Sorry for typo, happy reading...
"Ng-gak! Gak mungkin jun. Lo jangan bohong!" Teriak reno di ruangan dokter atas nama juna, mata nya sarat akan ketidak percayaan.
Dokter yang di panggil juna membasahi bibirnya, berdiri menghampiri sahabat lama kemudian meraih pundaknya, "tapi ini kenyataan nya ren, gue tau ini berat. Tapi mari kita sama-sama berjuang untuk abi, anak lo" setelah berucap juna menepuk pelan pundak seorang ayah itu.
"Kita masih bisa melakukan terapi untuk abi, dan memberi nya obat untuk saat ini" lanjutnya
Reno tak bergeming, pikiran nya di penuhi segala kemungkinan buruk. Beberapa menit lalu, hasil pemeriksaan abi begitu membuatnya mengernyit tak paham. Ia awam akan hal-hal berbau medis.
Dan juna menjelaskan tentang penyakit abi, penyakit yang entah tak ia tahu. Tapi cukup membuatnya takut.
Emfisema, penyakit progresif yang menyerang paru-paru. Penyebab utama terjadinya emfisema adalah asap rokok yang masuk ke paru-paru. Asap rokok dapat berdampak negatif seperti,
Menghancurkan jaringan paru-paru, sehingga menimbulkan obstruksi.
Menyebabkan peradangan dan iritasi saluran pernapasan yang bisa memperburuk emfisema.
Melemahkan sel kekebalan tubuh di paru-paru, sehingga tidak efektif saat melawan bakteri atau membersihkan paru-paru dari partikel-partikel yang terkandung dalam rokok.
Penjelasan juna, begitu menampar reno. Terutama kata rokok, menyadarkan nya bahwa begitu banyak ketertinggalan untuk menjaga abi.
Sekali lagi penyesalan begitu menghantam nya, memukul telak hatinya. Menyesakkan.
Baru sebentar ia merasakan kehadiran putra bungsu nya, dan takdir begitu memilukan ini terjadi lagi.
Ia bangkit, menghapus kasar air mata yang banjir sejak vonis abi itu. Ia melangkah dengan tergesa, tujuan nya satu, memeluk sang buah hati.
Abi sudah di pindahkan keruang rawatnya, padahal baru beberapa hari lalu ia keluar dari ruangan itu. Abi pun tak tahu, akhir-akhir ini tubuhnya begitu aneh. Sering sekali merasakan lelah berlebih bahkan sesak nafas.
Arga duduk di samping brankar abi dengan ponsel yang sama sekali tak lepas dari pandangan nya.
Restu, ia juga sama bahkan posisi nya begitu terlihat nyaman dengan ponsel di miringkan. Lagian siapa juga yang mau menyebut rumah sakit sebagai tempat nyaman, tidak ada dan tidak mau.
Abi sudah bangun sejak beberapa menit lalu, cukup kesal melihat para abangnya yang tadi panik malah sekarang asik dengan ponsel masing2 .
Ia merengut, bibirnya maju beberapa centi, tangan nya melipat di atas dada. Jangan lupakan nassal canul yang masih harus ia pakai. Salahkan sesaknya tak mau hilang, padahal abi risih sekali.
Brakk
Pintu terbuka dengan tidak santai nya, menampilkan sosok sang ayah dengan muka yang... entahlah, sedikit sembab?
Abi menaikan alisnya satu saat sang ayah masuk dan tiba-tiba memeluknya erat.
"Masih sesek dek?" Tanya nya
"Dikit yah, ayah kenapa?" Abi hendak melepaskan pelukan sang ayah, namun tubuh lemas nya tak sebanding dengan pelukan erat itu.
"Sebentar, ayah ingin seperti ini dulu dek" ucapnya
Sungguh reno ingin sekali menangis di belakang pelukan abi, menumpahkan semua segala ketakutan nya.
Ia ingin tetap seperti ini, memeluk abi dengan hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
HASBINAKA
Fiksi Remaja"Bun, Abi udah ketemu ayah" "Gak nyangka abi juga ternyata punya abang"
