10. Seperti Katak.

70 53 7
                                        

Selamat membaca
Vote and coment nya ygy.

∆∆∆


Rey masih belum beranjak dari ranjangnya pagi ini, hari Sabtu adalah hari liburnya tanpa kegiatan, ini hari sabtu, hari liburnya. Rey menyandarkan kepalanya di atas lengan, sambil memandangi jarum panjang yang membuat putaran dengan diikuti bunyi tik-tok muncul lalu tenggelam secara bergantian, ia bosan, sejak tadi yang ia lakukan hanya diam memejamkan matanya dengan di terangi lampu pijar; ia bosan dan mulai berangan-angan. Tiba-tiba pintu di dorong dari luar. Sial. Rey lupa menguncinya semalam. Rey memang sedang memejamkan matanya sambil bersandar tetapi bergerakan lain dapat ia rasakan.

Ken memasuki kamar Rey yang sangat dingin sekali karena AC, ia sampai bergidik saking dinginnya. Ia melihat Rey duduk di ranjangnya dengan memejamkan mata. Ken tahu, Rey sedang memikirkan sesuatu sampai membuatnya seperti itu.

"Mau makan di luar?" Ken menyadarkan Rey dengan menawarkanya untuk makan di luar, tepatnya mencari sarapan, mengenai perjanjian piket masak yang Rey buat asal-asalan itu Ken tidak terlalu memikirkannya tetapi sepertinya Nirmala menganggapnya serius dan Ken hanya tidak ingin ikut campur biar saja itu menjadi urusan Rey sendiri.

Rey masih bergeming.

"Kenapa? Tidak enak badan?"

Rey menggeleng.

"Mengingat masalalu?!"

Rey terdiam.

"Kedatanganku sangat tepat! Ayo kita lari pagi, sudahnya kita beli sarapan!" serunya menarik selimut Rey. Itu kan, yang sering di lakukan orang-orang berolaraga lalu makan, kemudian.

Dari arah lain Ardit tertawa memasuki kamar Rey seenaknya dengan toples makanan ringan di tangannya serta mulutnya mengunyah dengan heboh. "Ini sudah siang, Ken!" seru Ardit seraya menujuk jam dinding di kamar Rey. Pukul 11:30.

"Pengantar paket, kau tidak bekerja?" Ken mengernyitkan dahinya.

"Hari ini, aku meliburkan diri." Jawab Ardit sekenanya.

Rey membuka matanya mendengar ramai-ramai di kamarnya. "Kenapa kalian di sini sih! Keluar." perintah Rey dingin.

Namun Ardit tidak peduli, ia memilih duduk di sofa panjang dan empuk di sudut kamar Rey dengan nyaman. Sementara Ken, memilih duduk di pinggir ranjang Rey.

"Kursinya empuk dan kenyal seperti jeli." Pungkas Ardit seraya mengelus kursinya lalu mendudukkinya.

"Selimutnya lembut seperti sutera!" Ken ikut-ikutan, dia menyentuh selimut Rey dengan lembut lalu mengangkat selimutnya dan membiarkan selimut itu berada di pipinya.

"Kalian seperti katak bertemu air, berisik!" omel Rey seraya menarik selimutnya kembali. Dan menyingkirkan tangan Ken dari sana.

"Seru dong bisa main bersama. Biasanya kalau sedang berkumpul dan bernyanyi katak sukanya saling menindih satu sama lain."

"Bacot!" Ken berseru.

"Sesama jenis?" Rey menimpali dengan serius.

"Ya, macam-macam lah! Ada yang sendirian ada yang satu keluarga ada bapak dan ibu dan kedua anaknya, mereka saling menindih satu sama lain."

"Tahu tidak yang paling enak siapa?" Ardit

"Siapa" jawab mereka berdua

"Yang paling atas lah! Kan enak seperti raja."

"Sialan!" seru Rey dan Ken dengan kompak.

"Keluar kalian. Aku mau tidur lagi."

"Angkatlah aku Bang. Apalah dayaku masih terlalu nyaman di sini."

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang