Bab 13. Suaminya

3.8K 474 24
                                        

"Untuk apa anda membela wanita yang bahkan tidak jelas siapa Ayah dari bayi yang dia kandung, Pak Awan?" Rivano membuka semuanya.

Langkah Awan refleks terhenti. Dia membalikkan badan untuk meminta penjelasan pada Rivano. "Siapa yang Lo maksud?" tanyanya dengan kedua tangan terkepal.

"Awan, ayo kita pergi." Arabella menarik tangan Awan agar segera masuk ke dalam lift.

Awan menepis tangan Arabella dan mendekati Rivano. Ditariknya kerah kemeja putih berlumuran darah itu dengan kuat. "Maksud Lo apa, bajingan?!" teriaknya.

"Arabella, Sekretaris kesayangan anda sedang hamil." Rivano tidak terlihat bercanda, tapi di telinga Awan terdengar tidak masuk akal.

BUGH!

Satu bogeman lagi mendarat di wajah Rivano. "Jangan membual! Gue nggak akan ampuni Lo," ujarnya emosi.

Rivano memegangi kepalanya. Dia menarik tubuhnya mundur dan bersandar di dinding. "Coba anda tanya sendiri pada Sekretaris anda itu, Pak Awan." Ditunjuknya Arabella yang semakin cemas.

Awan menoleh ke belakang. "Dia bohong, kan, Ra?" tanyanya penuh harap.

Bukannya menjawab, Arabella malah menangis. Wanita itu tidak menyangkal sama sekali, seakan itulah jawabannya.

Awan menggeleng. Dia mendekati Arabella dan memegang kedua pundaknya. "Katakan, itu semua nggak bener, kan?" paksanya.

"Ayo Arabella, katakan yang sebenarnya. Kamu udah nggak bisa bohongin Pak Awan lagi," ujar Rivano begitu puas.

Rahang Awan mengeras. Dia berniat memukul Rivano lagi, tapi Arabella menahannya. Tatapannya pun kembali pada wanita itu. "Ini nggak bener, kan?" mohonnya.

Arabella kembali menunduk dan menangis. Pundaknya bergetar saat tangis itu benar-benar pecah.

"Tolong jangan bikin aku bingung, Ra!" Awan memukul pintu lift dengan tinjunya. Menyebabkan kepalan tangannya memerah.

"Ahh." Tangan kiri Arabella memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. Tangan kanannya berpegangan pada lengan Awan dengan kuat.

"Ra, ada apa?" Awan menjadi cemas. Dia ikut memegangi perut Arabella, menunduk untuk melihat wajah wanita itu.

Arabella kembali merintih. Wajahnya semakin pucat. Sesuatu yang basah terasa menjalar ke kakinya. Saat dia menunduk untuk melihat, darah telah mengalir hingga ke mata kakinya.

Awan ikut menoleh ke bawah, dan dia sangat terkejut melihat darah itu. "Itu apa, Ra?" tanyanya khawatir.

"Bawa aku ke dokter," minta Arabella dengan suara lemah.

Awan rasanya masih ingin memberi perhitungan pada Rivano yang telah pingsang, tapi tentu Arabella harus lebih diprioritaskan. Digendongnya wanita itu dan masuk ke dalam lift.

Arabella meringis kesakitan, ada gejolak hebat yang meliputi dalam perutnya. Bagai kram berlebihan saat akan menstruasi.

"Kamu sebenernya kenapa, Ra?" tanya Awan bingung, juga sangat khawatir.

"Tolong selamatkan bayiku," ujar Arabella sebelum dia jatuh pingsan.

Kedua tangan Awan gemetar. Dia berlari begitu pintu lift terbuka di lobi. Dibawanya Arabella masuk ke dalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang. "Pak, tolong ke rumah sakit terdekat."

"Baik, Pak."

"Cepat, Pak!"

***

Awan mondar-mandir di depan ruang UGD, menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi Arabella. Pikirannya bercampur aduk saat ini. Meski rasa khawatir lah yang lebih mendominasi.

Secret and the Boss (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang