1. Salah posting!

219 67 29
                                        

Taraaaaa! Aku hadirkan kembali cerita yang di kemas ulang. Dengan judul yang berbeda dan isi cerita yang ngga jauh dari cerita awal.

Ps. Mohon maaf jika ada kesamaan dalam nama tokoh, sampul, dan lain-lain yaa.

∆∆∆

"Paketttt." Seru Kang paket tampan yang kini sedang berdiri di pagar pintu rumah besar. Tanpa melepas helmnya ia menyodorkan dua bungkusan besar berwarna hitam lengkap dengan alamatnya tertera di sana; ketika seorang gadis muda menghampirinya seraya tersenyum manis. Siapa coba yang tidak melting ketika paket yang di tunggu-tunggu datang lalu yang mengantarkannya sosok yang sangat tampan.

"Atas nama mbak Sofia?" ucapnya lagi dan pada dasarnya wajah Ardit meskipun tidak tersenyum sudah terlihat sangat ramah serta enak di pandang, auranya selalu positif.

"Iya, Mas..." jawabnya dengan mesem-mesem.

"Boleh di foto dulu..."

"Boleh, boleh." Ucapnya lagi dengan penuh semangat. Ia mendekatkan tubuhnya sambil terus mepet mendekat sekali sampai-sampai kepalanya menempel pada lengan kokoh milik Ardit. Ini kenapa jadi seperti ini?

Ardit Dirgantara. Ia melancarkan aksinya, mengambil gambar sebagai bukti paket telah di terima oleh penerimanya. Ardit merasa lega ketika gadis muda itu masuk ke dalam rumah setelah mengatakan terimakasih padanya. Astaga. Pikirnya seraya menggelengkan kepala, ia menyalakan mesin motor sementara tangannya sibuk bermain ponsel.

"Nirmala...!" Suara Ardit sembari menjalankan motornya untuk mengantarkan paket selanjutnya dan selanjutnya lagi. Ia menelepon Nirmala, menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Ada apa?" suara seorang perempuan di sebrang sana.

"Nanti malam kita makan-makan!" teriak Ardit lagi suaranya seperti di terpa angin, wajah tampannya terlihat jelas meskipun ia memakai helmnya. Tinggi dan gagah.

"Kau meneleponku hanya untuk mengatakan itu?"

"Hehehe. Nanti malam aku yang akan mentraktir kalian semua." Ardit tersenyum bangga karena setelah misi ini selesai ia akan mendapat gaji ke empat kalinya. Telepon di tutup begitu saja oleh Ardit dan sudah di pastikan saat ini Nirmala mengomel karena mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.

Di tempatnya Nirmala terlihat sedang berdecak detik berikutnya ia memutar bola matanya, malas. "Astaga! Dia hanya mengatakan itu?"

Nirmala meletakan ponselnya kembali ke dalam lokernya dan melanjutkan pekerjaannya bergabung dengan para koki di dapur setelah masa istirahatnya telah habis. Dulu ia sempat magang kemudian bekerja di sebuah Perpustakaan umum di pusat kota sesuai dengan minatnya karena suka dengan buku, sekarang ia bekerja menjadi koki di restoran Korea karena memang minat dengan masak memasak. Ia ingin menggali minat dan bakatnya di dunia kuliner.

Menurutnya mengambil pekerjaan harus sesuai dengan minat dan bakat. Ia tidak ingin memaksakan pekerjaan yang tidak dalam konteks yang bisa ia kuasai. Jika tidak sesuai dengan minat dan bakat untuk ke depannya akan menyulitkan. Kecuali mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar dan bekerja maka sudah pasti tidak akan ogah-ogahan.

Berbeda dengan Ardit yang serba bisa melakukan apapun tanpa harus bersusah payah. Ardit adalah laki-laki yang berasal dari kalangan mampu namun yang masih belum di pahami Nirmala adalah salah satu sahabatnya ini mempunyai pekerjaan sampingan sebagai kurir pengantar paket.

"Ck! Motivasi dia jadi kurir pengantar paket apa, sih?" gumam seorang laki-laki, dahinya berkerut samar menatap ponselnya yang menampilkan pesan-pesan Ardit di sana, lengkap dengan foto wajah tampannya di atas motor.

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang