelan.
Namun di balik pelukan itu, alat kecil di pergelangan tangannya menyala—gelombang sinusoid aktif, memancarkan suara statis. Dari sana, terdengar tawa kemenangan teman-teman pasukannya: mereka adalah dalang di balik ledakan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Science-Fiction( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
