Selamat membaca.
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.
∆∆∆
William Reynandarma Atmajaya bersiul saat Rey meletakkan satu botol minuman di atas meja kecil di sampingnya. Ia tersenyum mengingat bagaimana tadi siang membujuk Rey untuk membelikan yang jenis Baileys Irish Cream tetapi yang di dapat justru barang lain yang tidak pernah di sangkanya. The Macallan 18 YO Double Cask.
"Aku merasa tersanjung kau mau membelikan barang itu dengan harga yang fantastis." Ujar William pada Rey yang sudah duduk di bangku kosong, tidak jauh darinya.
"Sebelum membeli kau melihat harga, kan?"
"Hmmm."
"Dan kau tetap membelinya?"
"Keberuntungan akan selalu berpihak padaku dan uang bisa di cari kembali,"
"Benar. Tetapi, kau tidak menyogok orang lain untuk memberikan apa yang kau inginkan, kan?"
"Itu bukan keinginanku, aku hanya menjalankan perintah saja dan jangan lupa nomor rekeningku masih sama," Rey terkekeh melihat raut wajah Papanya berubah sedikit kesal.
"Kau memeras Papamu?"
"Tidak! Aku sedang menjalankan bisnis."
"Bisnis macam apa, di suruh membelikan minuman jenis yang aku mau, kau justru membelinya jenis lain dan meminta kompensasinya padaku. Dasar sinting!"
William memang senang minum untuk sesekali itupun harus jenis yang sedikit beraroma dan sedikit manis. Tapi bukan maniak yang memburu berbagai jenis minuman dengan harga fantastis karena ia takut dengan Yura jika berani mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli sebotol minuman alkohol. Tetepi melihat jenis minuman yang ada di depan matanya ini ia merasa harus meminumnya kapan-kapan karena selain mahal, sayang sekali jika tidak mencicipinya meskipun rasanya berbeda dengan yang biasanya ia beli.
"Aku akan membukanya setelah kau dan Nirmala menikah nanti atau setelah cucuku lahir ke dunia." Ucapnya dengan penuh percaya diri sekali bahwa Nirmala bisa mengandung anak Rey nantinya. Di masa depan.
Rey terkekeh pelan, menikah saja belum sudah memikirkan cucunya akan lahir ke dunia saja dan yang paling penting bukankah membujuk Nirmala agar mau menikah dengannya dulu untuk itu ia jelas membutuhkan bantuan kedua orang tuanya ini, untuk menyakinkan Nirmala agar mau di ajak menikah.
"Untuk saat ini kita minum kopi dulu. Kopi buatan Mama mu lebih nikmat dari apapun, begitu pas sekali takarannya,"
"Itu karena aku tidak ingin mendapatkan omelan dari Mamamu itu" bisik William lagi ia jelas ingin menikmati kopinya saja dulu saat ini.
Lagi lagi Rey terkekeh. Lagi pula Rey juga bukan tipe orang yang suka minum apalagi sampai mabuk, ia manusia biasa yang kadang membutukan sesuatu yang lebih dari sekedar kopi yaitu alkohol, hanya akan minum paling banyak satu gelas berukuran kecil. Minum hanya sekedar menikmati sensasi rasa dan aromanya saja.
Mereka berdua menikmati kopinya dalam diam. Menikmati keheningan yang begitu syahdu di bawah langit yang gelap. Malam yang semakin larut takkan pernah benar-benar hening bagi mereka yang di landa kerinduan, meskipun nyatanya Rey sesekali menatap Papanya dan sesekali meliriknya melalui ekor mata tetap saja ia seola enggan berbicara karena pikirannya tertuju pada Nirmala.
"Kau sudah siap menikahi Nirmala?"Tanya William memecahkan keheningan.
"Aku benar-benar telah siap sekarang. Aku harus siap untuknya. Untuk segala hal yang akan terjadi di masa depan," jawab Rey mantap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomanceIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
