Selamat membaca
Vote and coment nya ygy.
∆∆∆
Pagi-pagi sekali Nirmala sudah bangun dan terlihat sibuk, sibuk bertempur di dapur bersama peralatan masak. Piket di hari Senin sungguh luar biasa sekali dan seenaknya Rey menempatkannya di hari Senin, beruntung kerjanya berganti sif siang jadi ia tidak jadi mengamuk. Setelah membuat 5 porsi nasi goreng Nirmala kemudian melanjutkan aksinya lagi.
Bersih-bersih, pertama-tama ia mengelap seluruh meja, buffet dan vas-vas bunga. Lalu menyapu dan yang terakhir mengepel lantai dengan ember yang besar. Walau sebenarnya hal-hal yang ia lakukan itu tidak perlu karena semuanya terlihat bersih tanpa berdebu begitupun dengan lantainnya yang masih terlihat kinclong. Baginya apa yang terlihat di mata, adalah kotor atau begitulah caranya meluapkan amarah. Menyembuhkan luka. Atau mengalihkan perasaanya.
Hmpph!
Pagi-pagi sudah sial saja hidupnya. Ia buru-buru bangun karena pagi ini harus meeting di kantornya. Lagi. Ke dapur untuk mengambil air minum adalah rutrinitas setiap pagi yang ia lakukan, sebenarnya bisa saja ia meletakkan air mineral di kamarnya sebelum tidur namun Rey lupa melakukannya.
Nirmala? Ah, jangan ditanya ia sedang asik mengepel dengan mendengarkan music dengan earphone di telinganya. Bergoyang ke sana kemari dengan gagang pelnya seolah ia sedang berlatih menari atau semacamnya, melihat itu Rey kesal setengah mati. Dengan kasar Rey melepaskan earphone di telinga Nirmala, sampai benda itu jatuh menjauh dari pemiliknya.
''Kau?!'' Suaranya dengan nada tinggi. ''Bikin celaka saja!'' kemudian Rey berjalan mengangkang sambil memegangi pantatnya yang sakit tanpa mengatakan apapun lagi.
"Kenapa dia?" gumam Nirmala heran mau marah karena earphonenya dilempar juga percuma saja karena Rey sudah keburu menjauh.
''Apaan nih?'' seru Ken muncul dari arah yang sama saat Rey pergi tadi.
''Kenapa lantainya basah, ada atap yang bocor ya, Nir?'' ucapnya, seraya mengedarkan pandangannya ke atas plapon, dilihat dari sudut manapun semua yang ada di atas sana mulus tanpa cedera, apalagi bocor seperti katanya.
''Aku...?'' ungkap Nirmala, ah suaranya terputus Ketika manusia lain juga datang dengan senyuman menyeringai, wajah bantal terlihat Ketika laki-laki berambut ikal itu menguap dan__.
Hmmph!
Ardit korban ke dua ia terjatuh seketika pada lantai yang basah, keras seperti batu. Melihat itu, Ken maupun Nirmala segera berlari untuk menolongnya.
''Shit!'' serunya. Ardit berdiri dengan tegap sambil mengelus-elus pantatnya. Nirmala panik melihat ke sekelilingnya yang tampak kacau, seolah ia baru menyadarinya.
''Handuk aku mana?'' kini suara Rey terdengar kembali. Datang dengan tanganya seolah meminta sesuatu untuk di kembalikan atau setidaknya di cari barang itu. Mendengar itu membuat Nirmala seketika mengernyit ambigu, memandang Rey dengan penuh kecemasan. Baik Ken dan Ardit saling melempar pandangannya.
"Aku cuci...'' jawab Nirmala ragu-ragu. Seingat nya, Rey tidak pernah meletakkan handuk di jemuran atas.
''Kau ini kenapa, sih!? Lantai basah dan buat aku jatuh. Handuk yang ada dijemuran kau cuci, aku mau mandi! Astaga, tidak ada yang menyuruhmu melakukan ini semua!'' ungkapnya kesal. Ken dan Ardit saling menatap satu sama lain tidak percaya Rey jatuh terpeleset, kapan tepatnya? Kalau sadar giliran Rey yang celaka mereka tidak pernah bisa menyaksikannya, terkesan di sembunyikan. Tidak adil.
"Kau tahu, ini hari apa? Hari senin Nirmala!" suara Rey tegas, urat-urat lehernya sampai muncul karena kesal sekali.
"Kenapa? Hari ini aku piket, ingat?!" jawab Nirmala dengan polos.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomansaIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
