8. Yoga?

71 52 3
                                        

Selamat membaca
Vote and coment nya ygy.

∆∆∆



"Maksud mu, restoran ini?" Rey berhasil menghentikan mobilnya dan menelisik sekitar ia tidak pernah menduganya bahwa yang di maksud Dea adalah restoran ini. Astaga. Apa namanya? Rey melihat ke papan nama besar di atas sana, memang, jenis tulisannya berbentuk lekukan bahasa Korea yang tidak Rey mengerti sama sekali, jadi saat Dea menyebut nama restorannya Rey hanya mengangguk setuju saja tanpa berpikir hal yang macam-macam karena ia tahunya restoran Korea jadi saat Dea menyebutkan nama restorannya, Rey tidak tahu dan tidak peduli juga.

"Iya, Rey. Aku dapat rekomendasi dari teman-temanku kalau restoran ini selalu ramai dan makananya enak-enak." Ujar Dea seraya membuka sabuk pengamannya dan beranjak keluar.

"Kita pindah."

"Kenapa? Aku sedang ingin makanan di sini, Rey."

"Aku tidak suka masakan Korea."

"Di dalam pasti ada banyak makanan pilihan, tidak hanya masakan Korea saja. Ayo kita turun, kita sudah terlanjut berada di sini."

Sungguh ia tidak ingin membuat Nirmala berpikir mempermainkan perasaannya, baru saja dirinya mengatakan bahwa ia menyukainya tidak mungkin ia duduk makan berdua dengan Dea di dalam sana. Jika Nirmala melihatnya bagaimana? Rey sungguh tidak ingin Nirmala salah paham. Mekipun Rey tahu, bagian pekerjaan Nirmala yaitu koki, di dapur.

Sungguh dilema yang membuatnya pusing. Jika ia tidak menuruti Dea, perempuan itu akan terus menerornya sepanjang waktu, sudah menurutinya justru malah makan siang di restoran dimana Nirmala bekerja. Dan ketika masuk ke dalam___.

Rey sampai tidak berani tengok kanan dan kiri karena takut pandangannya akan bertemu dengan Nirmala meskipun ia tahu Nirmala di tugaskan di dapur tetapi tetap saja ia merasa was-was akan bersitatap dengannya. Sejujurnya Rey menjadi gelisah sendirian ia sudah meminta bantuan pada Ken untuk ikut makan siang di sini namun laki-laki itu belum juga menampakan batang hidungnya.

"Silahkan di lihat-lihat dulu ya, menunya. Nanti tinggal panggil kami lagi. Permisi." Suara pramusaji laki-laki dewasa.

"Kau mau pesan apa Rey? Benar kan, aku bilang di sini tidak hanya masakan korea saja, banyak makanan lainnya."

Rey hanya mengangguk dalam diam dan terus menunduk menatap menu makanan di buku menu. Memang banyak, tidak hanya masakan Korea saja ada masakan khas Indonesia namun tidak sebanyak menu masakan Korea, tetapi cukup.

"Mbak!" panggil Dea pada pramusaji dan dalam hitungan langkah kaki, pramusaji sudah berdiri di samping meja, tepatnya di sebelah Dea.

"Mau pesan apa, Kak?"

Mampus!

Parfum dan suara ini sangat familiar di hidung dan telinganya. Nirmala. Belum apa-apa jantung Rey sudah hampir copot saja. Astaga. Sejak tadi Dea terus mengoceh memberitahu menu-menu apa saja yang ia pesan lalu pandangan Dea kini beralih pada Rey yang sejak tadi diam saja.

"Kau hanya pesan itu saja, Rey?" ucap Dea pada Rey dan sialnya Rey mengangkat kepalanya dan pandangannya bertemu dengan pandangan Nirmala yang kini tengah tersenyum. Sial. Jantung Rey semakin tidak karuan.

"Ya." Jawab Rey singkat tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun pada Nirmala yang kini sedang membacakan menu yang di pesan agar tidak terjadi kesalahan nantinya. Mulutnya terus bergerak-gerak lucu dan yang paling penting Nirmala tampak sangat profesional sekali.

"Rey!" seru Ken dari kejauhan bersamaan dengan itu Rey kembali menemui kelegaan dan senyum cerah menghiasi wajahnya.

"Aku pesan...seperti biasa ya, mbak cantik!" bisik Ken. Sejenak Nirmala mengernyit tidak mengerti apa yang di pesan Ken, pasalnya ia baru beberapa hari berada di sini dan tidak tahu makanan seperti biasa yang mana yang di pesan.

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang