Selamat membaca sampai akhir.
Terimakasih.
∆∆∆
Nirmala mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan besar di ruang utama. Tidak ada siapapun, hanya ada sebuah televisi yang menyala menampilkan video anak-anak serta berserakan mainan di depan televisi. Melihat itu, Nirmala tersenyum tipis, mematikan tayangan video yang sepertinya sejak semalam di biarkan menyala lalu Nirmala berjalan menuju dapur. Mata dan hidungnya terlihat memerah.
"Seandainya bahu mu terlalu banyak menampung beban, kau boleh menangis"
"Tapi, berjanjilah padaku kau akan kembali tersenyum dan bahagia setelahnya. Hidup terus berlanjut dan duniamu tidak perputar hanya pada sesuatu yang membuatmu sakit,"
Nirmala menyesap minuman Teh hangat sambil memandang keluar jendela, awan di atas sana berwarna kelabu dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Pohon besar di depan Rumah dengan dedaunan yang lebat menjuntai ke bawah, entah sudah berapa menit Nirmala berdiri di dekat jendela memandangi daun-daun kecil malayang-layang tertiup angin.
Nirmala telah kehilangan keseluruhan objek yang selalu merengkuhnya membawanya dalam pelukan hangat di pagi hari seperti ini. Nirmala kehilangan sebuah elemen. Elemen yang biasa di gunakan untuk kehidupan, elemen yang minciptakan suasana ternyaman di dunia yang bernamakan kasih sayang. Peluk erat dalam dekapan dada yang bidang. Nirmala sudah tidak lagi bisa mendekapnya, menggesekkan kepalanya pada dada yang bidang itu.
Ada kerinduan di dalam kehilangan. Ada kenangan dalam ingatan yang terus berputar-putar membuat Nirmala kerap kali rindu akan sosok Rey.
"Ma..." suara anak laki-laki yang lucu berumur 5 tahun menghampiri Nirmala sambil mengucek matanya. Ia mendekati Nirmala dengan wajah khas bangun tidur, kaos dalam serta boxer bergambar Tayo masih melekat di tubuh kecilnya.
Nirmala menoleh, meletakkan segelas cangkir teh nya di atas meja makan lalu beralih pada malaikat kecilnya. Ya, setidaknya makhluk kecil di depannya sekarang menjadi pelipur laranya ketika merindukan Rey. Makhluk kecil yang mampu membuat hidup Nirmala membaik dan bangkit dari rasa kehilangan. Malaikat kecil yang tidak pernah bisa Nirmala bayangkan bisa hadir di dalam hidupnya. Darah daginya bersama dengan Rey. Keajaiban yang Tuhan juga berikan pada Nirmala.
Nirmala tersenyum ketika melihat wajah malaikat kecilnya, wajahnya benar-benar bersinar seperti milik Rey ketika bangun dari tidurnya. Semua hal yang ada di dalam diri anak kecil di depannya ini adalah jelmaan Rey junior. Wajahnyanya. Bibirnya. Rambutnya. Hidungnya. Hanya saja mata sipitnya memang mirip dengan Nirmala, sipit dengan bola mata kecokelatan. Kerinduannya akan sosok Rey seolah terobati ketika melihat malaikat mungil di depannya ini. Meskipun tidak sepenuhnya.
Nirmala tersenyum, mengelus pucuk kepala Clay dengan lembut. "Iya sayang"
"Kapan Om Ken datang." Ungkapnya lirih. Ah! Nirmala mendengus. Baru saja bangun tidur yang di cari justru Ken.
"Nanti sore."
"Clay ingin bertemu Om Ken, Ma..."
Bangun tidur saja yang di cari Ken. Ya ampun. Ken memang menjadi sosok teman bagi Clay setelah Rey. Papanya. Dan Nirmala merasa sedikit lega karena Clay tidak begitu rewel mengenai kepergian Rey. Hanya, lebih menjadi diam dan tidak banyak bicara seperti biasanya ketika Rey masih ada.
Lagi lagi Nirmala menyunggingkan senyumannya. Clay memang sangat dekat dengan Ken, bahkan sejak Rey masih ada pun mereka bertiga sudah seperti menjadi sahabat. Rey, Clay dan Ken. Tidak heran, jika Rey tidak ada pasti yang di cari adalah Ken sampai Rey benar-benar tidak ada lagi di dunia ini; Clay semakin mencari Ken. Meskipun memang dengan Ardit juga dekat tetapi entah mengapa Clay lebih sering mencari Ken.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomantikIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
