21. Dalam dekapan.

9 6 3
                                        

Selamat membaca.
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.

∆∆∆




Nirmala bisa melihat kehancuran televisi yang tidak berdosa itu, masih di biarkan di sana tanpa di pindahkan ke gudang atau di jual kembali atau mungkin di bawa saja ke tempat servis. Nirmala menghela nafasnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang yang empuk. Membujuk Rey yang tengah merajuk? Rasa rasanya Nirmala ingin menertawakan dirinya sendiri saat ini. Meskipun memang bukan pertama kalinya tetapi jelas situasi ini berbeda untuknya.

"Nir."

"Hm."

"Dipanggil dari tadi juga...apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ardit ia ikut duduk di sofa panjang tepat di depan Nirmala, hanya terhalang dengan meja saja di tengah-tengah.

"Aku..." dan saat itu tatapannya juga bertemu dengan Rey yang ikut bergabung di sana, duduk di sebelah Ardit. Tiba-tiba saja Nirmala merasa di awasi dengan tatapan tajam milik Rey, kenapa juga tatapannya berubah seperti itu.

"Tidak ada!" jawab Nirmala lagi buru-buru saja Nirmala mengambil ponselnya di atas meja namun tindakannya kalah cepat dengan gerakan Rey yang sudah lebih dulu meraih ponsel milik Nirmala.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku akan menghubungi Ken." Dengan cepat juga Rey memainkan ponsel milik Nirmala dengan mudah ia membukanya karena ponsel Nirmala memang tidak menggunakan pasword, ia memang menghubungi Ken untuk membelikan ponsel baru dan setelah itu Rey masih ingin bermain-main dengan ponsel Nirmala.

"Kau tidak bekerja, Dit?" Nirmala sudah masabodo saja, tidak ada ponsel Nirmala bisa membaca novel.

"Tidak. Aku bosan. Mungkin aku akan cari pekerjaan lain, nanti." Ardit juga sibuk dengan game di ponselnya.

"Cih! Orang kaya kalau gabut suka aneh."

Nirmala sudah tidak merespon, fokusnya hanya pada novel yang sengaja ia selipkan di bawa kolong meja bahkan ia menyelipkan tidak hanya satu ada beberapa koleksi novel. Romantis. Horor. Komedi atau perpaduan di antara ketiganya. Dan pilihan Nirmala jatuh pada novel komedi yang kini ada di tangannya.

"Kenapa kau tidak membalas pesan-pesanku?" Kini suara Rey yang terdengar ia masih setia bermain dengan ponsel milik Nirmala, lebih tepatnya menyelidiki.

"Aku sudah membalasnya! Tapi di dalam hati..." jawab Nirmala seadanya tanpa mengalihkan pandangannya terhadap bacaannya. Nirmala justru bertingkah, menutupi wajahnya dengan buku takut kalau kalau di pandang dengan mata elang milik mereka berdua.

"Ck! Nirmala memang begitu Rey. Dia itu memang seharusnya tidak usah punya ponsel canggih! Punya ponsel tidak pernah dia gunakan. Bagi dia ponsel itu seperti tidak ada gunanya!" Ardit membeo panjang lebar.

"Bukan seperti itu..." Nirmala menurunkan sedikit bukunya melihat ke arah Ardit dan Rey yang kini juga sedang menatapnya. Di tatap seperti itu membuat Nirmala menarik senyumannya di balik buku, kemudian langsung mengangkat kembali bukunya, guna menutupi wajahnya, Nirmala hanya merasa malu saja di tatap seperti itu oleh Ardit maupun Rey.

"Apa? Kau mau mengelak? Memang benar, kau tidak menganggap benda itu penting." Ardit masih saja bersuara.

Sementara Rey sudah kembali tenggelam bermain dengan ponsel Nirmala. Jika di pikir-pikir memang benar. Nirmala tidak menganggap ponselnya begitu penting. Kecuali jika memang itu panggilan telepon Nirmala akan segera mengangkatnya jika pesan, Nirmala memang jarang sekali membalasnya. Rey sampai di buat heran, pesan-pesan yang ada di ponsel Nirmala banyak sekali yang tidak di balas, jangankan di balas, di baca saja tidak.

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang