Jangan lupa vote dan komennya ygy
Selamat membaca.
∆∆∆
Rey memang sedang merajuk namun ia tidak bisa lama-lama melakukannya. Ketika Ken dan Ardit keluar untuk membeli sesuatu Rey dengan sengaja menjatuhkan dirinya di paha Nirmala. Ia tiduran dengan menjadikan paha Nirmala sebagai bantal. Matanya terbuka lebar dan menatap wajah cantik Nirmala dari bawah.
"Apa?" ucap Nirmala seraya menunduk untuk tahu ekpresi Rey.
"Kenapa kau mengajak mereka? Aku hanya ingin ditemani olehmu saja, kenapa kau membawa mereka?" pertanyaan Rey sejak semalam sampai saat ini masih sama karena memang ia kesal sekali dengan Nirmala.
"Padahal setelah selesai pekerjaan aku ingin berduaan denganmu, kita jalan-jalan kemanapun kau mau. Hanya kau dan aku."
"Kau sudah menyetujuinya Rey. Aku ikut, mereka juga ikut." Dan jawaban Nirmala selalu sama.
"Iya kenapa?" ucap Rey dengan bibir mengerucut
"Biar seru!"
"Jadi, kau menganggap pergi denganku tidak seru?"
"Bukan begitu..."
"Lalu apa?"
"Entah mengapa aku hanya perlu membawa mereka."
"Tanpa alasan?"
"Hmm."
"Setelah dari Bali ayo kita menikah. Bahkan jika tidak ada pertemuan penting kita akan menikah hari ini juga."
Nirmala mendengus, entah sudah berapa kali Rey mengucapkan ayo menikah. Ayo menikah Nirmala sampai bosan di dengar. Bahkan sehari mungkin Rey bisa mengatakan Lima kali setiap kali berpapasan atau mengirim pesan singkat dan ujungnya sudah pasti mengatakan hal itu. Jika di hitung dalam seminggu sudah menjadi puluhan kali.
"Ayo menikah Nirmala?" Rey terkekeh gemas ketika melihat raut wajah Nirmala sudah berubah kesal karena ungkapan ayo menikah selalu ia ucapakan. Tiada kata hari tanpa ayo menikah. Bukan karena Rey hanya bercanda saja ia jelas serius mengajak Nirmala menikah namun belum waktunya saja dan belum tepat saja untuk melangsungkan pernikahan. Terlebih sudah beberapa hari ini kantornya masih membutuhkan tenaga dan pikirannya belum lagi di Kampus tempatnya mengajar. Rey sedikit belum bisa menentukan tanggal pernikahannya dengan Nirmala begitupun dengan Yura, Mamanya. Masih mencari momen yang pas juga.
"Bagaimana kalau kita menikah setelah aku membangun kafe, hm?" ucap Nirmala seraya menyentuh pipi dingin Rey. Ia ingin marah namun melihat Rey terkekeh seperti itu membuat Nirmala jadi gemas.
"Tidak bisa!" tegas Rey.
"Aku tidak bisa lebih lama lagi Nirmala. Setelah pulang dari Bali kita menikah. Titik." ucapnya telak.
"Aku sudah meminta Mama mengurus semuanya. Dan sepertinya Mama mengurusnya bersama dengan Papa juga Bibi ku," Ujar Rey lagi kali ini ia memejamkan matanya karena tangan Nirmala beralih mengelus kepalanya. Terasa lembut dan nyaman.
"Kau selalu bisa membuatku tidak bisa menolak permintaanmu." Gumam Nirmala.
Rey mendengus dengan mata terpejam. "Sudah tahu begitu, kenapa kau selalu punya alasan untuk menolak dan menhindar?"
"Mungkin seru juga berdebat denganmu?" Nirmala tersenyum ketika tiba-tiba Rey membuka matanya dan Nirmala menunduk memperhatikan manik mata Rey yang semakin lama di tatap semakin membuat Nirmala melayang, terlebih bibirnya yang sedikit terbuka itu mengingatkannya kembali bagaimana Rey menciumnya saat di rumah sakit. Astaga. Apa yang Nirmala pikirkan. Detik itu juga ia mengangkat kepalanya lalu menghindari tatapan Rey. Jantungnya semakin berdebar tidak karuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomanceIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
