25. Crazy Mind

8 6 3
                                        

Sampai juga pada bab ini. Selamat membaca ya teman-temanku. 

Jangan lupa tinggalkan jejak,
vote dan komentarnya.

∆∆∆

Setelah kejadian penculikan yang dilakukan oleh Miranda rumah bersama di jaga ketat oleh beberapa security terbaik yang di pilih William, Papanya Rey. Semuanya menjalani hari yang biasa begitupun dengan Nirmala menjalani aktivitas seperti biasanya tetapi harus Rey yang mengantar jemput Nirmala. Merepotkan? Tentu saja. Karena setiap pergerakan ia merasa di perhatikan dan melakukan ini itu Nirmala harus mendapat persetujuan dari Rey secara langsung.

Hari ini Nirmala tidak lagi berangkat kerja. Bukan! Bukan seperti itu, tetapi ia berhenti bekerja. Bukan karena ia takut dengan kejadian kemarin, bukan pula karena selalu di antar jemput oleh Rey. Tidak. Tidak seperti itu karena Nirmala sudah harus memikirkan masa depannya akan di bawa kemana, untuk itu ia memilih untuk membangun bisnisnya sendiri dengan uang tabungannya yang selama ini ia simpan dan ia merasa sudah cukup. Cukup berani dan bertekad untuk mengambil keputusan dan langkah dalam membangun bisnisnya.

Nirmala merasa lelah setelah seharian di luar ke sana kemari melihat lahan kosong namun belum merasa pas di hati. Seharian ini ia di temani oleh Pak Budi seorang supir profesional. Beliau juga merekomendasikan beberapa lahan kosong namun karena hari sudah sore Nirmala akhirnya menyerah saja dan di lanjutkan besok saja ke tempat lahan kosong yang di rekomendasikan oleh Pak Budi.

"Aaah!" Teriak Nirmala.

Rey apalagi ia juga ikut berteriak begitu menyadari sesuatu ia amat sangat terkejut melihat Nirmala dengan penampilannya yang tidak biasa .

Hampir saja Nirmala melempar sesuatu ke arah Rey. Tidak biasanya ia pulang lebih awal seperti ini. Dan Nirmala merasa aman-aman saja mandi di kamar bawah. Bukan, bukan mandi lebih tepatnya saat dirinya baru pulang dan pergi ke kamar mandi di dekat tangga saat ia ingin menyalakan keran biasa untuk mencuci kakinya justru yang keluar adalah air shower yang sialnya tepat di atas kepalanya.

Dan membuat seluruh tubuhnya basah kuyup lebih sial lagi ia sempat tidak tahu, kebingungan mengatur posisi aliran air menjadi aliran biasa saja, bukankah memikirkan bagaimana cara mematikan kerannya itu lebih baik? Namun otaknya tidak sampai memikirkan hal itu fokusnya hanya memutar keran menjadi aliran biasa saja.

Rey, jantungnya memompa dengan cepat karena rasa terkejutnya melihat Nirmala dengan rambut terurai berantakan dan menggunakan baju putih polos tanpa celana tidurnya, setidaknya. Sial. Mata Rey di buat gagal fokus dengan penampilan Nirmala.

"Baju siapa yang kau pakai?" tanyanya setengah kesal setengah terkejut.

Nirmala meneliti tubuhnya sendiri, kini ia sedang mengenakan baju kemeja putih panjang yang besar tentu saja milik seseorang kalau tidak milik Rey mungkin Ardit atau Ken yang tertinggal di kamar mandi bawah karena secara jelas tubuh mereka sama besarnya. Memang apa masalahnya?

"Jangan bilang kau habis mandi di kamar mandi bawah? Nirmala!" di ujung kata Rey berteriak kesal terlebih entah kemeja siapa yang Nirmala pakai seingatnya ia tidak meletakan kemejanya di kamar mandi bawah di dekat tangga. Sepertinya, ia tidak bisa jika tidak berteriak.

Melihat Rey teriak dan kesal seperti itu Nirmala terkejut, sekali lagi. "Apa?!" teriak Nirmala tidak mau kalah. Ia juga sama melupakan kejadian romantis semalam dan beberapa hari kemarin. Dan Nirmala juga tidak bisa jika tidak membalasnya.

"Kau mandi di kamar bawah?!" tanya Rey sekali lagi.

Nirmala menghela nafasnya. "Aku..." baru saja Nirmala ingin menjelaskannya seperti biasa Rey menyelanya.

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang