Selamat membaca, akhirnya sudah sampai juga pada bab ini.
Jangan lupa vote dan komennya ygy.
∆∆∆
"Dea!" Daniel melempar tas kerjanya dan menghampiri Dea yang bringsut di kamar mandi di lihat dari jauh sepertinya keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Daniel semakin panik ketika melihat cairan kental bekas muntahan di mana-mana di kamar mandi bahkan kakinya saat ini sedang menginjaknya namun ia tidaka merasa jijik.
"Hei. Ada apa? Kau sakit?" tanyanya penuh dengan kepanikan tangannya yang besar itu memijit pelan leher Dea dan sesekali mengelus punggungnya dengan lembut dan penuh perhatian. Begitu Dea mendongak menatapnya, jantung Daniel berdebar. Rasa-rasanya ia seperti melihat Nirmala dengan wajah memelas seperti itu. Cantik.
"Ayo, aku bantu berdiri. Aku akan membersihkan rambutmu yang terkena muntah dan setelah itu aku harus membereskan kamar mandi..." ucap Daniel kemudian ia menutun Dea ke wastafel dan membersihkan muntahan yang sedikit menempel pada rambutnya serta di wajahnya.
"Kau tunggu di kamar. Nanti kita pergi ke dokter." Ujarnya setelah selesai membasuh wajah dan rambut panjang Dea.
Bukanya segera menyingkir Dea justru masih bergeming, entah mengapa perasaannya hancur lebur padahal saat bertemu dengan Nirmala ia merasa baik-baik saja. Ia baru menyadari moodnya kembali buruk ketika ia masuk ke dalam mobil dan berpisah dengan Nirmala. Entah mengapa ia menjadi gila seperti ini hanya karena Nirmala pergi meninggalkannya dan ia pulang ke rumah. Astaga! Nirmala bagai candu baru untuknya dan ini sangat menyiksa.
"Hei hei hei, kenapa malah menangis. Aku berbicara pelan, tidak membentakmu, Dea. Jangan membuat aku merasa bersalah..."
"A-aku hamil..." suara Dea sambil menangis, air matanya benar-benar membanjiri pipinya.
Ia memang masih belum memberitahu siapapun bahawa dirinya tengah berbadan dua setelah dua minggu lalu ia mengeceknya, orang pertama yang di beritahu adalah Emily dan Nirmala, karena ia merasa aneh dan menggebu-gebu. Merasa rindu, kesal, kecewa pada Nirmala. Itu bukan cinta yang seperti itu, tetapi kata dokter ia sedang menghalami kehamilan atau bisa di bilang sebuah sindrom kehamilan dan anehnya sebuah ketertarikannya hanya pada Nirmala bukan pada Daniel, suaminya. Pantas saja ketika ia melihat foto-foto Nirmala ia merasa senang dan bahagia tetapi juga rindu, semakin berjalannya hari ia semakin merasa menginginkan Nirmala berada di sisinya, sebagai temannya.
Daniel sedikit terkejut mendengarnya, tetapi juga lega di saat bersamaan tetapi mengapa Dea menangis? Apakah ia menyesal? Karena mengandung benihnya? "Lalu kenapa kau menangis? Sejak kapan kau munta-muntah seperti ini?" tanyanya Daniel membawa keluar kamar mandi dan mendudukannya di tepi ranjang.
"A-aku..."
"Apa kau tidak menginginkannya, hm?" Ucap Daniel dengan lembut. Dea menatap wajah Daniel yang teduh.
"A-aku ingin Nirmala." Ucap Dea ragu-ragu matanya berkaca-kaca dan detik berikutnya air matanya sudah menetes membasahi pipinya kembali.
Sesekali ia menggeleng karena permintaannya terdengar aneh, ia berusaha untuk tidak teralalu menginginkan hal itu tetapi ia merasa tersiksa sekali karena harus munta-muntah. Menginginkan Nirmala? Ya ampun! Apa ia sudah gila. Terlebih ia memintanya pada Daniel yang jelas-jelas mantan kekasihnya. Mengapa ia harus mengalami kehamilan yang seperti ini. Sungguh menyiksanya. Kalau di pikir-pikir, saat semalam ia berdekatan dengan Nirmala anehnya ia tidak merasa mual samasekali dan bisa menikmati makanan dengan baik, ia baru merasa mual saat jauh dari Nirmala, saat dirinya memasuki mobil. Ya Tuhan!
"A-apa? Kau menginginkan Nirmala?" beo Daniel dengan dahi berekrut.
"Daniel...aku mau Nirmala" Dea semakin terisak, hatinya sangat sensitif sekali. Ia benar-benar terisak, menangis karena menginginkan Nirmala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Nirmala (Selesai)
RomanceIni cerita tentang Nirmala yang tinggal di Rumah bersama, milik Rey. Ceria, cantik dan sedikit bar-bar. Di balik sikapnya yang ceria dan selalu berpikir positif ia menyimpan suatu masalahnya yang membuatnya sangat menghindari pernikahan. Ini juga ce...
