Selamat membaca.
Di mohon tinggalkan jejak ygy
Vote dan komennya.
∆∆∆
Kebingungan itulah yang ada di benak seorang kurir dengan menenteng bungkusan makanan yang tidak sedikit, bungkusan yang bisa dibilang besar entah apa saja yang di pesan. Sesekali sang kurir menengadah melihat kalau-kalau pemilik rumah menunjukkan batang hidungnya di atas balkon, atau minimal menghampirinya sebelum dirinya berteriak dengan lantang.
''Pesanan...!''suaranya melengking, sesekali melongok ke bagian celah jendela yang sedikit terbuka karena si pembeli begitu tidak peka, setidaknya jika ada suara mesin kendaraan berhenti tepat di depan rumah segera keluar pikir sang kurir.
Area rumah terbilang sepi, penghuni entah kemana bahkan nyaris tidak ada orang apalagi menyahut, setidaknya. Dengan wajah masam berdiri di depan pintu.
"Kak saya sudah___." Ungkapnya dengan sedikit kesal, namun sebelum di jawab oleh penerima telepon di sebrang sana, teriakan dari dalam rumah membuat Abang kurir memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
''Sebentar...!'' teriakan seorang laki-laki dari dalam tak kalah melengking nya.
''Pesanan makanan, Mas!'' serunya, Ketika sang pemilik membuka pintu itu lebar-lebar, dengan rambut yang basah sehabis keramas.
''Apa mas?'' jawabnya, karena ia merasa tidak memesan apapun untuk pagi ini.
''Pesan makanan!'' suara si Mas berjaket biru itu dengan sabar dan tawakal. ''Atas nama Nirmala CW.'' Jawabnya lagi, setengah berteriak. Lengkap dengan si pemilik pesanan.
Ardit yang mendengar itu dengan sengaja ia mengorek-orek lubang telinganya, salah satu kebiasaan ketika sehabis mandi ya, seperti itu.
''Atas nama Nirmala CW.'' Ungkapnya lagi, memperjelas agar manusia yang sungguh akan budek ini, tidak lagi bertanya.
Ardit mengernyit, apa katanya tadi Nirmala CW? Setahunya nama lengkap Nirmala adalah Nirmala Cendikia Putri pakai embel-embel P bukan W. Kalau mau di singkat pun hasilnya CP bukan CW.
''Tolong Mas, di ambil tangan saya sudah mau kesemutan nih!'' suaranya terdengar lagi, seolah beban yang ada di tangannya sungguh berat. Sementara Ardit hanya nyengir tidak tahu diri, seraya segera meraih bingkisan besar itu dan melupakan telinganya.
''Terimakasih ya, Mas.'' Ungkapnya dan langsung buru-buru masuk.
''Mas... Tunggu sebentar'' Dengan separuh pintu yang sudah tertutup, Ardit berbalik namun hanya menyisakan kepalanya saja yang terlihat di balik pintu.
''Belum di bayar kah?'' Ardit sudah overthinking.
Masalahnya ia sedang tidak punya uang tunai yang tersedia di dompet, bahkan untuk mencari dompetnya saja ia harus berlari ke dalam sungguh sangat tidak etis sekali, belum lagi ia akan kebingungan karena ternyata tidak berhasil menemukan dompetnya yang entah dompet itu ada dimana. Barangkali ikutan lari juga malas membayar biaya tagihan seperti pemilik nya.
''Bukan'' jawab Mas-nya sambil tidak sedikitpun beralih pada layar ponselnya.
''Jangan buat saya menunggu, Mas. Saya mau yang gratisan, titik tidak pakai koma. Duh mana sih Manusianya ini, Nirmala...!'' Ardit berusaha memanggil Nirmala dan berharap agar perempuan itu muncul lalu membayar makanan yang perempuan itu pesan.
''Biar saya foto dulu, Mas!'' suaranya kemudian, dan masa bodo dengan kegelisahan manusia aneh yang berdiri didepannya sekarang. "Ini semua sudah di bayar, Mas..."
Ardit menghela nafasnya panjang, maklum saja lah ia tidak pernah tinggal di Bumi sebelumnya, bukan, bukan itu. Maklum saja ia baru keluar dari kamar Rey yang bagai lemari es itu, seluruh tubuhnya menggigil kedinginan, semalaman penuh ia di dalam kamar itu. Bahkan pintu kamar Rey baru di buka saat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomansaIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
