Selamat membaca.
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.
∆∆∆
"Aku menyuruh kalian menemaninya! Kenapa kalian pergi!" tanya Rey kesal sendiri ketika mendapat telepon dari Mamanya karena Nirmala sudah di bawa pulang lebih dulu ke rumah bersama; setelah beberapa menit ia dan kedua temannya mencari kesana kemari tidak ketemu. Terlebih, Papanya juga mengancam akan membawa pergi Nirmala kalau sampai terjadi apa-apa dengannya.
"Kita hanya sebentar, Rey. Suer!" Ardit angkat bicara.
"Iya, hanya sebentar." Ken mengangguk menyetujuinya.
"Lagi pula, Nirmala itu tidak akan sampai di culik, Rey! Nah, sekarang yang nyulik Bunda. Mama mu sendiri."
"Dan karena itu, kita di hukum sekarang!"
"Hah! Di hukum?" cicit Ardit dan Ken secara bersamaan.
"Kenapa di hukum, Rey?" Ken mengernyit setelah sekian lamanya ia tidak merasakan hukaman dari Mama Rey lagi karena memang sudah dewasa hampir kepala tiga, masa harus mendapat hukuman lagi. Ck.
"Kau tanya sendiri sana dengan Bundamu itu!" ucap Rey seraya masuk ke dalam mobilnya setelah melemparkan kunci mobilnya pada Ken untuk menggantikannya menyetir.
"Gara-gara kalian, aku jadi tidak bisa dekat-dekat dengan Nirmala."
"Hukumanannya apa Rey? Ringan atau berat?"
"Hanya tidur satu kamar bertiga, nanti malam." Rey menjawab dengan tenang sambil memejamkan matanya. Kepalanya sedikit pusing.
"Ya ampun!" Rasanya Ardit ingin pulang saja ke rumahnya sekarang juga.
"Jadi malam nanti kalian tidur di kamar ku!" ucap Rey lagi.
"Tidak!" jawab mereka serempak.
"Aku bisa mati kedinginan, Rey!" Ardit memang tidak suka kamar yang terlalu dingin seperti kamar Rey. Ia tidak akan bisa tidur dengan suasana kamar sedingin itu.
Alasan yang sama juga di rasakan Ken. Selain dingin tentu saja tidak akan bisa tidur di tempat yang bukan kamarnya terlebih dengan Ardit yang suka mendengkur, "Tidur di kamarku saja, Rey!" ujar Ken,
"Nah! Kalau kamar Ken, oke! Aku masih bisa tidur." Jawab Ardit cepat.
"Kalian pikir kalau kalian tidur di kamarku, aku bisa tidur? Kau..." Rey menunjuk ke arah Ardit. "Tidurmu ngorok dan kau..." Kini Rey menunjuk ke arah Ken yang sedang menyetir.
"Kau juga sama! Tidurmu tidak bisa diam. Malam ini kalian berdua tidur di bawah aku yang di kasur!"
"Kenapa kita tidak kabur saja? Kita kan, sedang di luar ini! Kabur ke hotel." Ide Ardit begitu cemerlang kan? Tetapi masalahnya tidak sesederhana itu.
"Kau pikir bisa lolos dari Mama dan Papaku, kalau kita kabur? Yang ada bisa lama aku tidak bisa bertemu dengan Nirmala dan itu semua karena kalian!" tegas Rey.
"Benar juga..." Ardit melemah ia pun pasrah saja harus kembali menjalani hukuman setelah sekian lama. Astaga, padahal mereka bukan lagi bocah masih saja berlaku itu hukuman tidur bertiga di salah satu kamar. Mana kamar Rey lagi. Dan selalu seperti itu.
"Ini semua karena Mamanya kuda nil!" Ardit kembali tantrum. Masalahnya membayangkan tidur di kamar Rey yang super dingin itu ia seperti tidak sanggup.
"Bisa-bisanya dia muncul di sana...seharusnya dia itu di tengah laut, eh? Kuda nil hidupnya dimana sih?" Ardit masih terus membeo, menggaruk kepalanya karena merasa ada yang salah dengan ucapannya. Tiba-tiba saja ia lupa habitat kehidupan kuda nil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomanceIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
