02

36.1K 2.6K 128
                                        

Hasbinaka Nusa Sanjaya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hasbinaka Nusa Sanjaya

.
.
.

Abi bangun, mendudukan tubuhnya dan berdesis pelan kala pening di kepalanya.

Dia menyipit kan matanya pelan karena terlalu silau, setelah di rasa pandangan kembali normal. Abi terheran, pasalnya ini bukan ruangan uks sekolah.

Ini ruangan seperti kamar, dan Abi hanya menggelengkan kepala pada ruang kamar ini. Begitu besar dengan peralatan yang lengkap, tidak seperti kamar kost nya yang hanya ada kasur lantai, lemari usang dan tv tabung kecil.

Iya selama ini abi tinggal di kost, alasan nya tidak ingin merepotkan paman dan bibi nya.
Dulu abi itu tinggal dengan bunda nya, tapi setelah bunda nya meninggal dua tahun lalu, abi tinggal dengan kedua paman dan bibinya.

Pernah abi bertanya pada bunda, dimana ayah nya, kenapa abi tak pernah tahu ayah, dan mengapa bunda selalu mengalihkan pertanyaan Abi dengan hal lain ketika dirinya bertanya perihal seorang ayah.

Paman dan bibinya pun sama. Mereka cuma bilang untuk selalu berdoa dan sabar.

Berdoa untuk sang bunda yang telah tiada? Sudah tentu Abi lakukan. Tapi ayahnya? Abi tidak tahu ayahnya masih hidup atau tidak.

Dan bersabar, belum cukup sabarkah Abi selama ini. Dulu dia begitu bahagia hidup dengan sang bunda, saat hari dimana kepergian bunda untuk selamanya pun Abi tak menangis sama sekali, bukan--bukannya Abi tak sedih, hanya saja abi ingin mengikhlaskan sang bunda agar bunda pergi dengan damai.

Kalau pun di tanya tentang kesedihan, tentu Abi sangat merasakan sedih teramat dalam. Bunda satu2 nya orang yang dia punya, tapi abi tidak ingin egois. Karena bunda nya juga punya titik lelah, dan ia tahu sekarang bunda nya pasti bahagia disisi Tuhan.


Cklek

Atensi abi beralih pada pintu yang di buka dari luar.

"Lo--" tunjuk abi pada Arga

"Makan dulu, tadi pagi ngeyel sih di suruh makan juga"

"Siapa sih lo" tanya Abi

"Saya Abang kamu"

"Gausah bercanda bangs--"

"Makan gausah banyak omong" Arga menyendokkan bubur dengan tidak elitnya ke mulut Abi.

"Gimana gue ga ngomong, lo udah bawa gue tanpa ijin anj--"

Arga kembali menyumpal mulut Abi dengan buburnya.

"Jangan mengumpat, dan saya tidak perlu izin dari siapapun. Karena kamu adik saya"

"Gausah banyak bacot, gue gapunya Abang!"

"Tapi kenyataan nya kamu punya dua Abang, juga ayah dan opah nak" atensi abi beralih pada tiga orang yang baru masuk itu.

"Kalian gila!! Gue gak kenal kalian, minggir gue mau pulang!!"

"Pulang kemana? Barang2 kamu udah opah bawa kesini"

Barang Abi gak banyak di kostn, jadi mereka tak perlu repot2. Toh kalo Abi butuh baju dan barang lain tinggal beli yang baru.

"Aishh anjing, kalian sebenernya siapa bangsat!!"

"Kami keluarga kamu nak" ujar reno, melangkahkan kakinya mendekat pada abi.

"Maaf, maafkan ayah yang baru bisa menemukan mu" Reno memeluk abi, mereka yang melihat pun merasakan penyesalan yang sama.

Hasbinaka, bungsu dari keluarga Sanjaya yang dulu pergi telah kembali.

Karena sebuah kesalahpahaman 15 tahun lalu, Ratih--bunda Arga, Restu dan Abi pergi meninggalkan rumah membawa serta Abi yang saat itu masih berumur 2 tahun.

Arga yang saat itu sedang sekolah tak bisa mencegah kepergian sang bunda.

Restu saat itu berusia 3 tahun, yang masih tak mengerti apapun selain menangis.

Flashback on

"Kamu gausah bilang apapun mas!" Abi yang dalam gendongan Ratih saat itu

"Aku bisa jelasin, semua gak seperti yang di lihat"

"Cukup mas cukup!! Aku gak butuh penjelasan apapun lagi!"

Dengan menggendong abi yang berusia 2 tahun ratih meninggalkan rumah, dengan perasaan hancur.

Sebuah penghianatan, nampak terlalu jelas dan kentara di depan matanya.

Melihat sang suami tengah berdua bak pasangan remaja dengan sang sekretaris, membuat hati ratih teriris.

Amarah yang begitu dalam, sehingga ia pergi. Dan lupa dengan dua anak lain nya yang ia tinggalkan.

Flashback off

"Maaf nak, maaf setelah ini ayah janji untuk menjaga mu" Reno melepaskan pelukannya, kemudian mengecup pelan kepala si bungsu.


#to be continued

HASBINAKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang