30

6.7K 706 29
                                        

Sorry for typo, happy readings...


"Dek, akhirnya"








Abi menatap sekeliling, ia bisa melihat ada ayah, opa, bahkan kedua abangnya yang mengelilingi nya dengan wajah berkaca-kaca. Memang nya apa yang terjadi? Kenapa keluarga nya mendadak mellow seperti itu. Padahal seingatnya ia hanya tidur dan bermimpi bertemu sang bunda.


"Anak ayah.. terimakasih nak" ucap Reno sesekali mencium pucuk kepala Abi.

"Opa tau kau kuat nak"


"Abang seneng dek, akhirnya kamu udah bangun"


"Akhirnya dek, Lo tidur lama banget. Gue kan kangen ngerusuh bareng hiks.."


Abi masih belum mengerti keadaan, dan entah kenapa juga tubuh nya begitu lemas bahkan mulutnya begitu kelu barang untuk mengucap satu kata.


Beberapa saat kemudian dokter Juna datang dengan suster di belakangnya.
Dokter Juna pun memeriksa Abi dengan suster yang mencatat bagian vital Abi.


"Keadaan Abi sudah stabil saat ini, benturan di kepala nya menyebabkan trauma ringan yang kemungkinan ia tidak mengingat kejadian terakhir itu" jelas Juna,


"tapi untuk paru-paru nya belum di katakan membaik, Abi harus secepatnya mendapat donor"


"Lakukan yang terbaik untuk anak ku Jun" ujar Reno, rasa nya ada lega dan cemas yang menghujam bersamaan. Lega bahwa anaknya sudah kembali bangun, dan cemas bahwa masih ada satu ancaman yang mengintai nyawa sang anak.


"Tenanglah, Abi anak yang kuat. Dan akan kupastikan secepatnya Abi mendapatkan donor"


Reno mengangguk,memantapkan diri untuk yakin dan berfikir positif untuk kedepan nya.

"Baiklah, gw pamit dulu. Masih ada pasien yang harus gw periksa"


"Boy, om pergi ya... Cepat pulih jagoan" ujar Juna, sebelum pergi dari ruang rawat Abi.


Abi hanya tersenyum tipis di balik masker oksigen nya, sudah dibilang kan masih terlalu lemas dan malas untuk berbicara. Restu yang sedari tadi cerewet minta di gaplok aja Abi masih enggan bicara, ia hanya melirik atau tersenyum sekena nya.



"Dek abis ini, kita mukbang yaa. Terus kita upload videonya di tiktok, enak tuh kita dapet followers degem-degem cantik"

"Oh iyaa, jangan cuma tiktok yutub juga kali yaa.. biar sekalian jadi konten kreator terus dapet duit dan terkenal juga"

"Pokoknya adek harus cepet sehat ya, sedih tau dek, liat kamu tidur gak bangun-bangun" lirihnya.

Arga, Reno, dan opa disana hanya sebagai penonton dengan sesekali memakan buah yang seharusnya untuk Abi, tapi ya bodo amat sie kan kalo abis bisa beli lagi.

Abi yang melihat Abang nya yang sedih lantas ingin bangun dan menduduk kan tubuhnya, tapi belum apa-apa kepalanya sudah pusing minta di gampar duit segepok.

"Eh.. eh mau apa dek, udah tiduran aja. Jadi pusing kan" ujar restu, Arga pun mendekat membenarkan letak tidur sang adik.

"A..bang" panggil nya

Seketika wajah mereka cemas, takut-takut kalo Abi merasa sakit atau sesak.

"Iya, adek kenapa? Ada yang sakit emm?" Tanya Reno.

Abi menggeleng, kemudian tersenyum tipis memberi kelegaan pada mereka tersendiri.
Reno memijat pelan kepala Abi, sebagai seorang ayah ia paham kalau anaknya tengah menahan sakit.

"Mending kalian makan dulu di kantin, biar nanti ayah yang jaga Abi" perintah Reno pada kedua anaknya

"Tap-"

"Tidak ada tapi-tapian restu, ayah gak mau kalian ikut sakit"

"Baiklah, Arga sama restu pergi dulu yah. Oh iya, opaa mau nitip sesuatu?"

"Tidak, opaa setelah ini harus pergi ke kantor ada yang harus opa selesaikan"

"Baguslah, bang sekalian antar opaa mu sampai depan ya... Takut kesasar, maklum lah sudah cukup usia" kata Reno dengan santai nya, membuat Abi yang tadi diam terkekeh pelan.

"Dasar anak durhaka!"

"Sudahlah, ayo Arga, restu antar opaa. Seperti nya opaa harus segera menandatangani surat wasiat untuk kalian, kecuali ayahmu"





Semua nya tertawa, nampak begitu puas dengan drama yang ayah dan opaa nya lakukan itu.


"Cih, baperan. Lagian aku sudah kaya, tidak butuh harta warisan" ujarnya pelan, tapi masih di dengar oleh Abi.

"Sombong" ujar Abi

Reno meringis, ternyata Abi mendengar yang ia ucapkan tadi. "Bercanda hehe, sebenernya ayah masih mau di kasih warisan. Biar tambah kaya kita" bisiknya


Abi hanya menggeleng, ternyata kelakuan ajaibnya ia dapat dari sang ayah. Memang seratus persen tidak di ragukan lagi kalau Reno ini memang ayahnya.

"Boy.. opaa pergi dulu ya, istirahat yang banyak biar cepat pulih" ujar opaa

"Abang, nanti sore kesini lagi. Jangan nakal" kata arga

Sementara restu, ia menyatukan telapak tangan nya dengan sang adik mengisyaratkan sebuah tos "dah Abang pergi dulu, jangan kangen ya dedek Abi yang paling gemes" kemudian menciumi punggung tangan Abi menyisakan ilernya.


Abi mendengus, kadang ia berpikir apa Abang nya yang satu itu waras? Tingkah nya alay bin lebay. Dengan pelan ia mengelap tangan yang terkena liur abangnya itu, Reno yang melihat terkekeh kemudian mengambil tisu basah dan mengelap tangan sang anak.




"Makasih a..yah"


"Sama-sama nak, Abi makan ya. Ayah udah siapin bubur ayam kesukaan Abi" memang setiap hari Reno selalu menyiapkan bubur ayam kesukaan sang anak berharap Abi bangun dari tidur nya, dan sekarang akhirnya semua penantian nya berbalas. Dan si bubur tidak masuk ke perutnya lagi, karena jujur setiap hari membawa bubur untuk sang anak yang tak kunjung bangun dan berakhir bubur masuk dalam perutnya sendiri, kan sayang kalau di buang hehe




Definisi kaya tapi medit ya bapak Reno:))






Setelah makan, Abi mulai mengantuk efek perut kenyang. Jiwa-jiwa kebo mulai merasuki mwhehe


"Yah, puk-puk" ujarnya dengan mata sayu efek mengantuk nya




Reno dengan senang hati mengpuk-puk bayi besarnya, tak terasa anak yang dulu ikut pergi dalam gendongan sang istri sudah sebesar sekarang. Ahh, ia jadi teringat mendiang sang istri, ibu dari anak-anaknya.










"Ratih aku mohon, berikan waktu Abi denganku lebih lama... Aku tidak akan sanggup kehilangan lagi, ku mohon"









#tbc




Abi mode kalem on🙌🏻







Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir batin... Masih belum telat kan guys?

Hehe,

Maaf beribu maaf, kalau author banyak dosa karna lama update^^

HASBINAKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang