Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Abi melepaskan pelukan reno, untuk kali ini izinkan abi menangis. Ia sama sekali tak ingin paham alasan dari orang yang mengaku ayah nya itu.
Dan lagi, alasan yang mengatasnamakan kesalahpahaman itu tanpa bukti jelas.
Penghianatan yang di salahpahamkan?
Cih!
Kalau benar itu salah paham lantas mengapa sang bunda begitu marah besar, dan berakhir pergi.
Abi tau bunda nya itu baik, dan ia sangat mengenal bunda nya lebih dari siapapun.
Pasti saat itu bunda pergi dari rumah, dengan perasaan hancur.
Meninggalkan rumah, dan anak2 nya. Semasa hidup, bunda nya menangis diam-diam saat malam, mungkin inilah alasan di baliknya.
Abi menundukkan kepalanya, terisak dengan bahu bergetar.
Arga tak tinggal diam, di rengkuhnya punggung yang lebih kecil itu. Arga paham, bahwa semua sulit di terima. Begitu juga dirinya, dulu arga marah besar pada ayahnya yang membiarkan sang bunda pergi terlebih membawa si bungsu.
Bertahun-tahun ia mencari sang bunda dan adik nya, berharap sang waktu berhenti barang sebentar, agar tak kehilangan masa-masa bahagia bersama sang bunda.
Kini giliran restu yang mendekat, ikut serta dalam rengkuhan penuh kerinduan. Mereka terisak, tak ada kata sedikitpun. Terlalu kelutuk di ungkapkan dengan kata-kata.
Bahagia? Tentu saja, kini adik bungsu nya telah kembali. Bisa di rengkuh kapan pun.
Bila rindu, tinggal peluk.
Hendra dan reno hanya tersenyum di belakang punggung adik-kakak itu.
"Udah ya, gausah nangis ada Abang disini" kini arga menangkup pipi Abi dengan dua telapak tangannya, kemudian menghapus anak sungai disana.
Restu tersenyum, melihat arga begitu perhatian pada abi.
"Tumben bang, biasanya kalo liat orang nangis suka nabok-nabok" cibir restu, membuyarkan suasana melow .
"Yaa itu sama lo, beda kalo sama abi mah"
"Bisa aja ngeles nya kek motor buluk mang Parjo"
"Iri bilang bos"
"Dih ngap--"
"Sudah-sudah kalian jangan ribut, mending kita keluar kasian abi mau istirahat" titah sang opah
"Abi tidur sama abang ya" restu langsung gercep
"Gak"
"Jangan gitu dong dek"
Abi keukeuh dengan pendirian nya, untuk saat ini, ia hanya ingin sendiri. Merenung lebih tepatnya.
Sementara dua cucunguk yang masih di UKS menatap bingung, pasalnya di tempat tidur yang tadi Abi berada sudah kosong.
Setelah sadar sepenuhnya mereka panik, kalang kabut mencari di setiap sudut sekolah. Dari warjok, gudang, rooftop tapi tak menemukan sosok abi.
Yuda menepuk jidat nya, "bego kenapa gak telepon aja" umpatnya pada diri sendiri.
"Lah iya juga" timpal Roni di sebelah
"Hallo Jing lo dimana, gue panik asu pas bangun gak liat lo"
"........"
"Sialan lo, pulang ga bilang2 gue takut banget lo ilang tauga!"
"........"
"Yaudah pulang nanti gue ke kostn lo bi"
"........."
"Eh babi, katanya lo dirumah lah sekarang bilang ga di rumah"
"........."
"Hah, rumah siapa anjir, lo di culik?"
"........."
"Yang bener lo, yaudah besok lo utang cerita ke gue!!"
Tutt.
Setelah mengakhiri panggilan dengan yuda, abi mendudukkan dirinya tak lupa bersandar di kepala ranjang.
Dia memikirkan semua yang terjadi hari ini, dari awal dia bangun tidur sampai kesialan-kesialan yang menimpanya di sekolah tadi.
Abi tak menyangka dirinya masih memiliki seorang ayah, bahkan dua Abang serta opah.
Abi kira setelah kepergian bunda, Abi sendirian dan menganggap dunia begitu kejam padanya. Iya meski tanpa di pungkiri Abi sebenarnya tak benar-benar sendirian, masih ada paman dan bibinya. Tapi tetap rasanya berbeda, entah mengapa.
Abi mengambil ponsel di atas nakas, membuka galeri, disana terdapat foto sang bunda. Tersenyum menggendong abi yang memakai seragam TK.
"Bun, Abi udah ketemu ayah"
"Gak nyangka abi juga ternyata punya abang"
"Bun, Abi rindu bunda"
Abi mengusap foto bunda nya. Rasanya sesak sekali, Abi ingin menangis saja hari ini.
Abi mematikan ponsel nya, kemudian berbaring. Barangkali ini semua hanya mimpi, dan ketika bangun semua kembali ke kehidupan Abi yang biasanya.
#to be continued
Banyak typo, jangan sungkan untuk berkomentar ya manteman.