20. Romantisme

22 6 3
                                        

Happy reading
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
☀️

"Apa kau masih mencintainya?" Rey semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang ramping Nirmala seolah tidak ingin melepaskannya.

"Tidak,"

"Tapi dia memelukmu," Rey bergumam.

"Pelukan perpisahan."

"Hmmm." Rey kembali menempelkan kepalanya menggesekkan kepalanya pada perut rata Nirmala. Dan bagus Nirmala sudah mandi, jadi tidak ada bau Daniel yang tertinggal.

Untuk saat ini ia hanya ingin bermanja-manja saja, ia tidak ingin memaksa Nirmala mengenai perasaannya yang paling penting adalah ia mencintainya dan Nirmala tahu sedang di cintai olehnya itu saja sudah cukup bagi Rey.

Nirmala tersenyum tipis, perasaannya kembali menghangat setelah sekian lama. Ia merasa di cintai kembali. Entah sadar atau tidak tiba-tiba tangan Nirmala mengelus kepala Rey yang bertengger di antara pinggang dan perutnya. Lembut dan nyaman itulah yang di rasakan Rey.

"Kau harus makan Rey. Katanya sejak tadi pagi kau tidak makan, kan? Kau harus makan sekarang." Ucap Nirmala tangan mungilnya masih bertahan di atas kepala Rey.

"Aku tidak ingin bertemu dengan mereka yang bersekongkol mengurungku di sini semalaman!" elusan tangan Nirmala di kepala Rey terasa nyaman dan rasanya Rey ingin membawa Nirmala dalam dekapannya saja saat ini juga, mengurungnya hanya untuknya dan tidak akan membiarkan Nirmala beranjak sedikitpun.

"Mereka melakukannya hanya agar kau tetap waras, kan?"

"Nyatanya aku tetap saja tidak waras sampai sekarang." Nirmala mengernyit lalu ia berhenti mengusap kepala Rey dan kembali menunduk namun Rey tidak mau melihat ke arahnya dan semakin menduselkan kepalanya sementara kedua tangannya semakin mengerat.

"Bukankah kau sudah memelukku seperti ini, hm? Kau merindukanku dan memelukku seperti ini memang belum cukup membuatmu waras?'

Rey mendengus lalu ia melepaskan pelukannya dan terakhir ia berdiri menatap Nirmala dengan lekat, menangkup wajah Nirmala dengan kedua tanganya yang besar. Di pandanginya wajah Nirmala lekat-lekat, cantik dan semakin cantik saja setiap harinya. Mendapat hal demikian mata Nirmala mengerjap beberapa kali, jantungnya sudah lebih berdebar-debar namun detik berikutnya Rey melepaskannya tanpa melakukan apapun.

"Baiklah! Aku akan keluar dan makan, kau harus menemaniku. Aku akan ke kamar mandi terlebih dahulu kau ingin menungguku atau keluar lebih dulu?" tanya Rey yang kini sudah berada di pintu kamar mandi,

"Aku akan keluar lebih dahulu...."

"Nirmala?" panggil Rey dengan lembut sebelum akhirnya Nirmala akan benat-benar keluar dari kamarnya. Nirmala menghentikan langkahnya dan menatap Rey.

"Kau cantik!" Rey mengerlingkan matanya. Dan Nirmala hanya memutar bola matanya lalu berderap keluar kamar Rey.

Saat itu juga ia di kejutkan oleh seseorang yang berdiri di depan kamar Rey seolah tengah mengintai. Nirmala tahu siapa perempuan yang ada di depannya ini. Dea. Dan Nirmala juga tahu bagaimana pun kelakuan Dea semua orang seolah memakluminya, termasuk menyukai Rey. Nirmala juga bisa mengerti itu, dan ia pikir perempuan yang Rey sukai itu adalah Dea. Dan entah mengapa Nirmala tidak pernah merasa waspada dengan kehadiran Dea, bahkan kalimatnya yang frontal pun seolah tidak pernah sampai membuat Nirmala merasa sakit hati. Ya, ia seolah memaklumi Dea juga.

"Kenapa kau keluar dari sana?"

"Dan kenapa kau terkejut?" cecar Dea raut wajahnya yang cantik menampilkan raut bingung. Rambutnya yang panjang dengan warna kecokelatan itu tergerai indah. 

Dear Nirmala (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang