23. Paradoks

10 6 3
                                        

Selamat membaca.
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.

∆∆∆

"CUKUP!" raung Miranda.

Miranda terus meraung meminta Rey untuk berhenti. Sial! Jika kejadiannya seperti ini sudah sejak dulu ia melenyapkan Nirmala saja agar tidak menjadi bumerang. Nyatanya perempuan yang di cintai anaknya sampai setengah mati itu juga di cintai oleh laki-laki lain dan sampai melindunginya seperti ini. Apa yang istimewa dari perempuan sebatang kara itu, huh! Nirmala tidak ada apa-apanya dengan perempuan yang menjadi istri Daniel saat ini.

"Kalian harus menyusul Rey. Biar Bunda dan Emily yang akan menjemput Nirmala. Jangan biarkan Rey memukuli Daniel."

Itulah kepanikan Yura sesudah jejak Nirmala di ketahui ada di sebuah hotel di daerah yang sangat jauh dari Jakarta Pusat. Sementara Ardit dan Ken kini berada di gedung sebuah pernikahan Daniel dan Dea yang memang sedang berlangsung. Mereka datang terlambat. Rey sudah memukuli Daniel sampai babak belur di depan Miranda, Mamanya Daniel sendiri. Di depan Dea istrinya. Lihatlah bahkan perempuan paruh bayah itu sampai meraung tidak sesuai dengan kelakuannya yang selama ini licik dan manipulatif. Bahkan orang-orang yang mencoba menghentikan perseteruan itu tidak sanggup karena Rey sudah kesetanan.

Ardit dan Ken berlari dan melerai. Tubuh besar Rey berhasil di tarik secara paksa sementara Daniel sudah tidak berdaya dengan luka lebam dimana-mana. Dea hanya membiarkan itu terjadi karena percuma dirinya maju untuk melerai, Rey sudah menjiwai perannya sebagai iblis yang tidak punya belas kasih.

"Minggir!" sentak Rey ia terus memberontak melakukan perlawanan ingin meraih tubuh Daniel lagi untuk ia pukul kembali.

"Jangan! Jangan sentuh anakku lagi. Aku mohon! Lepaskan dia. Ini semua salahku, aku yang membawa Nirmala dan sekarang dia ada di sebuah hotel..."

"Sudah cukup! Jangan sakiti anakku lagi...aku mohon! Dia ada di hotel..."

"Sial!" bukan Ardit yang bicara. Bukan Ken. Bukan juga Rey apalagi Daniel jangankan berbicara bersuara saja ia sudah terlihat tidak mampu.

"Ibu macam apa kau ini?" sentak Dea dengan frontal seraya mengangkat tubuh Daniel ia kemudian menyuruh beberapa orang yang tadi memisahkan Daniel namun tidak berhasil Dea akan membawa Daniel ke rumah sakit, tentu saja. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Mama mertuanya. Menculik seseorang? Demi agar anaknya segera menikah? Wah! Entah mengapa Dea sangat kesal.

Dea memang tidak menyukai Nirmala meskipun perempuan itu adalah sahabat Ardit, ponakannya tetapi rasa tidak menyukainya tidak sampai pada hal yang menjurus pada kebencian. Tidak. Tidak sama sekali. Tidak menyukai Nirmala karena perempuan itu adalah perempuan yang paling di cintai Rey dan baru baru ini ia mengetahui fakta lain, bahwa Nirmala juga adalah perempuan yang pernah di cintai oleh Daniel, suaminya sendiri. Dan entah mengapa Dea merasa kasihan dengan Nirmala saat ini.

***

"Bagaimana keadaannya, Ly?" ucap Yura dengan rasa khawatir karena sejak Nirmala di temukan ia belum sadarkan diri sampai sekarang. Luka di tangan kanannya padahal tidak terlalu parah tetapi cukup terlihat di sana. Luka yang di dapat karena kemungkinan Nirmala sempat ingin melepaskan ikatannya saat ia pertama kali di bawa oleh orang suruhan Miranda.

"Baik-baik saja Bunda, dia terlalu banyak minum obat tidur sampai membuatnya tidur selama ini."

"Sepertinya Tante Miranda sengaja membuat Nirmala tertidur dan meletakkannya di hotel untuk mengancam Daniel."

"Miranda memang benar-benar sudah keterlaluan!" Yura sampai tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang di lakukannya.

"Ma! Bagaimana kondisi Nirmala?" suara William bersama dengan Pak Deni di belakang nya yang selalu setia kemanapun Wiliam pergi. Kecuali toilet. Kamar mandi. Kamar pribadi dan mati yang tidak akan pernah sedikitpun ia menginjakan kakinya bersama.

Dear Nirmala (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang