12. Makan Malam.

68 48 8
                                        


Selamat membaca
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.

∆∆∆

Nirmala turun dari mobil Rey dengan gaun yang simple berwarna merah maroon berlengan balon. Rambutnya di ikat sebagian di bagian belakang. Kakinya mengenakan flat shoes warna hitam serta riasan tipis menghiasi wajahnya. Tadi dalam perjalanan, Nirmala sempat berdebat alot karena memaksa Rey untuk pulang terlebih dahulu. Pada akhirnya Rey justru menghentikan mobilnya di salah satu butik dan membelikan pakaian yang sekarang sudah ada di tubuh Nirmala.

"Nirmala!" seru Mama Rey langsung terdengar begitu Nirmala memasuki kediaman Mama Rey, Yura namanya. Mereka masuk ke sebuah hunian yang mewah dan besar, sama seperti rumah bersama yang di tempati Nirmala bersama dengan teman-temannya.

"Ayo masuk." Ajaknya. Sementara Rey mengekor di belakang. Lihatlah bahkan, Yura mengabaikan Rey dan lebih memilih menyambut Nirmala daripada dirinya.

Yura menggiring Nirmala ke ruang keluarga yang memang di sana sudah ada Papa Rey, William namanya. Laki-laki paruh baya itu pun sama, menyambut hangat Nirmala sementara Rey hanya di abaikan. Seharusnya tadi dirinya tidak ikut saja.

"Papa merindukanmu, Nirmala...kau baik-baik saja?" ucapnya seraya mengelus pucuk kepala Nirmala.

Mendapat perlakuan semanis itu membuat Nirmala sedikit terkejut. Walau memang sejak dulu dekat tetapi baru kali ini Papa Rey berperilaku semanis ini. Jika yang lain menyebut Yura sebagai Bunda sementara William Om, maka hanya Nirmala yang menyebut orang tua Rey dengan sebutan Mama dan Papa, sejak dulu.

"Ya, aku baik-baik saja." jawab Nirmala dengan kikuk.

"Ayo. Langsung ke ruang makan saja."Ajaknya.

Astaga. Jadi Rey benar-benar di abaikan sekarang? Ia benar-benar tidak di anggap ada oleh mereka.

"Mama dengar, kau sekarang jadi koki ya, di rumah makan Korea?" tanya Yura dengan senyuman manisnya, tangannya lincah menata beberapa lauk pauk di meja makan.

"Iya Ma,"

"Bagus. Dong! Mama jadi punya partner masak nanti." Yura terkekeh. Sementara Nirmala mengernyit.

"Bagimana tinggal di rumah bersama milik Rey? Betah tinggal di sana?" William ikut menimpali. Ia tahu bahwa anak laki-lakinya itu sedikit gila juga membangun rumah bersama untuk teman-temannya, terutama Nirmala demi membuat Nirmala selalu berada di sisinya.

"Ya. Aku menyukainya, rumahnya bagus." Jawab Nirmala seraya mengambil piringnya dan meletakan beberapa lauk pauk di piringnya sendiri.

William tersenyum tipis, "Baguslah. Kalau kau menyukainya...Papa ikut senang kau tinggal bersama mereka "

"Semenjak kau tinggal di sana, sekarang kau jarang main dan menginap di sini. Papa sedikit kesepian karena kau tidak ada..."

Rey mendengus. Ia makan dalam diam. Sekarang ia bahkan meyakini jika mereka bertiga bahkan tidak memperdulikan keberadaanya. Ia menjadi satu-satunya manusia yang tidak bersuara sejak kedatangannya sampai di meja makan pun mereka bertiga tidak ada yang mengajaknya berbicara. Ya Tuhan.

Nirmala menyunggingkan senyumannya, "Hari ini aku akan menginap di sini," ujar Nirmala, ia menatap Rey yang sejak tadi hanya diam saja. Entah menikmati makanannya atau memang bersikap kalem di depan orang tuanya? William melihat Nirmala yang memang sedang melihat ke arah Rey.

"Bagaimana pekerjaan di kantor, Rey." kini William beralih pada Rey yang sejak tadi diam saja. Bahkan Mama Rey juga ikut menatapnya setelah tadi mengabaikan keberadaannya.

"Papa bicara padaku?" tanya Rey sinis.

"Tidak! Aku berbicara pada hantu!" sahutnya sedikit kesal. "Tentu saja Papa bicara padamu, Rey."

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang