22. Kepanikan!

9 6 3
                                        

Selamat membaca.
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.

∆∆∆


"Rey sering datang ke sini?" tanya Ken setelah menempelkan pantatnya pada kursi kebesaran milik Emily. Setelah pulang kerja Ken sengaja mampir ke gedung rumah sakit dimana Emily berkerja tentu saja hal itu ia lakukan setelah ia mengantar Rey pulang ke rumah bersama.

Emily mengeryit "Pertanyaan macam apa itu? Bukankah kalian selalu datang ke sini bersama?"

"Kalian sering datang dan mengeluh, padahal aku seorang dokter, tugasku hanya mengobati pasien." Ucap Emily lagi, ia melepaskan seragam dokternya lalu menggantungkannya di tempat seharusnya. Teman-temannya ini memang suka sekali kurang kerjaan, selalu datang dan mengeluh masalahnya mungkin karena Emily lebih mempunyai jam sibuk yang tinggi di bandingkan dengan yang lainnya jadi, membuat mereka semua sering berkunjung ke rumah sakit untuk sekedar mengobrol dan makan siang bersama.

Ken tersenyum "Mengobati pasien dan mendengar keluhan, kan?"

"Hei! Bukan seperti itu..." Emily menendang sedikit kaki Ken.

"Kalau Ardit?"

Emily menghela nafasnya, panjang. Mengingat namanya saja membuat ia mengggelengkan kepala. Meskipun memang terbilang sering, tetapi kemunculan Ardit biasanya di jam-jam makan siangnya.

"Aku yakin, dia lebih sering datang kesini daripada kita" Ken menebak.

"Nirmala yang lebih sering,"

"Ah~" Ken hanya mengangguk dengan membuka sedikit mulutnya, ia sesakali menggoyangkan kursi dengan wajah yang sedikit murung. Emily jelas merasa ada sesuatu dari sahabatnya yang satu ini.

"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan?"

"Kau menyadari sesuatu rupanya?"

Emily merotasikan matanya, gemas. "Kau terlalu tampan untuk murung,"

"Aku hanya sedang bosan saja dengan semuanya,"

"Kau jelas membutuhkan seseorang."

Ken mengernyit bingung, "Dukun?"

"Pacar bodoh!"

"Aku tidak membutuhkannya."

"Dengan wajah tampan yang kau miliki, kau bisa mendapatkan banyak perempuan."

"Sudah aku bilang aku tidak butuh pacar."

"Astaga. Kau tampan tapi bicaramu kasar. Jelas kau butuh istri."

"Kalau begitu, kau mau menikah denganku?" Ken memiringkan sedikit kepalanya, menggoda Emily seraya tersenyum manis. Tatapannya benar-benar berbinar memandang Emily sebagai lawan jenis tetapi___hatinya jelas mengarah pada hal yang berbeda dan itu bukan cinta.

Emily membulatkan mata dan menghela nafasnya, "Menikahi dua laki-laki jelas merepotkan." Jawabnya seraya tersenyum, tentu saja niatnya balas menggoda Ken. Emily memang tengah menjalin sebuah hubungan dengan Frans Jackson.

Ken tertawa. "Respon macam apa itu!"

Ken meneliti Emily yang sibuk merapihkan mejanya. Meneliti setiap ruangan ini dengan seksama wangi dan segar. Khas ruang kantor dokter pada umumnya, "Apa Jack baik?"

Emily mengangguk. "Dia sangat baik sampai membuat aku jatuh cinta."

"Astaga, kau jatuh cinta dengan dia hanya karena dia baik?"

"Bukan begitu maksudku__" suara Emily tertahan menghentikan aktivitasnya dan menatap Ken. "Ngomong-ngomong Rey dan Nirmala, pacaran? Mengingat kemarin malam mereka berpelukan seperti itu sepertinya Nirmala mulai membuka hati"

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang