33. Bagian yang baru

11 6 3
                                        

Selamat membaca di detik-detik terakhir.
Vote dan komennya ygy.

∆∆∆





Tujuh tahun kemudian

Nirmala masih mengingat dengan jelas bagaimana Rey tersenyum. Mengingat dengan jelas Rey mamanggil namanya. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Rey mengucapakan janji sehidup semati saat dulu menikahinya. Bahkan setelah menikah, Rey masih saja bertingkah dengan segala kejahilannya seolah-olah ia akan hidup lebih lama, Rey tidak pernah mengubah apapun didalam dirinya.

Rey masih sama. Sahabat sekaligus suami yang paling baik di dunia ini yang pernah Nirmala kenal. Kebersamaan itu rasanya masih sangat kurang dan Nirmala ingin egois. Ia ingin mengulang lebih lama lagi bersama dengan Rey. Namun seolah seluruh alam semesta menentangnya dalam diam.

Nirmala masih mengingat dengan jelas tangannya yang besar itu berhasil merengkuh tubuh mungil Nirmala di atas ranjang, saat tubuhnya mendekat dan bibir Rey menyentuh permukaan bibirnya. Melumat dengan mesra, menghirup aroma manis yang tertinggal. Jika diibaratkan sesuatu bibir Rey seperti Neotam, sebuah zat yang kerap membuat Nirmala rindu. Kini ciuman itu hanya membekas dan sudah tidak bisa Nirmala rasakan lagi secara nyata. Hilang bersama dengan objeknya, hanya kenangannya yang masih terasa melekat di hati.

"Nirmala" suara seseorang menyapa masuk ke dalam kamar. Nirmala menoleh dan melihat siapa yang ada di depan pintu sana. Mama.

Mata Yura tertuju pada tangan Nirmala yang sedang memegang figura pernikahannya dengan Rey. Anak laki-lakinya yang Yura sangat cintai. Yura tersenyum. Berusaha meneguk ludah. Pahit, rasa kehilangan juga ia rasakan,

"Nirmala. Makan dulu yuk. Dari tadi pagi kau belum makan apapun," ajaknya dengan lembut.

Nirmala terenyak tahu-tahu air matanya mulai menetes kembali. Panggilan Nirmala yang baru saja Yura sebutkan sangat mirip sekali dengan suara Rey tiap kali laki-laki itu menyebut namanya. Nirmala rindu laki-laki itu memanggil namanya. Rindu serindu rindunya.

Yura memeluk Nirmala, membiarkannya tetap memeluk foto figura pernikahan anak-anaknya. Anak laki-laki yang sangat Yura cintai. Erat ia memeluk tubuh Nirmala membawanya dalam pelukkan hangat dan membayangkan Rey dalam benaknya.

D luar sana, pintu kamar yang masih terbuka terlihat William mengamati kedua perempuan yang hebat. Ia menghela nafasnya, Matanya memerah, rahang tegasnya mengetat seolah menahan sesuatu yang semakin bergeolak di dada. Ia juga kehilangan anak semata wayangnya. Ia meneguk ludah. Pahit. 

"Aku rindu Rey, Ma." Sakit rasanya. Nirmala mencengkram lengan Yura kuat. "Aku sangat merindukannya..." Nirmala mulai terisak. Pahit dan getir.

Nirmala hanya menginginkan waktu lebih lama lagi bersama dengan Rey. Ia ingin memperpanjangnya sekali lagi, setidaknya. Namun Rey memilih pergi tepat di hari ulang tahun pernikahan yang ke-7 tahun. Kejutan yang Rey berikan sungguh membuat Nirmala tidak sanggup lagi berpijak pada dunia, tidak lagi sanggup jika tidak ada Rey di sisinya. Hal-hal yang manis kemarin berubah menjadi sesuatu kehampaan, tanpanya. Hilang.

Banyak tahun-tahun yang di lewatkan bersama, beberapa tahun menikah masih banyak hal yang ingin Nirmala lewati bersama, sekali lagi, setidaknya. Banyak rasa yang ingin Nirmala sampaikan. Asa yang ingin di wujudkan bersama, namun kini Rey menghilang dari gengaman. Laki-laki seperti Rey dalam ingatan Nirmala, wujudnya kini hanya dalam bentuk kenangan yang tersimpan rapi dalam memori kepala. Rey sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sayangnya Nirmala dan orang-orang yang dekat dengannya masih ada, tenggelam dalam kesunyian.

"Mama juga sangat merindukannya...tidak ada yang bisa kita lakukan Nirmala. Kita berdoa saja ya, agar Rey juga bahagia di atas sana."

Rasanya memang menyesakan dada. Memang benar, tidak ada yang bisa dilakukan untuk jiwa yang sudah tidak lagi bernyawa, semua Ibu di dunia ini pasti menginginkan anaknya hidup lebih lama lagi atau jika bisa, Yura ingin menukar nyawanya untuk Rey. Tetapi, sayangnya tidak ada yang bisa ia lakukan. Jika nyawa dibaratkan setumpuk uang kertas rasanya Yura ingin mengumpulkan banyak-banyak dan menukarnya dengan uang. Tetapi sekali lagi, benar-benar tidak ada yang bisa ia lakukan untuk sebuah nyawa. Nyawa Rey dan nyawa semua orang adalah milik Tuhan.

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang