3. Perasaan yang sudah terbagi.

127 60 18
                                        

Selamat membaca
Vote and coment nya ygy.

∆∆∆

"Pulang jam berapa hari ini?"

"Bisa sore, bisa juga malam." Jawab Nirmala acuh tak acuh.

"Yang pasti!"

"Aku tidak tahu, Rey..."

"Kau harus tahu kapan kau pulang, Nirmala."

Astaga! Nirmala memutar bola matanya, bosan. Lagi pula jika dirinya pulang malam memangnya kenapa? Tetapi bukan itu yang harus Nirmala tanyakan pada Rey. Ia tahu itu hanya akan membuat dirinya lelah dan menguras energinya saja. Pagi-pagi sudah berdebat saja. Nirmala harus mempertahankan energinya untuk di tempat kerjanya nanti.

"Seharusnya kau menerima tawaranku saat itu, untuk kerja bersama denganku. Aku bisa menempatkan kau jadi sekretaris atau...kau tidak perlu bekerja saja."

"Aku tidak mau, Rey. Lagi pula aku juga mengajukan permintaan, kan? Aku bekerja bersama denganmu tetapi aku mau tinggal sendirian di tempat kost-kostan tapi kau memilih opsi kedua."

"Ya sudah! Sekarang kita sudah tinggal bersama, kan, jadi jangan cerewet kenapa sih! Jam kerja ku tidak menentu, aku bekerja di restoran bukan di kantor."

"Pindah saja ya?"

"Aku tidak mau membuat kesepakatan dua kali, Rey."

Lamunan Rey seketika buyar ketika pundaknya di tepuk seseorang dan ada bisikan bahwa rapat akan segera di mulai. Sebenarnya hari ini adalah jadwal Rey untuk mengajar di kampus, ia terpaksa menggeser jadwalnya menjadi siang karena pagi ini Rey harus datang ke kantor untuk menghandle masalah yang sedang terjadi di kantor.

Pekerjaannya menjadi double seperti ini karena awalnya memang Rey bekerja sebagai Dosen tetapi karena sang Papa memaksanya untuk bergabung dan memimpin perusahaan, alhasil Rey menjalani kedua peran tersebut. Sebagai dosen lalu sebagai CEO di perusahaan Milik sang Papa yang bergerak dalam bidang kontruksi, industri serta properti Papanya sudah pensiun sejak lama. Rey masih belum bisa melepaskan pekerjaannya sebagai dosen di kampus, untuk itu setelah meeting selesai Rey bergegas ke kampus untuk mengajar.

Cklek!

"Selamat siang semuanya." Sapa Rey ramah seperti biasanya.

"Selamat siang, Pak..." balas seluruh mahasiswa dengan penuh semangat apalagi yang mengajar dosennya seperti Rey. Sudah tampan. Mapan. Berkharisma. Paket komplit, dambaan setiap wanita. Rey membuka lembaran absen yang berisi nama para mahasiswa yang hadir pada kelas siang ini.

"Oke, saya akan mengabsen kalian. Sepertinya ada pendatang baru ya?" Rey tersenyum tipis dan sesi absensi berjalan dengan riuh karena Rey sedikit memberikan candaan nya dengan tujuan agar kelas siang ini semakin menciptakan semangat mahasiswanya agar tidak mengantuk dan benar saja kelasnya benar-benar mendadak ramai dari biasanya maklum Rey baru sekali ini mengadakan kelas siang.

"Jadi, kalian lebih suka kelas pagi atau siang?" ucap Rey tiba-tiba membuat atensi kelas mendadak riuh kembali mereka semua saling melempar pandangannya seolah meminta pendapat pada satu sama lain.

"Sebenarnya kami suka dua-duanya kok Pak, yang penting yang mengajar tetap Pak Rey!" seru seorang gadis di tengah-tengah tempat duduk sambil tersenyum manis dan ucapannya langsung mendapat siulan dan berbagai candaan yang lain baik mahasiswa perempuan maupun mahasiswa laki-laki seolah semuanya setuju dengan apa yang di katakan gadis itu.

Rey tersenyum. "Baiklah. Berarti tidak ada jawaban pasti, ya, jadi saya bisa kapan saja mengajar. Baik pagi maupun siang." Dan semua mahasiswa tampak setuju dan Rey sudah tidak mempermasalahkannya lagi ia pun segera memulai materinya.

Dear Nirmala (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang