24. Attraction

10 6 3
                                        

Selamat membaca.
Jangan lupa vote dan komennya
Ygy.

∆∆∆




"Hai?"

Nirmala mengenyit begitu ada dua orang yang menghadangnya di trotoar tidak jauh dari tempatnya bekerja. Karena merasa tidak mengenal mereka Nirmala hanya tersenyum tipis untuk menghilangkan rasa gugupnya dan Nirmala melanjutkan langkah kakinya yang tinggal beberapa langkah lagi sampai pada tempat kerjanya. Namun lagi lagi langkahnya di hadang, di lihat dari pakaiannya mereka bukan preman jalanan. Atau bisa saja preman yang menyamar? Ah, Nirmala sedikit takut.

"Kenapa?" Nirmala mencoba memberanikan diri untuk bertanya,

"Kau tidak mengenalku?" tanya laki-laki muda yang lebih tinggi di antara yang lainnya, si tinggi yang tampan.

"Apa kalian mengenalku?" Nirmala justru mengajukan pertanyaannya,

"Ya." jawab mereka serempak dan berhasil membuat Nirmala menautkan kedua alisnya, merasa heran dan bingung. Siapa mereka?

"Kau Nirmala, kan?" ucap laki-laki yang ada di sebelah si paling tinggi.

"Ya. Siapa kalian?"

"Apakah itu penting?"

"Tentu saja itu penting. Masalahnya aku tidak mengenal kalian,"

"Tapi kami mengenalmu, bisakah kau ikut dengan kami sebentar?" suara si paling tinggi yan tampan. Ia bahkan tersenyum____ramah?

Sialan! Pikir Nirmala. Ia menelisik sekitar dengan ekor matanya, ramai memang, bahkan mobil berlalu lalang di jalan serta pejalan kaki di trotoar juga ke sana kemari melewati Nirmala dengan dua orang asing di depannya. Bayangkan saja, siapa yang mengira mereka adalah preman dan orang jahat karena pakaian mereka terlihat rapi dan berkelas, seperti orang yang bekerja di kantoran. Jadi, orang yang melihatnya seolah-olah Nirmala terlihat sedang mengobrol ramah dengan teman terlebih tadi Nirmala sempat tersenyum.

"Ikut saja dengan tenang, kami tidak akan menyakitimu." Bisik si paling tinggi penuh dengan penakanan.

Mendengar bisikan penuh penekanan itu seketika membuat tubuh Nirmala meremang, ia ingin berteriak namun lidahnya mendadak keluh, ia terkejut ketika laki-laki itu menyodorkan pisau ke arah pinggangnya dan memepet Nirmala agar ia mengikutinya dan menurut saja, ia merasa ketakutan padahal di tempat yang ramai.

Alhasil Nirmala menurut saja ikut dengan mereka memasuki mobil dan sampai di dalam mobil tiba-tiba saja sesuatu mengarah pada mulutnya, lalu tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap gulita. Nirmala tidak bisa merasakan apapun lagi, kecuali satu hal ia sempat merasakan sesuatu melingkar-lingkar di tangannya. Hanya itu saja.

***

Rey menunggu Nirmala di rumah sakit Emily ia duduk di sofa empuk yang tidak jauh dari brankar tempat Nirmala berbaring. Rey bersama dengan laptop dan berkas-berkasnya di sampingnya. Kacamatanya bertengger dan hampir melorot sampai ke hidung, sesekali ia melirik ke arah Nirmala kalau kalau Nirmala akan terbangun.

"Hei." Suara lembut Rey ketika melihat Nirmala terbangun dari tidur panjangnya, ia melupakan pekerjaannya dan menghampiri Nirmala. Lebih tepatnya karena pengaruh obat tidur dan bius yang masih tertinggal.

"Kenapa aku di sini? Sejak kapan aku di sini?" ucap Nirmala bingung. Seingatnya ia sedang berjalan ke tempat bekerja lalu ia di hadang oleh dua orang asing yang tidak ia kenal___.

"Jadi..." Nirmala menatap Rey yang kini sudah duduk disisi brangkar dan menatapnya dengan intens.

"Ya. Kau pingsan karena bius dan tidur selama itu karena obat tidur." Ujar Rey dengan lembut Rey menangkup wajah Nirmala dengan ke dua tangannya.

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang