Selamat membaca.
Vote dan komennya ygy.
∆∆∆
"Aku pergi dulu,"
"Oke. Hati-hati di jalan," kata Nirmala dengan masih mengunyah bakso di dalam mulutnya. Benar, pada akhirnya mereka kencan di rumah yaitu di dapur, ruang makan. Hanya berdua saja dan saat ini Rey sudah selesai dengan makanannya.
"Cium dulu."
"Aku sedang makan Rey, mulutku pedas dan bau bakso..." belum juga Nirmala melanjutkan kalimatnya Rey sudah mencondongkan tubuhnya dan mengecup dahi Nirmala beberapa kali dan terakhir mengecup pucuk kepala Nirmala dengan penuh cinta dan sayang.
"Mungkin besok aku tidak akan ke sini. Aku akan sibuk di kantor,"
"Baiklah."
"Bibirmu sampai bengkak seperti itu! Sudah aku bilang jangan terlalu pedas, Nirmala! Ya ampun!"
"Memang seperti ini kalau makan bakso Rey, astaga! Terlebih kuahnya panas" jawab Nirmala.
"Tapi pedas juga, kan?"
"Iya," Nirmala nyengir kuda menatap Rey dan saat itulah Rey kembali mencium Nirmala lagi di pipinya sampai beberapa kali.
"Ya ampun!" Nirmala menggeram, kesal. Kalau saja tangan Nirmala tidak kotor ia sudah mendorong Rey sejak tadi.
"Besok seharian aku tidak akan bertemu denganmu. Jadi, biarkan aku menciummu bahkan jika kau sedang tidak makan pedas seperti itu aku sudah menyerangmu sejak tadi." Rey terkekeh.
"Kau mau membunuhku?"
"Tidak. Aku kan mengatakan kalau saja kau tidak makan pedas, sayangku." Rey mengacak-acak rambut Nirmala dengan gemas tetapi merapikan lagi ketika Nirmala menatapnya tajam dengan gerakan asal Rey merapikan rambut Nirmala karena ulahnya tadi namun begitu rapi kembali dan Nirmala akan memasukan baksonya ke dalam mulut Rey kembali berulah lagi, mengacak-acak rambut Nirmala dengan gemas.
"Rey!" teriak Nirmala melengking ke seluruh ruangan dapur. Sudah pedas dan panas ada yang mengganggu, rasanya semakin badas saja membuat adrenalin nya meningkat pesat.
Rey terkekeh, menjauh. "Aku pergi," katanya lalu benar-benar melangkahkan kakinya menghilang di balik tembok.
Setelah Rey pergi ponsel Nirmala berdering beberapa kali ia mengeceknya, awalanya ia kira itu adalah Rey namun ia mengernyit begitu tahu siapa yang menelponnya sampai beberapa kali bahkan beberapa pesan spam memenuhi room chat di ponsel Nirmala.
"Bisa kita bertemu?"
Nirmala mengiyahkan ajakan Dea mau tidak mau Nirmala menurutinya, pusing juga di spam chat seperti itu dan di sinilah ia berhadapan dengan Dea di sebuah kafe di pusat kota Jakarta sejak kejadian di Bali beberapa hari lalu, waktu itu Nirmala merasa tidak enak hati karena sudah diam-diam berbicara dengan Daniel, Astaga. Entah apa yang membuat Dea menangis sampai sesenggukan seperti itu cemburu kah? Nirmala tidak tahu tetapi yang membuat Nirmala heran adalah tangan Dea benar-benar menggenggam erat tangan Nirmala seolah enggan berpisah saat itu.
Jika cemburu sudah pasti spam chatnya tidak akan bisa semanis itu, spam chatnya penuh dengan bujuk rayu yang penuh dengan stiker lucu. Dan sekarang, Dea terlihat seperti seekor anak kucing bertemu dengan induknya, dengan sorot mata yang berniar-binar. Lihatlah, senyumannya sangat manis. Apakah itu yang namanya cemburu?
"Jadi, apa yang akan kita diskuikan disini? Apa itu mengenai Rey atau Daniel?" tanya Nirmala dengan tenang. Sesekali matanya mengedarkan pandangannya ke penjuru kafe. Dea memilih tempat outdoor dimana langit malam terlihat gelap dengan bintang yang berkelap-kelip.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomanceIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
