Selamat membaca ya.
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.
∆∆∆
Rey menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya setelah meeting ia langsung kembali menuju ke ruangannya sementara Ken, ikut melihat perkembangan proyek bersama dengan beberapa karyawan lainnya yang Rey tunjuk untuk ikut serta dalam perjalanan itu.
Rey kemudian meraih ponselnya, menggulir layar dan mencari kontak telepon Nirmala dan menekan tombol panggil. Terdengar dengungan bahwa ponsel Nirmala aktif dan berdering, tinggal menunggu sang pemiliknya menyentuh atau menjawab panggilannya, namun setelah beberapa kali panggilan hasilnya nihil, Nirmala tidak menjawabnya. Rey menghela nafasnya.
[apa?!] - Nirmala
Rey tersenyum, ketika sebuah pesan muncul di layar ponselnya dengan manis tapi tidak dengan kalimat nya.
''Tidak menjawab panggilan tapi balas pesan... benar-benar Nirmala ya.'' gumamnya
[Dimana?]- send
[Maunya, ada dimana?!]- Nirmala
[Di hatiku]- send
[Kalau aku ada di hatimu kenapa di cari.]- Nirmala
[Aku menuntut lebih.]- send
[Egois.]- Nirmala
Rey berdecih, beberapa kalimat dengan nada merayu di hapusnya. Rey takut kalau-kalau Nirmala menghindarinya karena terlalu berlebihan. Namun Rey seperti tidak peduli.
[Aku serius. Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Bisa kita alihkan ke panggilan video?]- send
Setelah menunggu lebih dari lima menit Rey tidak mendapatkan jawaban dari Nirmala, berinisiatif memanggil pun sepertinya percuma karena ia sudah di pastikan meninggalkan ponselnya di Tas dan lebih memilih untuk bercengkrama dengan Dinda, Mama Rey. Pasti Nirmala sibuk dengan Mamanya sekarang. Astaga.
[Aku sedang menyetir, Rey. Nanti saja.]
Rey melirik jam di atas dinding sana puku 10 pagi. Seulas senyuman terbit secercah matahari terbit. Rey tahu hari ini, Mamanya memang mengajak Nirmala ke pasar Cilincing yang letaknya memang di kampung Nelayan, Cilincing Jakarta Utara. Dan mungkin akan menginap di sana karena pagi-pagi mereka harus membeli berburu binatang laut. Pagi tadi mereka sudah berangkat namun sampai sana sudah sedikit siang dan jika terlambat sedikit saja sudah tidak mendapatkan barang yang diinginkannya. Itu pengalaman Rey saat dulu di ajak oleh kedua orang tuanya ke pasar tersebut.
Tok!
Tok!
"Masuk!"
"Pak, ada tamu yang mencari Bapak..."
"Suruh masuk." Ucap Rey dengan tenang.
"Silahkan..."
"Hei, Rey!" suara berat itu menyapa pendengaran Rey dan begitu ia mengangkat kepalanya ia bisa melihat wajah itu tengah tersenyum manis. Daniel. Seketika rahang Rey mengetat.
"Ada perlu apa sampai tuan muda Cross datang kemari sendirian?" ucap Rey seraya tersenyum tipis, walau enggan meladeninya tetapi Rey harus bersikap bijak dan tenang.
"Hanya ingin mengunjungimu...kau tidak menggunakan sekertaris di dalam ruangan pribadimu?"
"Untuk apa aku menggunakannya, di luar saja sudah cukup." Rey tahu maksud pembicaraan Daniel ini menjurus kemana, tepatnya Daniel sedang mencari-cari sesuatu dan itu sudah pasti ia tengah mencari Nirmala. Bagus sekali, tidak sia-sia ia meminta Rara meliburkan Nirmala untuk beberapa hari ke depan, mungkin alam sedang ingin bekerja sama dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomanceIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
