Selamat membaca
Vote and coment nya ygy.
∆∆∆
"Sialan! Dia lebih membela Yoga?!" umpat Rey kesal sementara Ken sudah tertawa terbahak-bahak sejak tadi. Apalagi saat mendengar Rey mengatakan yoga____.
"Aku jadi tidak suka Nirmala bekerja di sana!" ucap Rey penuh penekanan.
"Lalu kau mau apa?" ucap Ken fokusnya hanya menyetir. Setelah mengantar Dea ke perusahaan dimana perempuan itu bekerja, Ken melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah bersama atas permintaan Rey, tentu saja. Sepertinya bosnya ini sedang tidak mood untuk kembali ke kantor dan pasti ujung-ujungnya dirinya lagi yang harus menghendle pekerjaannya. Sialan memang.
"Aku? Ingin menikahinya langsung!"
"Aku rasa dia yang tidak ingin menikah dengamu, menyukaimu saja tidak..."
Rey terdiam.
"Hey! Kau tidak akan menangis, kan? Hanya karena ucapanku?"
"Hampir saja!" Rey tidak berbohong. Bahwa dirinya hampir saja menangis akan ucapan Ken, ia sedih bagaimana jika Nirmala benar-benar tidak menyukainya.
"Sialan!" Ken merasa geli sendiri melihat Rey yang seperti itu.
"Jadi aku harus bagaimana agar Nirmala mau melihatku sebagai laki-laki yang menyukainya, Ken. Kau tahu, aku sudah menunggu Nirmala sejak lama tapi lagi dan lagi aku selalu kalah, perasaan Nirmala selalu saja terbagi..."
"Bahkan saat di restoran tadi dia bersikap biasa saja. Malah tersenyum manis."
"Dia hanya bersikap profesional, Rey." jawab Ken rasional. "Astaga! Aku jadi merinding...memang kau mau respon yang seperti apa? Berharap dia cemburu dan marah-marah?" ujar Ken ia benar-benar merinding jika melihat Rey saat mode seperti ini. Terlebih ia merasa di abaikan Nirmala.
"Apa perlu, aku berhenti saja peduli dengannya?" gumam Rey.
"Itu bukan ide yang bagus!"
"Lalu aku harus melakukan apa, sialan!"
"Menyatakan perasaanmu dengan benar, bodoh! Sudah aku bilang sejak dulu nyatakan saja perasaanmu itu pada Nirmala dengan benar, kau yang tidak mau dengar! Rasakan saja hanya menerima hikmahnya."
"Kau benar. Lalu bagaimana caranya menyatakan perasaanku pada Nirmala dengan benar?"
"Bobo bareng..." mata Ken mengerjap lucu, ketika mobil berhenti karena lampu merah dan saat itu juga Rey menempeleng kepala Ken dengan keras. Kalau kalau Ken tidak sekuat baja mungkin wajahnya sudah membentur setir mobil. Pertahanan Ken sangat kokoh. Ia hanya mengadu kesakitan saja, ingin menyerang balik namun lampu hijau sudah menyala terlebih banyak klakson saling bersautan. Alhasil ia hanya bisa mengumpat saja.
***
Hujan cukup deras mengguyur bumi suara gemuruh angin yang kencang serta hujan yang lebat membuat malam semakin mencekam, petir yang saling bersautan jauh entah dimana. Nirmala berjalan menuruni tangga dengan gontai di bawah lampu yang remang-remang, bahkan hampir seluruh ruangan ini lampunya berwarna kuning yang menimbulkan cahaya remang-remang. Ada bagian-bagian ruangan tanpa lampu membuat Nirmala sedikit merinding ketika melewatinya sendirian, terlebih sekarang sudah tengah malam.
''Belum tidur,'' Demi Tuhan Nirmala sangat terkejut, jantungnya nyaris keluar dari semayamnya mendengar suara dari arah lain yang kini terlihat jelas di mata Nirmala bahwa suara itu adalah mahkluk hidup yang tengah berjalan ke arah dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomanceIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
