Selamat membaca
Vote and coment nya ygy.
∆∆∆
Jalanan kota mulai di padati oleh orang-orang yang pulang kerja. Ibu-ibu yang sibuk ke sana kemari sambil menenteng belanjaan, menggandeng anak kecil di trotoar sambil mulutnya komat-kamit, pasti anaknya minta ini dan itu. Orang-orang dengan ponselnya di tangan. Serta abang-abang kaki lima mulai melebarkan tenda biru siap bertempur dengan alat masaknya di bawah lampu jalanan yang remang-remang.
Wangi dari masakan itu semakin menyeruak masuk ke hidung, membuat cacing-cacing di perut meronta-ronta.
Nirmala menghela nafas panjang begitu wangi masakan mulai menerpa indera penciumannya.
Nirmala mencoba mengalihkan pikirannya yang cukup menguras emosi dan tenaganya. Ia mendapat teguran keras hanya karena salah mengiris daun bawang, yang seharusnya di iris menyerong, Nirmala justru mengirisnya dengan membentuk bulat-bulat kecil. Astaga. Membayangkan Bu Rara yang marah, Nirmala merasa ngeri dan ingin menangis lagi, sekarang. Di tambah kecelakan kecil atas kecerobahannya, kaki kanannya menjadi terluka.
Belum lagi ia harus menghadapi seseorang menyebalkan yang ingin sekali Nirmala lempar ke kutub Utara atau ke planet Pluto, jika memang bisa. Bagaimana tidak menyebalkan, pulang kerja selalu saja ada yang mengganggunya.
Jika di ingat yang kemarin termasuk yang paling menyebalkan sepanjang masa.
"Sial! Gara-gara foto itu semua orang jadi ikutan merasakan hukuman?" Ken menggerutu pelan hampir tidak terdengar ia melirik Emily si pelakunya. Astaga.
''Ada apa sih!'' kini Nirmala mencoba menangkap ke anehan yang terjadi sambil mengunyah makanannya. Mereka semua diam, dan tidak seperti biasanya.
''Aku merasa, seperti sedang di adili sekarang.'' Nirmala mencoba bergurau dengan keadaan yang sunyi, ia tersenyum tipis mengangkat kedua alisnya melihat teman-temannya menatapnya dengan wajah datar.
Ardit, laki-laki itu gemas sekali melihat Nirmala yang tidak tahu diri dengan kepolosannya. Sungguh! Sudah berumur 28 tahun sifat Nirmala tidak berubah setidaknya ia membuang sifat yang satu itu kan?
''Kita sudah menunggu 15 menit, di sini!'' Baru lah Rey bersuara, sebagai seorang punya kuasa di rumah.
''Baru 15 menit, bukan 15 tahun." Jawab Nirmala dingin.
''Kau mengabaikan banyak hal, Nirmala. Dimana tatakrama mu sebagai orang yang terakhir pulang!'' ucap Rey dengan nada serius.
"Tatakrama?" Nirmala mengernyit. Tatakarama yang seperti apa yang di maksud Rey, huh! Nirmala melongok ke arah pintu ruang tamu, bahkan pintu itu tertutup rapat.
''Kau sudah membaca peraturan baru, yang ada di rumah ini?'' bisik Ken sementara Nirmala semakin mengerutkan keningnya.
''Dimana map yang aku kasih, kemarin.? Itu untuk di baca bukan untuk di jadikan benda prasasti.'' Rey mengangkat dagunya dan menatap Nirmala tajam.
''Masalahnya aku sibuk dan tidak sempat baca,'' Nirmala berkilah toh bisa membacanya setelah makan, yang penting sekarang harus memberi asupan pada lambungnya. Ah, bekerja di restoran seharusnya tidak membuatnya kepalaran kan? Tetapi khusus hari ini ia memang melupakan makan siangnya karena tidak nafsu makan setelah di marahi oleh kepala koki dan di marahi Bosnya.
''Baca sekarang!'' suara Rey menggerakkan dagunya ke arah map merah jambu, Ketika tangan Emily menyodorkan sebuah map kecil ke arah Nirmala. Entah darimana perempuan itu mendapatkannya. Bisa-bisanya Emily hanya diam, bukankah ia paling cerewet dan akan membelanya apapun yang terjadi. Tapi sepertinya Rey telah membuatnya tunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomanceIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
