"Sayang kan aku bilang kemarin aku cuma nganterin dia pulang, lagian dia juga udah punya pacar" ucap Jisung yang tidak ditanggapi oleh Chenle.
Chenle mendiaminya seharian karena mengetahui bahwa Jisung mengantarkan teman perempuannya yang dulu sempat menyukai Jisung, Jisung tidak bilang apapun padanya. Mungkin jika Chenle tidak melihat Jisung yang keluar dari rumah perempuan itu saat ia berada di dalam taksi sepulangnya dari rumah Haechan, ia tidak akan tahu apa apa.
Jisung hanya menghela nafas dan melihat Chenle yang sedang memainkan ponselnya, ia benar - benar tidak mengerti harus apa karena ia juga salah karena kemarin tidak berkata yang sejujurnya pada Chenle.
Chenle beranjak dari ruang tamu dan pergi ke dapur untuk membuatkan Jisung minuman, Jisung hanya memperhatikan Chenle dengan tatapan lesunya.
"Masih nggak mau ngomong dia?" tanya Renjun yang baru saja turun dari kamarnya hendak mengambil cemilan di lemari dapur.
"Belom kak, coba tolong bujukin dia dong" jawab Jisung dengan raut wajah yang sangat memprihatinkan.
Renjun menghampiri Chenle yang sedang membuatkan Jisung minuman dan menaruh beberapa cemilan di piring untuk Jisung.
"Le coba dengerin Jisung dulu lah, dia mau jelasin kenapa kemarin nggak bilang" ucap Renjun sambil menatap Chenle dengan tatapan penuh arti.
Chenle menatap Renjun dengan wajah datarnya dan menjawab pertanyaan kakaknya tanpa ekspresi apapun.
"Gue kan daritadi diem, nungguin dia buat jelasin tapi dia terlalu lama jadi gue buatin aja minuman" Renjun hanya diam tidak menanggapi, Chenle pun meninggalkan dapur untuk memberikan minuman kepada kekasihnya.
"Kalo mau jelasin, cepet jelasin aku cape pengen tidur, kemaren seharian kerja kelompok" ucap Chenle dengan wajah datarnya.
Jisung menatap mata Chenle dalam, ia menggenggam tangan Chenle dan mengelusnya pelan. Ia menangkup kedua tangan Chenle dengan tangannya dan mengelusnya pelan.
"Aku cuma anterin dia pulang, dia udah punya pacar juga lagian, kemarin pacarnya ada urusan jadi nggak bisa anterin dia pulang, pacarnya minta tolong sama aku buat anterin, aku nggak bilang sama kamu karena takutnya malah kamu marah sama aku" ucap Jisung sambil menatap Chenle yang memalingkan wajahnya.
"Siapa bilang? Justru aku marah kalau kamu nggak bilang sama aku" ucap Chenle yang masih memalingkan wajahnya.
"Lagian aku juga tau, bahaya perempuan pulang sendirian malem malem, aku tau mana yang baik mana yang buruk, aku nggak se posesif itu" sambung Chenle dengan mata yang berkaca kaca.
Jisung merengkuh Chenle dan mengusap punggungnya pelan, Chenle menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Jisung, Chenle berusaha menahan semua emosinya yang sebetulnya bisa meledak.
"Maaf, lain kali aku bilang sama kamu, maaf aku kemarin nggak bisa anter kamu pulang" ucap Jisung dengan nada yang sangat lembut.
Chenle hanya diam tidak menanggapi ucapan Jisung, ia hanya terlalu takut mengingat perempuan yang diantar Jisung pernah menaruh hati pada Jisung dan sempat memulai pendekatan.
Chenle mungkin kelihatannya biasa saja, ia memberikan kebebasan pada Jisung, tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat takut jika Jisung menemukan orang yang lebih menarik dan lebih memberikan rasa nyaman padanya. Ia sangat ingin membicarakan seluruh keluh kesahnya tapi ia memilih untuk memendamnya.
Ia berusaha untuk percaya kepada kekasihnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.