VANYA POV
Aku berdiri di pinggir jalan, menyeruput minuman hangat. Siang itu angin datang tiba-tiba — kencang, dingin — meski aku tak berada di tepi pantai. Di sampingku Rio berdiri: seratus persen tampak seperti Jeffri. Dingin itu merayap bukan hanya dari udara; ada sesuatu di dadaku yang ikut mendingin sejak pertama kali aku diberi izin memakai mesin waktu Archer.
Waktu kita ke masa lalu, aku menyaksikan adegan yang mengoyak semua keyakinanku — Rio membunuh Jeffri dengan cara yang kejam. Sejak saat itu, hidupku berubah jadi pura-pura panjang: tersenyum, berlagak biasa, menulis daftar balas dendam yang tak pernah tahu kapan akan kupenuhi.
Ayah dan ibuku tidak mati karena kecelakaan, seperti yang kuberitakan pada diriku sendiri dulu. Mereka dibunuh. Jeffri juga dibunuh — oleh Rio. Mereka bukan manusia biasa; mereka licik, kejam, seperti bayangan iblis yang mengendap di balik senyum.
Teman-temanku diseret satu per satu ke kegelapan yang sama: dibunuh diam-diam, kemudian lenyap tanpa bekas. Cara mereka bekerja membuat seluruh dunia terasa rapuh — sebuah malam yang bisa menelan nama, wajah, dan kenangan.
Sakitnya bukan sekadar kehilangan. Sakitnya adalah ketika orang yang kita percaya — yang pernah kita panggil dengan nama manis — ternyata bukan orang itu lagi. Di balik wajah yang kukenal, tersimpan niat yang dingin dan asing. Astaga. Dia bukan Jeffri yang aku sayang. Dia Rio.
Setiap tengah malam, aku dan Archer selalu menyelinap ke markas mereka. Kadang kami berpura-pura menjadi pekerja di Antartika untuk mengamati sesuatu. Kadang kami memakai jubah tembus pandang dan masuk diam-diam, mencari informasi ketika tempat itu sedang sepi-sepinya. Seperti: besok mereka akan merencanakan apa, ya? Dengan begitu, Archer dapat memberitahu para pasukannya agar bisa lebih mudah menyelamatkan orang-orang sebelum sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.
Rio membetulkan rambutku yang berantakan akibat angin. Ia tersenyum, dan aku pun membalas dengan senyum tipis. Basi. Hanya formalitas agar kami tampak seperti pasangan biasa. "Kenapa senyam-senyum begitu? Seram tahu," ujarku. Meski, dalam hati, aku tahu—dia memang tampan. Tapi tetap saja... seram.
Rio terkekeh. "Siapa yang nggak senang berdiri di samping pacar sendiri, sih?"
Aku memeluk Rio. Cowok ini memang romantis, setidaknya di permukaan. Kalau Jeffri yang berdiri di sampingku, pasti dia malah akan mengacak-acak rambutku, bukan merapikannya.
"Mau di sini sampai kapan?" tanyaku pelan.
"Besok?" jawab Rio, bercanda.
Bercanda dengannya membuat kami terlihat seperti sepasang kekasih normal. Seolah semua rasa sakit dan kehilangan yang menumpuk di dadaku bisa hilang sesaat. Seolah aku benar-benar jatuh cinta padanya, padahal yang sebenarnya... aku hanya sedang berakting dalam kisah romansa yang palsu.
Di sisi lain, Archer.
Dia mengikuti aku sejak aku dan Rio memutuskan untuk jalan berdua. Tubuhnya tersembunyi di balik jubah tembus pandang, tapi aku masih bisa melihatnya—berkat softlens pemberiannya. Sementara Rio sibuk menatap bangunan-bangunan kota dengan kagum, mataku lebih tertuju pada Archer yang kini berjongkok di tengah rerumputan hijau, bermain dengan burung-burung gereja yang melompat di sekelilingnya. Tangannya terulur pelan, wajahnya menatap lembut pada makhluk-makhluk kecil itu. Entah kenapa, melihatnya begitu membuat dadaku ikut tenang. Padahal, yang sedang menikmati kedamaian di sana adalah dia, bukan aku.
"Van, ada yang mau aku tanyakan pada mu."
Aku menoleh, menatap Rio. "Apa?"
"Menurutmu, di masa depan nanti, kita masih bisa sama-sama nggak ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALLEL UNIVERSES
Science Fiction( TAMAT ) LAGI TAHAP REVISI (supaya tdk aneh² amat). Teori dunia paralel bisa dijelaskan sebagai kehidupan manusia beserta alam semesta secara bersamaan satu sama lain. Yang mencengangkan, masing-masing dunia tidak menyadari kehadiran dunia lainnya...
