"Selamat siang wahai babikuuuu tercinta"
Suara rusuh yang memekakan telinga, siapa lagi kalo bukan dari dua cunguk. Yep, Roni dan Yuda.
Dua mahluk luar binasa rusuh, yang sayangnya bergelar sahabat Abi. Heleh, ngomongin diri sendiri ya bi?
"Heh, ngapaen kalian kesini. Bikin udara sempit sama telinga gue pengang tau nggak!"
Emang mereka berdua no have ahklak, masuk bukan nya salam, malah teriak nggak pake adab. Untung nggak jantungan, cuma agak gemeter doang sih dikit.
"Dan nama gue Abi, panggil gue Abi! Jangan tambahin 'B' di depan nya, inget itu!" Ucapnya, sambil menekan kata 'B' dalam kalimatnya.
"Iye-iye maap, canda doang kita. Sensi amat sik" ujar Roni.
"Yaudah kalo gitu panggil bee, boleh dong" ucap Yuda, sembari menarik turunkan alisnya.
Puk
Sebuah bantal melayang, tepat menenai muka buluk dan kusam Yuda. Pelaku nya ya siapa lagi kalo bukan si Abi.
"Gue bukan tawon ya anjir!"
Sementara di pojokan, sang ayah hanya menggelengkan kepala. Sudah sangat maklum dengan kelakuan mereka bertiga.
.
Diwaktu yang sama,
Arga tidak fokus dengan mata kuliah hari ini, mata nya sesekali melirik arloji dan dosen di depan.
Siang ini harusnya, dia menemui adiknya.
Tapi tiba-tiba, dengan seenak jidat nya yang botak si dosen menambah matkul minggu depan dengan siang ini.
Arga mendengus, kesal dan panas sekali.
Hampir 2 jam ia mendengar celotehan dosen botak di depan nya.
Rasanya ia, ingin membolos kalau saja tidak ingat dengan petuah sang ayah.
'ingat, Abang itu anak sulung ayah. Harus kasih contoh yang baik sama adiknya, jangan bandel ya bang. Ayah percaya Abang itu, mampu jadi tumpuan buat adiknya'
Itu kalimat yang Arga masih ingat, kala ia membolos sewaktu SMA dulu. Dan Arga, tidak mau membuat ayahnya kecewa.
Tapi,
Dia rindu Abi.
Hahh, lama sekali sih kelasnya.
.
Ting!
Ting!
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk, dengan tidak sabarnya restu membuka. Ia kesal, hari ini berniat pulang cepat. Tap ada aja halangan nya.
Rapat club futsal, dimana ia sebagai kapten harus bisa di andalkan.
Bukan kemauan restu untuk menjadi kapten, dia sudah sangat cukup menjadi pemain saja. Yang penting kecintaan nya pada futsal terwujud, tapi teman-teman nya menunjuk dia sebagai kapten dengan dalih kecekatan nya pada setiap permainan.
Berat, menentukan pilihan.
Ingin menolak, tidak enakan.
Gimana tidak enak hati, teman-teman nya dengan berbaik hati menyogok nya dengan berbagai snack dan minuman kesukaannya.
Pintar sekali bukan.
Jadi waktu itu ia hanya bisa menjawab dengan anggukan dan senyum terpaksa, yang membuat teman-teman nya girang bertepuk tangan.
Namun, kekesalan tadi menguap begitu saja saat tau siapa pengirim pesan..
My lil brother🐣
Bang, balik bawain Boba ya!
My lil brother🐣
Oh iya!
Jangan lupa sama seblak sekalian
yang pedes, oke? ya oke dong ya😁
My lil brother🐣
Hati-hati pulang nya Abang.
Restu tersenyum, membaca deretan pesan adiknya. Pesan terakhir nya pun membuat hatinya menghangat.
Perhatian kecil,
Namun amat berarti.
Ia mengetikan balasan, untuk sang adik.
Anda
Siap pangeran,
Tapi gak ada seblak pedes!!
Iyaa, kamu istirahat aja dulu dek,
Kemungkinan Abang pulang agak sore.
Sementara Abi membaca balasan abangnya mendengus, apa-apaan seblak tapi gak pedes. Yakali, gak mantap kan.
"Napa dah muka lu, asem bener" ucap Roni
Abi memutar matanya jengah, males ngomong lagi pengen seblak pedes yang pedesnya nampolll.
"Ih si bocil, di tanya malah diem-diem bae" ujar Yuda
"Gapapa"
"Dih, gak nyambung amat sik"
"Bodo"
"Pundungan lo"
"Ya biar"
Begitu terus,
Nggak ada yang mau ngalah.
Mana si ayah Reno nggak ada, tadi izin keluar makan siang.
Ninggalin mereka bertiga tanpa pengawasan tuh salah besar.
Kalo nggak adu mulut ya, bantal dan semua benda melayang. Untung ruang rawat Abi kedap suara, jadi nggak bakal ganggu pasien lain.
Hingga suara pintu terbuka, menghentikan aksi Roni yang akan melayangkan bantal pada Abi.
Arga masuk, dengan plastik kresek di tangan nya.
Keget,
Satu hal yang ia tangkap dari ruang rawat Abi saat ini.
Dimana bantal, selimut dan tas sekolah kedua teman adiknya berceceran kemana-mana. Bahkan isi tas nya pun sudah tidak berada di tempatnya lagi.
Dan satu lagi, yang membuat nya ingin meledak saat itu juga. Roni dengan posisi siap melemparkan bantal pada adiknya.
Suasana mendadak hening dan tegang secara bersamaan, apalagi Roni yang tertangkap basah. Ia gugup dan langsung membenamkan wajahnya pada bantal yang tadi akan ia lempar ke Abi. Serem banget, aura bang Arga ini.
Bahkan Yuda, cuma bisa diem mematung sembari mengunci mulut rapat-rapat.
Dan Abi???
Dia siap memulai drama nya.
"Hiks.. Abang"
#tbc
Sistem kebut,
Nyambung nggak sih?
Komen sama vote yuk,
Biar aku cepet up juga🤓
KAMU SEDANG MEMBACA
HASBINAKA
Novela Juvenil"Bun, Abi udah ketemu ayah" "Gak nyangka abi juga ternyata punya abang"
