Selamat membaca ya.
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.
∆∆∆
Daniel mencengkeram setir mobilnya kuat-kuat. Setelah mengajak Dea makan siang dan berbelanja makanan ringan dan lainnya lalu mengantarkan Dea kembali ke kantornya setelah itu dengan tanpa tujuan Daniel terus berkendara melewati macet yang panjang, menunggu dengan sabar dan diam seperti menikmati kemacetan yang panjang yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Daniel meninggalkan kantornya.
Sejujurnya, kembali ke Jakarta adalah pilihan yang paling buruk untuk dirinya sendiri tetapi lagi lagi ia tidak bisa membantah keputusan yang Mamanya buat. Karena memang perusahaan itu membutuhkan kepemimpinan seperti Daniel, dulu ia samasekali tidak tertarik memimpin perusahaan dunianya memang berbisnis tetapi bukan bisnis dalam bidang jasa seperti itu.
Bukankah sudah waktunya bersikap profesional? Maka ia akan melakukannya tanpa melibatkan perasaan dan masa lalunya jika nanti ia akan bekerjasama dengan perusahaan Rey. Ya, sudah saatnya ia harus bersikap realistis dan profesional sebagai pemimpin. Mungkin kenangannya memang tidak akan pernah hilang dalam memori kepala dan Daniel hanya perlu menegaskan satu hal di dalam dirinya, ia hanya perlu melupakan hubungannya.
"Kau yang menghandle pekerjaanku sementara waktu, Don!" ucap Daniel berbicara pada seseorang di sebrang sana.
"Baiklah...kau dimana?"
"Aku tidak tahu." Bisik Daniel
"Tidak tahu? Kau tidak melakukan hal-hal yang mengerikan, kan, Daniel!"
"Aku juga tidak tahu, Don!"
"Sialan! Katakan dimana kau sekarang, jangan buat aku kembali menyeret mu dalam keadaan kacau. Kau ini seperti hidup segan mati tak mau..."
"Aku tidak akan melakukannya, aku masih menginginkan melihat dunia dan melihat dia bahagia meskipun tidak bersamaku."
"Kau belum melupakannya?"
"Jangan menyuruhku untuk melupakannya! Itu akan sulit untukku."
"Bukankah kau sudah melepaskan dan juga merelakannya! Untuk itu kau harus belajar melupakan hubunganmu..."
Daniel menulikan pendengarannya, ia mematikan sambungan ponselnya lalu menekannya lama dan membuat ponselnya mati total. Jalanan tiba-tiba menjadi lenggang dan sepi setelah sekian lama mobilnya berjalan dengan pelan, kini ia melajukan mobilnya dengan sangat kencang tanpa tujuan. Entahlah, ia tidak memikirkan akan kemana kali ini. Ia hanya ingin berkendara terus menerus seperti ini, biarkanlah seperti ini dulu. Ia butuh ketenangan.
***
Nirmala menghembuskan nafasnya dan berulang kali menggosok-gosok tangannya yang mulai terasa dingin. Dinginnya malam terlebih di pinggir pantai seperti ini, sepi hanya terdengar suara ombak saja. Nirmala menengadah ke atas langit, di atas sana bertaburan titik-titik kecil yang berkilau. Bintang kecil. Nirmala tersenyum. Ia terus berjalan di pinggir pantai, bermalam di sini tidak buruk juga, karena besok pagi-pagi sekali pasti Mama Rey sudah akan mengajaknya berburu binatang laut yang tidak jauh dari penginapan ini.
Daniel menghentikan mobilnya setelah lelah berkendara tanpa henti, ia tidak menemukan ujungnya. Sama seperti perasaannya. Pilihannya. Hidupnya. Daniel mengernyit setelah sadar bahwa ia telah jauh dari Jakarta Pusat. Pantai? Ia mengedarkan pandangannya sampai pandangannya menangkap satu objek. Daniel buru-buru turun dari mobilnya untuk memastikan objek itu benar adanya.
"Nirmala?" Daniel mengernyit ketika mendapati sosok kecil jauh dari pandangan matanya. Sosok perempuan yang memenuhi pikirannya saat ini tengah berdiri di sisi pantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomansaIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
